Beranda Pemerintahan JLU, Pengangguran dan Mimpi Investasi Padat Karya di Cilegon

JLU, Pengangguran dan Mimpi Investasi Padat Karya di Cilegon

ilustrasi pembebasan lahan, pengangguran dan industri padat karya. (doc.net)

CILEGON – Fenomena pertumbuhan industri yang membanjiri Kota Cilegon dari tahun ke tahun sudah berlangsung sejak lama. Kendati dalam keberadaannya didominasi oleh industri padat modal, namun hal itu tak menyangsikan publik yang akhirnya menyebut daerah dengan luas wilayah 175,5 kilometer itu sebagai Kota Industri.

Keberadaan PT Krakatau Steel di awal tahun 1970 sempat pula menjadikan nama Kota Cilegon dikenal pula dengan sebutan sebagai Kota Baja. Namun seiring dengan perjalanan waktu, banyaknya pemodal industri kimia yang menanamkan sahamnya semakin memantapkan Kota Cilegon turut dikenal sebagai daerah yang dipenuhi berbagai jenis industri hulu.

“Industri hulu seperti baja dan kimia ini kan sudah eksisting sejak kita masih bergabung dengan Kabupaten Serang dulu. Jadi hulunya ada di Cilegon, hilirnya yaitu padat karyanya ada di Cikande Serang. Nah sekarang kan kita sudah berpisah, kita eksisting mempertahankan itu (industri hulu) tetapi kita akan ciptakan (industri hilir) supaya ngga lari ke Cikande. Cukup ada di sini saja duitnya, tenaga kerja bisa terserap di hilir,” ungkap Plt Walikota Cilegon, Edi Ariadi, Jumat (14/12/2018) kemarin.

Sudah bukan rahasia umum, serbuan industri padat modal selama ini belum mampu memangkas secara signifikan angka pengangguran terbuka yang grafiknya masih belum memuaskan. Yang terakhir adalah PT Lotte Chemical Indonesia dengan total investasi mencapai Rp53 triliun ditanamkan perusahaan asal Korea Selatan itu pada kota di ujung Pulau Jawa ini.

Pada tahun ini angka pengangguran tersebut diklaim Pemkot Cilegon sudah berada di kisaran 9,33 persen, mengalami penurunan dari tahun sebelumnya 11,88 persen. Rencana daerah untuk membuka akses Jalan Lingkar Utara (JLU), dikatakan Edi pada akhirnya nanti akan turut mampu menekan laju angka tersebut.

“Ya kan makanya kita akan buka JLU itu, nanti di sana saya buka (kesempatan investasi) untuk padat karya. Jadi hulunya di industri besar (padat modal), hilirnya di JLU. Di situ nanti ada lokasi kurang lebih 50 hektare atau lebih kita buka untuk padat karya,” katanya.

Entah kapan serbuan investasi padat karya dan terselenggaranya operasional industri hilir akan merambah Kota Cilegon. Terlebih, bila melihat progress pembangunan jalan sepanjang 12,5 kilometer itu pada dua tahun terakhir ini pun masih berkutat pada persoalan pembebasan lahan warga yang tak kunjung usai. Bahkan dana pembebasan lahan itu pun digadang-gadang akan kembali menjadi SiLPA pada akhir tahun ini, karena tidak mampu terserap oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang, seperti pada tahun sebelumnya.

“Ya makanya kita juga jangan pesimis dong, namanya juga pekerjaan jangka menengah, lima tahun. Sekarang saja kan, progress JLU dan sebagainya itu bukan karena kitanya ngga bekerja sama sekali. Lihat saja, ada peraturan baru, ada kebijakan baru,” tandasnya. (dev/red)