Beranda Budaya Ketika 2.500 Golok Ciomas Jalani Ritual Pengulasan Godam Denok

Ketika 2.500 Golok Ciomas Jalani Ritual Pengulasan Godam Denok

Ritual pengukasa Golok Ciomas di Padepokan Godam Denok, Kampung Cihujan, Desa Lebak, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang. (Istimewa)

KAB. SERANG — Denting besi berpadu dengan hentakan jurus pencak silat di Kampung Cihujan, Desa Lebak, Kecamatan Ciomas, Kabupaten Serang, Selasa (25/8/2026). Ribuan orang datang membawa satu benda yang mereka jaga lintas generasi Golok Ciomas.

Lebih dari 2.500 golok dari berbagai daerah berkumpul di Padepokan Godam Denok. Pemiliknya datang dari Ciomas, berbagai daerah di Banten, hingga Lampung, Palembang, Garut, Karawang, Kendal, Kalimantan, dan Jawa Barat.

Mereka datang bukan sekadar membawa senjata tradisional. Mereka datang untuk menjalani ritual Pengulasan Golok Ciomas, tradisi yang terus hidup selama tujuh generasi.

Setiap 12 Maulid atau 12 Rabiul Awal, para pemegang Golok Ciomas mendatangi padepokan itu. Mereka menunggu giliran agar Ki Duhari, pewaris ketujuh Godam Denok, memulas golok mereka dengan godam yang menjadi bagian penting dalam sejarah Golok Ciomas.

Bagi sebagian pemegang golok, ritual itu memiliki makna lebih dari sekadar tradisi. Mereka mengenal istilah pemulasan tujuh Maulid. Golok yang menjalani ritual itu selama tujuh kali berturut-turut diyakini mencapai tahap paripurna.

Ki Duhari mengatakan tradisi tersebut memiliki jadwal yang tidak berubah.

“Setiap tahun rutin, setiap tanggal 12 Maulid, ini sudah pakemnya,” kata Ki Duhari.

Hingga waktu zuhur, sekitar 1.100 golok sudah menjalani proses pengulasan. Jumlah itu terus bertambah hingga ritual selesai. Setiap tahun, sekitar 2.500 Golok Ciomas masuk dalam ritual tersebut.

“Dari mana saja, ada yang dari Ciomas, ada juga yang dari luar pulau seperti Lampung hingga Palembang,” tegas pria berusia 54 tahun itu.

Tak semua pemilik golok bisa datang langsung ke Ciomas. Sebagian memilih mengirimkan golok mereka melalui jasa pengiriman. Dari luar daerah, golok-golok itu tetap menuju satu tempat: Padepokan Godam Denok.

Baca Juga :  Dualisme IPSI Kabupaten Serang, DPRD Desak Tuntas Sebelum Porprov 2026

Di bulan Maulid, aktivitas di padepokan juga semakin padat. Selain mengulas golok lama, Ki Duhari juga membuat Golok Ciomas baru sejak 1 Maulid hingga 30 Maulid.

Proses pembuatannya memiliki ciri khas tersendiri. Ki Duhari menggunakan Godam Denok sebagai penanda sekaligus bagian dari tradisi pembuatan Golok Ciomas. Ia juga memilih material khusus, mulai dari besi sulangkar, besi inti, besi baca, hingga besi biasa.

“Ada hal khusus, kita tempa dengan menggunakan Godam Denok. Ini seperti stempelnya untuk Golok Ciomas,” katanya.

Namun, hari pengulasan bukan hanya tentang golok dan godam. Arena di sekitar padepokan juga berubah menjadi ruang pertemuan para pendekar. Berbagai peguron pencak silat naik ke panggung dan memperlihatkan jurus-jurus mereka.

Bagi masyarakat Ciomas, golok dan pencak silat memiliki ikatan yang sulit dipisahkan.

Ketua Padepokan Godam Denok Bahroji mengatakan pihaknya terus menjaga tradisi tersebut agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Ia ingin generasi berikutnya memahami makna dan filosofi di balik Godam Denok serta Golok Ciomas.

“Kita terus lakukan upaya pelestarian secara masif dan melakukan pembenahan agar makna dan filosofi budaya ini bisa jadi filosofi kita dalam bermasyarakat dan bernegara,” ujarnya.

Sebelum ritual pengulasan dimulai, para pewaris tradisi lebih dulu berziarah ke makam leluhur Ki Buyut Cengkuk. Mereka kemudian melanjutkan rangkaian kegiatan dengan Marhaba sebelum memasuki inti ritual.

Setelah itu, Godam Denok kembali bekerja. Satu per satu Golok Ciomas datang ke hadapan pewarisnya untuk menjalani pengulasan.

“Selain itu kita juga melakukan pementasan seni sebagai upaya memberikan apresiasi terhadap peguron, karena golok dan peguron itu satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,” tegas Bahroji.

Di tengah derasnya perubahan zaman, ribuan Golok Ciomas yang datang dari berbagai penjuru menunjukkan satu hal: tradisi tujuh generasi itu masih bertahan.

Baca Juga :  Gubernur Banten: Warga Baduy Inspirasi Dalam Menjaga Kelestarian Alam dan Adat

Setiap denting Godam Denok seolah kembali mengingatkan bahwa Golok Ciomas bukan hanya ikon Banten. Di balik bilah besinya, tersimpan sejarah, kepercayaan, seni, dan tanggung jawab untuk menjaga warisan leluhur agar tidak hilang.

Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah