Beranda Nasional Jokowi Desak ASEAN Buat Rencana Aksi Pemulangan Pengungsi Rohingya

Jokowi Desak ASEAN Buat Rencana Aksi Pemulangan Pengungsi Rohingya

242
0
Joko Widodo - foto istimewa WartaEkonomi.com

JAKARTA – Presiden Jokowi kembali mengangkat isu Rakhine State dalam pertemuan retreat KTT ke-34 ASEAN di Hotel Athenee, Bangkok, Thailand, Minggu (23/6/2019), terutama kaitannya dengan rencana aksi pemulangan pengungsi atau repatriasi.

“Saya ingin bicara sebagai satu keluarga, berterus terang, untuk kebaikan kita semua,” kata Presiden memulai pandangannya dalam pertemuan retreat, dikutip dari keterangan tertulis Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, Minggu (23/6/2019).

Presiden Jokowi mengingatkan bahwa Pemimpin ASEAN telah memberikan mandat ke AHA Centre untuk melakukan ‘Needs Assessment’ guna membantu Myanmar mempersiapkan repatriasi yang sukarela, aman, dan bermartabat.

Mandat tersebut sudah dijalankan melalui pelaksanaan Preliminary Needs Assessment (PNA) tim ke Rakhine State. PNA sudah menyampaikan laporan dari pelaksanaan mandatnya.

Dengan keberadaan laporan PNA itu, Presiden Joko Widodo menyampaikan, pertama, tindak lanjut rekomendasi laporan PNA.

“Saya berharap bahwa High Level Committee dapat segera membuat Plan of Action dengan time frame yang jelas,” kata Presiden Jokowi.

Lebih jauh Presiden mengatakan, “Tindak lanjut rekomendasi akan membantu terciptanya kemajuan dalam persiapan repatriasi.”

Kedua, isu keamanan menjadi kunci bagi pelaksanaan repatriasi. “Kita semua prihatin terhadap situasi keamanan di Rakhine State yang belum membaik,” ujar Jokowi.

Indonesia berharap Pemerintah dan aparat di Myanmar dapat terus secara maksimal mengupayakan pemulihan keamanan. Tanpa jaminan keamanan, katanya, tidak akan mungkin terjadi repatriasi.

Presiden Jokowi juga menyarankan ASEAN dapat membantu membangun komunikasi dengan Bangladesh dan pengungsi di Cox’s Bazar. “Tentunya dengan tetap menghormati proses komunikasi bilateral Myanmar-Bangladesh,” kata Presiden Jokowi.

Lebih lanjut Presiden menyampaikan bahwa komunikasi yang baik antara Myanmar, Bangladesh, dan para pengungsi menjadi bagian penting bagi kesuksesan persiapan repatriasi.

Rakhine State merupakan salah satu negara bagian di Myanmar. Wilayah ini didiami oleh mayoritas etnis Rohingya yang mengalami penindasan dari aparat bersenjata dan etnis mayoritas di Myanmar.

Akibat penindasan ini, pengungsi Rohingya kabur ke sejumlah negara. Yang terbanyak ada di Bangladesh. Pemulangan ke Myanmar pun diupayakan. (red)

Sumber : cnnindonesia.com