
LEBAK – Di tengah derasnya arus informasi, tantangan yang menghadang generasi muda tidak lagi berhenti di lingkungan sekitar. Narkoba, kekerasan, tawuran, perilaku menyimpang hingga pengaruh buruk ruang digital bisa masuk ke kehidupan anak kapan saja.
Di titik itulah keluarga memegang peran penting. Rumah menjadi tempat pertama anak belajar mengenal nilai, batasan, kasih sayang, sekaligus tanggung jawab.
Ketua TP PKK Kabupaten Lebak, Belia Asyidik mengatakan keluarga harus menjadi benteng utama untuk melindungi generasi muda dari degradasi moral dan berbagai ancaman sosial.
“Generasi muda Lebak memiliki potensi luar biasa. Namun, potensi ini harus dijaga dengan benteng karakter dan akhlak yang kuat,” kata Belia kepada wartawan, Senin (10/8/2026).
Menurut Belia, perkembangan teknologi dan globalisasi membuat tantangan remaja semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat bisa membawa manfaat, tetapi juga membuka pintu bagi berbagai pengaruh negatif.
“Ancaman seperti penyalahgunaan narkoba, perilaku menyimpang, hingga aksi kekerasan atau tawuran bukan hanya merusak masa depan individu, tetapi juga menghancurkan masa depan daerah kita,” ungkapnya.
Belia melihat remaja membutuhkan lingkungan yang aman untuk tumbuh. Ketika rumah, sekolah dan lingkungan sosial tidak mampu memberikan ruang tersebut, anak akan lebih mudah mencari tempat lain yang belum tentu memberikan pengaruh positif.
“Peran aktif keluarga, lingkungan sekolah dan ruang kreatif sangat krusial untuk membimbing mereka ke arah yang lebih positif,” ujarnya.
Karena itu, Belia mendorong penguatan edukasi bagi orang tua dan remaja. Seminar serta diskusi yang menghadirkan berbagai tokoh dan ahli, menurutnya, dapat membuka pemahaman yang lebih luas mengenai persoalan anak dan remaja.
Perlindungan anak, kata Belia, juga harus menyentuh persoalan eksploitasi, kekerasan berbasis gender hingga pendampingan psikologis. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem perlindungan agar anak tidak menghadapi persoalan tersebut seorang diri.
Namun, keluarga tidak bisa bekerja sendirian. Orang tua, sekolah, pemerintah dan masyarakat harus membangun sistem perlindungan bersama.
Belia menilai pola pengasuhan di rumah menjadi fondasi paling awal dalam membentuk karakter anak.
“Keluarga adalah sekolah pertama. Jika di rumah anak tidak mendapatkan kasih sayang, bimbingan dan pengawasan, maka mereka akan mencari tempat lain. Oleh karena itu, di sinilah potensi munculnya penyimpangan,” terangnya.
Selain memperkuat pengawasan, Belia mendorong pemerintah dan masyarakat menyediakan ruang bagi remaja untuk menyalurkan energi serta bakat mereka.
Seni, olahraga, keterampilan dan kegiatan pengembangan mental dapat menjadi pilihan agar anak tidak terjerumus dalam aktivitas negatif.
“Kita harus alihkan energi mereka ke hal-hal yang produktif. Ada kegiatan seni, olahraga, latihan keterampilan dan penguatan mental. Ini bagian dari ikhtiar kita dalam menjaga generasi emas di Kabupaten Lebak,” ujarnya.
Belia berharap penguatan keluarga berjalan beriringan dengan sistem perlindungan anak yang menyeluruh. Dengan begitu, generasi muda Lebak tidak hanya tumbuh sehat, tetapi juga memiliki karakter kuat, berakhlak dan mampu menghadapi persaingan global.
“Mudah-mudahan dengan digalakkannya penguatan peran keluarga, anak-anak kita bisa tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan siap bersaing di masa mendatang,” harapnya.
Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd