Beranda Peristiwa Kemarau Hantam Kasemen, Sumur Mengering dan Air Berubah Asin

Kemarau Hantam Kasemen, Sumur Mengering dan Air Berubah Asin

Petugas BPBD Kota Serang menyalurkan air bersih di Terumbu, Kecamatan Kasemen. (Istimewa)

SERANG – Musim kemarau kembali menghantam Kota Serang. Warga Kampung Babadan, Kelurahan Terumbu, Kecamatan Kasemen, kini kesulitan memenuhi kebutuhan air bersih setelah sumur-sumur mengering dan air tanah berubah menjadi asin.

Kondisi itu memaksa warga bergantung pada distribusi air bersih dari BPBD Kota Serang.

Kepala BPBD Kota Serang, Diat Hermawan mengatakan, pihaknya terus menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah terdampak. Pada Sabtu (1/8/2026), BPBD mengirim dua tangki air dengan kapasitas masing-masing 5.000 liter.

“Hari ini kami mengirim dua tangki air. Distribusi akan terus berjalan sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Diat.

BPBD mencatat dua kelurahan mulai terdampak kekeringan, yakni Kelurahan Bendung dan Kelurahan Terumbu. Di Kelurahan Bendung terdapat lima hingga enam titik krisis air bersih, sedangkan di Terumbu baru satu titik yang mengajukan bantuan.

Menurut Diat, krisis air di wilayah Kasemen bukan persoalan baru. Setiap musim kemarau, warga menghadapi kondisi serupa akibat menurunnya debit saluran irigasi serta karakteristik air tanah yang cenderung asin.

“Sebagian besar warga tidak memiliki sumur dengan air layak konsumsi karena air tanah di kawasan ini asin. Selama ini mereka mengandalkan air permukaan dari saluran irigasi, tetapi sekarang debitnya juga terus menurun,” ujarnya.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD menggandeng PT Sahu Bahtera Samudra Sejahtera (SBS) melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Perusahaan menyediakan pasokan air bersih, sedangkan BPBD menangani distribusi langsung ke masyarakat.

Diat memastikan stok air bersih masih mencukupi dan siap disalurkan selama warga membutuhkan.

“Selama ada permintaan, kami akan melayani. Warga bisa mengajukan melalui RT, RW, lurah, langsung ke BPBD, WhatsApp, media sosial, maupun layanan darurat 112. Seluruh layanan ini gratis,” tegasnya.

Baca Juga :  Jalanan di Cilegon Tak Aman, Seorang Gadis Dijambret di Jalan Bojonegara

Di Kampung Babadan, bantuan air bersih menjadi penyelamat bagi ratusan warga. Mutaesiroh, salah seorang warga, mengaku sumurnya sudah tidak lagi menghasilkan air layak pakai.

“Sumur saya sudah kering, air yang tersisa juga asin. Tidak bisa dipakai untuk memasak atau diminum. Di sini hampir tidak ada sumber air lain, kami hanya menunggu hujan,” katanya.

Ia mengaku, warga harus menunggu sekitar lima hari sejak mengajukan permohonan hingga bantuan air bersih tiba.

“Alhamdulillah sekarang bantuan datang. Air ini sangat membantu untuk kebutuhan memasak dan minum,” ujarnya.

Meski distribusi air bersih terus berlangsung, warga berharap pemerintah tidak hanya mengandalkan bantuan tangki setiap musim kemarau.

Mereka mendesak pembangunan jaringan air bersih permanen agar krisis yang berulang setiap tahun tidak terus menghantui masyarakat pesisir Kasemen.

Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd