SERANG – Pemerintah Provinsi Banten memastikan penjualan hewan kurban menjelang Hari Raya Idul Adha 2026 tetap stabil meski kebutuhan meningkat dan pasokan dari peternak lokal belum mampu memenuhi permintaan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten, M Nasir, mengatakan tradisi berkurban di tengah masyarakat masih cukup kuat. Karena itu, jumlah pedagang maupun titik penjualan hewan kurban diperkirakan tidak jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau saya melihatnya nggak menurun ya, karena kan kurban ini bagian dari tradisi masyarakat yang mereka menyisihkan uang untuk berkurban setahun sekali. Tahun kemarin saja kalau saya tidak salah ada sekitar 2.000 titik penjual hewan kurban di Banten, tahun ini juga sekitar segitu,” ujar Nasir, Senin (18/5/2026).
Menurut Nasir, kondisi lapak penjualan hewan kurban yang belum terlalu ramai masih tergolong wajar karena distribusi hewan dari luar daerah masih berlangsung menjelang Idul Adha.
“Kalau kita bicaranya se-Banten ya banyak, nggak berkurang. Ya karena memang pasokan hewan kurban kita juga banyak didatangkan dari luar. Dan kita optimistis tidak ada penurunan pembelian hewan kurban,” katanya.
Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Banten memproyeksikan kebutuhan hewan kurban pada Idul Adha tahun ini mencapai 63.171 ekor. Jumlah itu meningkat dibanding tahun lalu yang berada di kisaran 61 ribu ekor.
Namun, ketersediaan hewan kurban dari peternak lokal baru mencapai sekitar 11.969 ekor atau sekitar 19 persen dari total kebutuhan. Dengan kondisi tersebut, Banten diperkirakan masih mengalami defisit sekitar 51.202 ekor hewan kurban.
“Artinya Banten masih defisit sekitar 51.202 ekor hewan kurban,” ujar Nasir.
Ia mengatakan sebagian besar kebutuhan hewan kurban di Banten masih dipasok dari luar daerah, terutama dari wilayah Pulau Jawa, Lampung, dan Nusa Tenggara Barat (NTB).
“Sebagian besar memang kita datangkan dari luar daerah. Ada banyak dari lokal juga, tapi perputarannya cepat, jadi kita juga datangkan dari luar,” katanya.
Nasir merinci kebutuhan sapi kurban tahun ini diperkirakan mencapai 14.409 ekor, sementara stok lokal baru sekitar 1.946 ekor. Untuk kambing, kebutuhan diproyeksikan mencapai 26.022 ekor dengan ketersediaan sekitar 6.122 ekor. Adapun kebutuhan domba mencapai 22.224 ekor dengan stok sekitar 3.249 ekor.
Sementara itu, kerbau menjadi satu-satunya jenis hewan kurban yang dinilai surplus. Ketersediaannya mencapai sekitar 652 ekor dari kebutuhan 516 ekor.
Selain meningkatnya kebutuhan hewan kurban, momentum Idul Adha tahun ini juga diperkirakan mendorong perputaran ekonomi yang cukup besar di sektor perdagangan ternak. Dinas Pertanian dan Peternakan Banten memperkirakan total transaksi penjualan hewan kurban dapat mencapai Rp414,2 miliar.
“Untuk sapi potong saja diperkirakan mencapai Rp259,3 miliar dengan asumsi harga sekitar Rp18 juta per ekor. Apalagi domba atau kambing yang super itu harganya bisa Rp4 sampai Rp5 juta per ekor,” kata Nasir.
Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian Banten, Ari Mardiana, mengatakan pihaknya telah menurunkan ratusan petugas untuk memeriksa kesehatan hewan kurban di lapak-lapak penjualan.
“Mereka sudah mulai melakukan pemeriksaan kesehatan hewan kurban yang ada di lapak-lapak penjualan,” ujarnya.
Menurut Ari, terdapat beberapa penyakit yang menjadi perhatian pengawasan, yakni Penyakit Mulut dan Kuku (PMK), Lumpy Skin Disease (LSD), antraks, dan brucellosis.
Meski demikian, ia memastikan kondisi PMK di Banten masih terkendali. Sepanjang 2025, kata dia, tidak ditemukan kasus PMK di wilayah tersebut.
“Pada tahun 2025 lalu tidak ditemukan kasus PMK di Banten atau nol kasus. Harapannya di tahun 2026 juga masih sama,” pungkasnya.
Penulis: Audindra Kusuma
Editor: Usman Temposo
