PANDEGLANG – Kekeringan di Kabupaten Pandeglang, Banten, kian mengkhawatirkan. Sebanyak 22.892 warga dari 39 desa di 14 kecamatan terdampak krisis air bersih akibat kemarau berkepanjangan yang membuat persediaan air warga terus menipis.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang mencatat, ribuan warga mulai kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Kondisi tersebut terutama berdampak pada pemenuhan kebutuhan konsumsi dan sanitasi masyarakat.
Kepala BPBDPK Pandeglang, Riza Ahmad Kurniawan, mengatakan berdasarkan data per 13 Agustus 2026, terdapat 6.191 kepala keluarga (KK) atau 22.892 jiwa yang terdampak kekeringan.
“14 kecamatan, desanya 39, jumlah KK-nya 6.191, jumlah jiwanya 22.892,” kata Riza, Sabtu (15/8/2026).
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah daerah terus melakukan distribusi air bersih ke sejumlah wilayah yang mengalami krisis. Hingga 13 Agustus 2026, total air yang telah disalurkan BPBDPK mencapai 292.000 liter untuk memenuhi kebutuhan warga terdampak.
Riza menyebut jumlah wilayah yang terdampak kekeringan masih berpotensi bertambah. Kemarau yang berkepanjangan membuat sumber-sumber air warga semakin berkurang sehingga BPBDPK terus memantau perkembangan kondisi di lapangan.
“Potensinya bisa bertambah,” ujarnya.
Menurut Riza, kekeringan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Menurunnya ketersediaan air membuat warga harus menghemat penggunaan air, khususnya untuk kebutuhan pokok dan sanitasi.
“Jelas dampaknya, persediaan air semakin berkurang, terutama untuk konsumsi dan sanitasi,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi meluasnya dampak kekeringan, BPBDPK melakukan penanganan kedaruratan melalui pengiriman air bersih ke daerah terdampak. Pemerintah juga terus mengkaji perkembangan situasi untuk menentukan langkah penanganan berikutnya.
Saat ini, Kabupaten Pandeglang berada dalam status siaga darurat bencana.
Riza mengimbau masyarakat agar tidak boros menggunakan air selama kondisi kekeringan berlangsung. Warga yang masih memiliki persediaan air diminta memprioritaskan penggunaannya untuk kebutuhan yang paling mendesak.
“Ketersediaan air semakin berkurang. Mohon untuk bijak mempergunakan air kalau memang masih ada tersedia. Prioritaskan penggunaan air,” pungkasnya.
Penulis: Mg-Madani Prasetia
Editor: Usman Temposo
