PANDEGLANG – Putusnya jembatan penghubung Kampung Cingenge membuat akses menuju SDN Padahayu 2, Kecamatan Cikedal, Kabupaten Pandeglang, semakin sulit. Kondisi itu memaksa tujuh siswa menyeberangi sungai setiap hari agar tetap bisa mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Kepala SDN Padahayu 2, Tedy Rustandi mengatakan, tujuh siswa tersebut mayoritas duduk di bangku kelas IV. Mereka berangkat dan pulang sekolah melalui aliran sungai karena tidak lagi memiliki akses jembatan.
“Dulu orang tua masih menyekolahkan anaknya ke sini karena masih ada jembatan bambu. Tapi sejak jembatan putus, hampir tidak ada lagi siswa baru dari Kampung Cingenge,” kata Tedy, Jumat (24/7/2026).
Menurut Tedy, putusnya jembatan tidak hanya memutus akses warga, tetapi juga menggerus jumlah peserta didik. Banyak orang tua memilih tidak mendaftarkan anaknya ke SDN Padahayu 2 karena khawatir dengan risiko perjalanan.
“Dulu murid di sini banyak. Setelah Jembatan Cingenge putus, pendaftar berkurang. Kalau memutar jalannya bisa sekitar lima kilometer, sedangkan kalau menyeberang sungai orang tua khawatir, apalagi saat air meluap,” ujarnya.
Pihak sekolah terus mendatangi warga untuk mengajak mereka kembali menyekolahkan anak di SDN Padahayu 2. Namun, upaya itu belum membuahkan hasil karena kekhawatiran orang tua masih tinggi.
“Saya sering jemput bola, tetapi orang tua tetap khawatir karena harus menyeberang sungai,” katanya.
Bagi tujuh siswa yang masih bertahan, menyeberangi sungai sudah menjadi bagian dari rutinitas. Mereka tetap berangkat ke sekolah selama arus sungai masih memungkinkan dilalui.
Namun, saat hujan deras mengguyur kawasan tersebut, debit air meningkat dan siswa memilih tidak berangkat ke sekolah demi keselamatan.
“Sekarang memang masih ada yang berangkat, tetapi kalau sungainya meluap mereka tidak masuk sekolah dan hanya diberi tugas oleh gurunya,” ujar Tedy.
Putusnya jembatan membuat pilihan warga semakin terbatas. Anak-anak harus menempuh jalan memutar sejauh sekitar lima kilometer atau mempertaruhkan keselamatan dengan menyeberangi sungai.
Sebelumnya, kisah salah seorang siswa bernama Nisa menjadi perhatian. Selama dua tahun terakhir, sejak duduk di kelas II hingga kini kelas IV, Nisa tetap menyeberangi sungai setiap hari untuk berangkat sekolah.
Jembatan yang dahulu menghubungkan Kampung Cingenge dengan SDN Padahayu 2 sudah lama putus. Warga sempat membangun jembatan bambu, tetapi derasnya arus sungai kembali menghanyutkan jembatan tersebut.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
