KAB. SERANG – Setiap kali roda sepeda motor atau mobil melintas, papan-papan kayu itu bergetar dan mengeluarkan bunyi “glagebrug… glagebrug…”. Bukan dentingan nada, melainkan suara kayu lapuk yang saling berbenturan.
Warga Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang, sudah puluhan tahun akrab dengan suara itu. Mereka lalu memberi nama sederhana yaitu “Jembatan Piano”.
Nama itu terdengar unik, tetapi menyimpan cerita panjang tentang infrastruktur yang dibiarkan menua selama sekitar 25 tahun.
Jembatan sepanjang sekitar 55 meter itu bukan sekadar penghubung Desa Mekarsari dengan wilayah seberang di Kabupaten Tangerang.
Setiap hari, petani melintasinya sambil membawa hasil panen, buruh pabrik menggunakannya untuk berangkat bekerja, pedagang mengangkut barang dagangan, hingga anak-anak menyeberang menuju sekolah.
Di balik aktivitas itu, tersimpan rasa cemas yang tak pernah benar-benar hilang.
Papan-papan kayu yang mulai lapuk berlubang dan renggang beberapa kali menyebabkan pengendara terjatuh. Mobil yang melintas pun kerap tersangkut di sela-sela papan.
Namun, warga tidak memiliki pilihan lain. Jembatan itu tetap menjadi satu-satunya akses tercepat yang menghubungkan dua kabupaten.
Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Serang sekaligus Ketua Fraksi Gerindra, Muhibin menyebut kondisi tersebut sebagai potret nyata kebutuhan dasar masyarakat yang terlalu lama menunggu perhatian.
“Hari ini kami bersama Paguron Banten meninjau Jembatan Mekarsari atau yang dikenal masyarakat sebagai Jembatan Piano. Disebut Jembatan Piano karena saat dilalui kendaraan, papan-papannya berbunyi seperti irama piano,” kata Muhibin, Selasa (21/7/2026).
Menurut Muhibin, cerita yang didengarnya dari warga selalu sama. Setiap pergantian pemimpin membawa harapan baru, tetapi jembatan itu tetap berdiri dalam kondisi yang sama.
“Berdasarkan informasi dari pemerintah desa dan masyarakat, sekitar 25 tahun jembatan ini tidak pernah dibangun ulang. Hari ini penantian panjang itu akhirnya terjawab,” ujarnya.
Bagi Muhibin, Jembatan Piano bukan sekadar proyek konstruksi. Ia menyebut, jembatan itu menjadi penghubung kehidupan masyarakat.
“Jembatan ini bukan hanya menghubungkan wilayah. Jembatan ini menghubungkan kehidupan. Masyarakat membawa hasil bumi, berangkat bekerja ke pabrik, hingga menjalankan aktivitas ekonomi melalui jalur ini setiap hari,” katanya.
Antusiasme warga saat pembangunan dimulai menjadi pemandangan yang menurutnya sulit diabaikan. Tanpa undangan resmi ataupun mobilisasi massa, masyarakat berdatangan ke lokasi hanya untuk menyaksikan alat berat mulai bekerja.
“Warga datang sendiri. Itu bentuk rasa syukur mereka karena harapan selama 25 tahun akhirnya mulai terwujud,” ujarnya.
Pembangunan Jembatan Piano kini masuk dalam Program Bang Andra (Bangun Jalan Desa Sejahtera) milik Pemerintah Provinsi Banten.
Selain jembatan di Carenang, program tersebut juga menyasar pembangunan jembatan di Kecamatan Kibin serta sejumlah ruas jalan di Kecamatan Tirtayasa dan Pontang.
Muhibin menilai, langkah tersebut menjadi upaya mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah di Banten.
“Ketika rakyat membutuhkan infrastruktur, pemerintah harus hadir. Jangan terjebak hanya pada urusan kewenangan. Semua masyarakat Banten berhak mendapatkan akses jalan dan jembatan yang layak,” tegasnya.
Jika tidak ada hambatan, pembangunan Jembatan Piano ditargetkan rampung pada November 2026.
Saat itu tiba, suara “glagebrug” yang selama puluhan tahun menjadi penanda Jembatan Piano kemungkinan akan menghilang.
Yang tersisa bukan lagi bunyi papan kayu yang rapuh, melainkan harapan baru bagi ribuan warga yang setiap hari menggantungkan hidup pada satu jembatan di perbatasan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah
