Beranda Berita Premiun Ketika Santri di Kabupaten Serang Mengenal Cinta dan Berakhir Kandas

Ketika Santri di Kabupaten Serang Mengenal Cinta dan Berakhir Kandas

Ilustrasi - (Foto AntaraNews.com)

KAB. SERANG – Matahari belum sepenuhnya muncul di langit Kragilan saat jasad seorang remaja ditemukan tersangkut di antara tumpukan sampah di aliran sungai irigasi, Kamis pagi, 31 Juli 2025. Rohmat, warga sekitar yang tengah berjalan di tepian sungai Kampung Petung, Desa Sentul, Kabupaten Serang menyangka langkah kakinya terhenti karena sebuah tubuh yang diam, pucat, dan tak bernyawa.

Remaja itu adalah TB, 18 tahun, santri sebuah pondok pesantren di Kecamatan Kragilan, Kabupaten Serang. Asal mula kisahnya bukan dari kejahatan atau penganiayaan, melainkan dari hati yang terluka, cinta yang kandas, dan upaya pelarian yang berujung kematian.

Pelarian dari Luka Hati

TB bukan anak nakal. Ia dikenal tenang, patuh, dan cukup aktif dalam kegiatan pondok. Tapi seperti remaja lainnya, hatinya juga mengenal jatuh cinta — dan patah hati.

Menurut keterangan teman sekamarnya, malam sebelum kematiannya, TB tampak murung. Sekitar pukul 02.00 dini hari, ia mengambil belasan butir pil Antimo — obat yang biasanya digunakan untuk mengatasi mabuk perjalanan. Kepada teman kamarnya, ia berkata bahwa kepalanya sedang penuh. Ia ingin menenangkan hati. Kabarnya, hubungannya dengan seorang gadis sedang berada di ujung.

“Biar tenang aja,” kata TB, seperti ditirukan temannya, kepada polisi.

Tapi ketenangan yang ia cari tak kunjung datang. Justru yang hadir adalah efek mabuk obat: tubuh limbung, ucapan melantur, langkah gontai.

Sekitar pukul 04.30 dini hari, TB berjalan keluar dari asrama. Tubuhnya sempoyongan, kata saksi mata. Beberapa santri lain mengira ia hendak mencari udara segar. Tak ada yang menduga, itu adalah langkah terakhirnya.

Arus Sungai yang Menenggelamkan

Tak jauh dari asrama pondok, mengalir sebuah sungai irigasi. Di atasnya ada jembatan kecil yang biasa dilalui warga dan santri. Di situlah dugaan peristiwa tragis itu terjadi.

Baca Juga :  Banten Bersih Minta Pemkot Serang Transparan Soal Anggaran Bantuan Sembako

Menurut Kasatreskrim Polres Serang, AKP Andi Kurniady ES, TB kemungkinan kehilangan keseimbangan saat menyusuri jembatan. Tubuh yang lemah dan mabuk tak mampu menjaga pijakan. Ia terjatuh, terbawa arus, dan hanyut sejauh tiga kilometer sebelum tubuhnya terperangkap di tumpukan sampah sungai.

Tak ada tanda-tanda kekerasan, tak ada jejak kriminalitas. Hanya luka kesedihan dan satu kotak pil yang jadi saksi.

Pihak keluarga TB, yang tinggal di Desa Pulo Panjang, Kecamatan Pulo Ampel, Kabupaten Serang, menerima kepergian anaknya sebagai musibah. Mereka menolak autopsi dan memilih segera memakamkan putra mereka.

“Setelah ada pernyataan tertulis dari keluarga, jasad kami serahkan,” ujar AKP Andi, didampingi Kapolsek Kragilan Kompol Entang Cahyadi, Jumat, 1 Agustus.

Pemakaman TB berlangsung sederhana, namun sarat duka. Di antara pelayat yang datang, tak sedikit yang masih tak percaya bahwa TB, santri yang ceria dan penuh semangat, memilih jalan sunyi untuk mengakhiri resah hatinya.

Catatan Tentang Luka yang Tak Terlihat

Kasus TB mungkin akan segera hilang dari tajuk berita. Namun di balik peristiwanya, menganga luka lain yang lebih dalam: kesehatan mental remaja yang sering kali terabaikan, terlebih di lingkungan yang keras menuntut kesalehan tanpa ruang curhat.

TB tidak sendirian. Di banyak pondok, sekolah, bahkan rumah-rumah biasa, ada anak-anak muda yang menyimpan pil pahit di bawah senyumnya. Yang tertawa di siang hari, menangis diam-diam di malamnya.

Karena itu, kisah TB bukan hanya berita kehilangan. Ia juga peringatan: bahwa cinta bisa tumbuh di hati remaja, dan patah hatinya pun bisa begitu dalam. Dan ketika mereka merasa tak ada tempat untuk berbagi, bisa jadi sebotol Antimo terlihat lebih menjanjikan ketenangan daripada pelukan atau percakapan.

Baca Juga :  Berniat Unjuk Rasa, 60 Siswa di Serang Diamankan Polisi

TB telah pergi. Tapi semoga pesannya tinggal — bahwa luka hati adalah nyata, dan perhatian kecil mungkin bisa menyelamatkan nyawa.

Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin