Beranda Sosial Kado Ramadan dari Gang Sempit Pandeglang: Saat Gubuk Reyot Mulai Menjemput Layak

Kado Ramadan dari Gang Sempit Pandeglang: Saat Gubuk Reyot Mulai Menjemput Layak

Wakil Gubernur Banten A. Dimyati Natakusumah menyetahkan bantuan bedah rumah kepada warga Pandeglang. (Istimewa)

PANDEGLANG – Di usianya yang ke-74, Rahman tak pernah menyangka rumahnya di RT 03/01 Kelurahan Juhut, Kecamatan Karang Tanjung, akan kedatangan tamu tak biasa pada Jumat (6/3/2026) siang.

Di tengah terik Ramadan, kakek renta ini menerima kabar baik yang sudah lama dinantinya, rumah semi permanen miliknya bakal segera bersalin rupa.

Rahman adalah satu dari empat warga Pandeglang yang hari itu mendapat bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Pemerintah Provinsi Banten. Bukan sekadar seremoni penyerahan simbolis, bantuan senilai Rp10 juta per orang ini diberikan setelah kondisi bangunan dipastikan benar-benar memprihatinkan.

Wakil Gubernur Banten, Achmad Dimyati Natakusumah, yang meninjau langsung ke lokasi, sempat menyusuri gang-gang sempit untuk melihat detail kondisi hunian warga.

Ia menegaskan, bantuan ini harus tepat sasaran bagi mereka yang memang menjadikan bangunan tersebut sebagai tempat bernaung utama, bukan sekadar gudang atau bangunan kosong.

“Bantuan ini harus digunakan untuk memperbaiki rumah agar menjadi tempat tinggal yang sehat dan layak bagi penghuninya,” ujar Dimyati di sela-sela tinjauannya.

Selain Rahman, asa serupa juga dirasakan oleh Ati Fadiah (60), Idrus (40), dan Yati (4) di Kampung Pasekon, Kelurahan Pandeglang. Kondisi rumah mereka yang sudah lapuk dimakan usia kini masuk dalam daftar prioritas perbaikan.

Namun, renovasi ini bukan hanya soal urusan anggaran pemerintah. Ada pesan kuat tentang semangat “guyub” yang dititipkan. Dimyati mengajak tetangga sekitar, serta perangkat RT dan kelurahan untuk turun tangan membantu proses pengerjaan secara gotong royong agar renovasi bisa tuntas lebih cepat.

“Ramadan adalah bulan kepedulian. Peran masyarakat sangat penting; gotong royong akan membuat beban warga yang kesulitan jadi lebih ringan,” tambahnya.

Baca Juga :  Jalan Penghubung Antar Kecamatan Rusak Parah

Suasana kunjungan yang semula formal berubah menjadi hangat dan cair saat rombongan melintas di depan sebuah musala di Kelurahan Juhut. Di sana, Idris Afandi (49) sedang sibuk menyiapkan dagangan cincau buatannya sendiri.

Tanpa basa-basi, dagangan Idris yang biasanya laku sekitar 100 bungkus sehari itu langsung diborong habis. Menariknya, pesanan tersebut tidak dibawa pulang oleh rombongan pejabat, melainkan diminta untuk dibagikan secara gratis kepada warga sekitar sebagai menu berbuka puasa.

“Senang sekali, alhamdulillah dagangan habis diborong,” kata Idris sambil sigap membungkus cincau dengan gula merah cair dalam kemasan plastik Rp5 ribuan.

Sore itu di Pandeglang, Ramadan tidak hanya dirasakan lewat rasa haus dan lapar, tapi juga lewat gerakan nyata yang menyentuh atap-atap rumah warga yang hampir roboh. Sebuah langkah kecil untuk memastikan bahwa di hari raya nanti, mereka tak lagi cemas saat hujan turun membasahi lantai rumah mereka.

Tim Redaksi