SERANG — Kekeringan meteorologis di Banten tahun ini mengarah pada kondisi lebih parah dibandingkan 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menetapkan enam kabupaten/kota di Banten dalam Level Awas pada Dasarian II September 2026.
Enam wilayah itu yakni Kota Serang, Kabupaten Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Lebak, dan Kabupaten Pandeglang. Sementara Kota Tangerang Selatan masuk Level Siaga dan Kota Cilegon berada pada Level Waspada.
Peringatan tersebut muncul saat Banten memasuki puncak musim kemarau yang berlangsung pada Juli hingga September. Pada saat yang sama, fenomena El Nino tahun ini juga menunjukkan intensitas lebih kuat dibandingkan tahun sebelumnya.
Plt Kepala BBMKG Wilayah II, Ana Oktavia Setiowati mengatakan, kondisi tersebut membuat curah hujan berpotensi turun lebih jauh dan memperbesar risiko kekeringan di Banten.
“Kondisi kekeringan meteorologis pada 2026 diprediksi lebih kering dibandingkan tahun 2025. Salah satu faktor yang membedakan adalah pengaruh El Niño pada 2026 yang lebih kuat,” kata Ana kepada BantenNews.co.id melalui WhatsApp, Senin (14/9/2026).
Menurut Ana, kombinasi puncak musim kemarau dan El Niño memperkecil peluang hujan. Kondisi itu memperpanjang defisit curah hujan dan meningkatkan risiko kekeringan di berbagai wilayah.
BMKG belum melihat tanda kuat musim hujan segera datang. Hingga Dasarian I September, seluruh wilayah Banten masih mengalami musim kemarau. Peralihan menuju kondisi lebih basah baru diperkirakan mulai terlihat pada November 2026 dengan curah hujan kategori menengah sekitar 150-300 milimeter per bulan.
Artinya, ancaman kekurangan air masih akan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
Dampak kekeringan juga mengancam sektor pertanian. Penurunan debit sungai dapat mengurangi pasokan air, sedangkan lahan pertanian yang bergantung pada hujan menghadapi risiko gangguan produksi hingga gagal panen.
“Dengan demikian, masyarakat dan pemerintah daerah masih perlu mengantisipasi potensi keterbatasan air hingga memasuki periode transisi menuju musim hujan,” ujar Ana.
Kondisi lahan yang semakin kering juga meningkatkan risiko kebakaran. BMKG meminta masyarakat tidak membakar lahan maupun sampah secara terbuka.
Ancaman lain muncul di wilayah pesisir selatan. Angin kencang berpotensi meningkatkan gelombang di perairan Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak.
Nelayan diminta meningkatkan kewaspadaan dan menunda aktivitas melaut saat kondisi angin memburuk. Masyarakat pesisir juga perlu mengamankan perahu dan peralatan yang berada di sekitar pantai.
“Kondisi angin kencang juga dapat menyebabkan gelombang pecah yang lebih kuat di sepanjang garis pantai,” kata Ana.
BMKG menentukan Level Awas berdasarkan sejumlah indikator, antara lain Hari Tanpa Hujan (HTH), prakiraan probabilitas curah hujan dasarian, dan Indeks Curah Hujan Terstandardisasi.
Salah satu indikator Level Awas menunjukkan periode Hari Tanpa Hujan minimal 61 hari. Indikator lain mencakup prakiraan curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen dan atau nilai Indeks Curah Hujan Terstandardisasi paling tinggi minus 2,00.
Sementara itu, Kota Tangerang Selatan (Tangsel) masuk Level Siaga karena indikator kekeringannya lebih kuat dibandingkan Kota Cilegon, tetapi belum mencapai ambang Level Awas.
“Hal ini menunjukkan bahwa indikator kekeringan di Kota Tangerang Selatan telah menunjukkan kondisi yang lebih kering dibandingkan Kota Cilegon, namun belum mencapai ambang yang ditetapkan untuk Level Awas,” jelas Ana.
Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
