Beranda Peristiwa Jejak Sejarah di Balik Nama-Nama Kampung Tua Tangerang

Jejak Sejarah di Balik Nama-Nama Kampung Tua Tangerang

Ilustrasi

TANGERANG – Di tengah deretan gedung bertingkat, kawasan industri modern, dan lalu lintas yang tak pernah sepi, Kota Tangerang menyimpan kisah panjang yang masih hidup melalui nama-nama kampung tuanya. Nama-nama tersebut bukan sekadar penanda wilayah, melainkan jejak sejarah yang merekam perjalanan budaya, pertahanan, hingga kehidupan agraris masyarakat masa lampau.

Sejarawan lokal Burhanudin dalam bukunya Asal Muasal Tangerang mengungkapkan bahwa identitas Tangerang terbentuk dari proses panjang akulturasi budaya, aktivitas pertanian, serta dinamika politik yang berlangsung sejak ratusan tahun lalu.

Menurutnya, nama Tangerang sendiri memiliki akar sejarah yang berkaitan dengan konflik dan batas wilayah pada masa Kesultanan Banten dan VOC.

Nama tersebut berasal dari istilah Sunda, yakni tengger atau tangger yang berarti tanda batas, serta kata perang. Pada pertengahan abad ke-17, Pangeran Soegiri mendirikan sebuah tugu pembatas wilayah setinggi lima teng di sebelah barat Sungai Cisadane, tepatnya di kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Gerendeng.

Tugu tersebut berfungsi sebagai penanda batas kedaulatan antara Kesultanan Banten dan VOC yang saat itu terus bersaing memperebutkan pengaruh di wilayah pesisir barat Pulau Jawa.

“Masyarakat awalnya menyebut daerah ini sebagai Tanggeran. Namun setelah Perjanjian 1684, VOC menempatkan pasukan asal Makassar di wilayah ini. Mereka kesulitan melafalkan huruf mati pada akhir kata sehingga menyebutnya menjadi Tangerang. Pelafalan itu kemudian terus digunakan hingga akhirnya resmi menjadi nama administratif pada masa pendudukan Jepang, 27 Desember 1943,” ujar Burhanudin.

Nama Kampung Menyimpan Jejak Alam

Selain asal-usul nama kota, kampung-kampung tua di Tangerang juga menyimpan cerita mengenai kondisi geografis dan kehidupan masyarakat pada masanya.

Wilayah yang diawali dengan kata “Ci”, seperti Cipondoh dan Cibodas, menunjukkan keterkaitan dengan sumber air atau kawasan rawa yang dahulu menjadi penopang kehidupan agraris masyarakat setempat.

Baca Juga :  Nelayan Cimanggu Pandeglang Temukan Mayat Pria Tanpa Identitas

Sementara itu, kampung-kampung yang berada di sepanjang bantaran Sungai Cisadane, seperti Kali Pasir, Babakan, Sukasari, dan Gerendeng, berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi dan perdagangan sejak masa lampau.

Sungai Cisadane menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, menghubungkan berbagai kelompok etnis yang datang dan menetap di kawasan tersebut.

Harmoni Budaya yang Melahirkan Identitas Tangerang

Tangerang juga dikenal sebagai wilayah pertemuan berbagai budaya. Salah satu yang paling menonjol adalah keberadaan komunitas Tionghoa Benteng yang telah hidup berdampingan dengan masyarakat lokal Betawi dan Sunda selama berabad-abad.

Menurut Burhanudin, proses akulturasi itu berlangsung sejak awal abad ke-15 dan berkembang secara harmonis di sejumlah kawasan seperti Sewan dan Mekarsari.

Perpaduan budaya tersebut melahirkan identitas khas yang hingga kini masih menjadi bagian penting dari wajah Tangerang, mulai dari tradisi Barongsai, seni budaya Tionghoa Benteng, hingga perhelatan tahunan Festival Cisadane yang menjadi simbol keberagaman masyarakat kota ini.

“Akulturasi budaya yang harmonis antara masyarakat lokal dengan etnis Tionghoa atau Cina Benteng melahirkan karakter budaya yang unik dan berbeda dari daerah lain,” katanya.

Dari Sawah Menjadi Kota Metropolitan

Pemandangan Tangerang saat ini sangat berbeda dibanding beberapa dekade lalu. Kawasan yang kini dipenuhi pusat perbelanjaan, perumahan modern, dan kawasan industri dulunya merupakan hamparan lahan pertanian dan perkebunan yang luas.

Daerah seperti Karawaci, Cibodas, Poris, hingga Batuceper yang saat ini menjadi pusat aktivitas ekonomi, pada masa lalu berada di luar pusat Kota Tangerang.

Wilayah-wilayah tersebut didominasi perkebunan singkong, karet, serta persawahan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.

Bahkan, kompleks Lembaga Pemasyarakatan (LP) yang kini berada di tengah kepadatan kota dahulu sengaja dibangun di wilayah pinggiran karena dianggap jauh dari pusat kota.

Baca Juga :  Jelang Ramadan, Stasiun Rangkasbitung Dipadati Penumpang

“Pusat Kota Tangerang saat itu hanya membentang dari Jalan Kisamaun hingga Daan Mogot. Kawasan yang sekarang ramai dan padat penduduk masih berupa lahan kosong dan area perkebunan,” ungkap Burhanudin.

Menjaga Ingatan Kota

Di tengah pesatnya pembangunan dan modernisasi, nama-nama kampung tua di Tangerang menjadi pengingat bahwa kota ini dibangun di atas sejarah panjang yang kaya akan keberagaman budaya dan peristiwa penting.

Setiap nama kampung menyimpan cerita tentang sungai, sawah, perdagangan, hingga perjumpaan berbagai etnis yang membentuk identitas Tangerang hari ini.

Bagi warga Tangerang, memahami asal-usul nama kampung bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menjaga memori kolektif kota agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman. Nama-nama itu menjadi saksi bisu perjalanan Tangerang dari wilayah agraris di tepi Cisadane hingga menjelma menjadi salah satu kota metropolitan terbesar di Indonesia.

Tim Redaksi