Beranda Pariwisata Jejak Perkampungan di Banten Lama

Jejak Perkampungan di Banten Lama

Kawasan Masjid Agung Banten Lama. (Foto: Wahyu/Bantennews.co.id)

Melacak Jejak Orang Bali di Kebalen

Matahari pagi sudah terasa terik di Istana Surosowan, Banten Lama. Langit kebiruan menambah cantik pemandangan sisa bangunan peninggalan kesultanan Banten yang dijuluki para pelaut Portugis sebagai Fort Diamant atau “Benteng Berlian”.

Beberapa kendaraan roda dua melintas di atas jalan paving block yang mulai tak rata. Pedagang oleh-oleh terlihat dengan cekatan membereskan dagangan. Menepuk-nepuk wajik dan songkok dengan kain. Debu-debu halus dari lalu lintas kendaraan bus peziarah beterbangan.

Di bagian utara terminal lama Banten tampak bus rombongan peziarah berplat nomor B dan AB baru saja masuk terminal, membawa ratusan peziarah dari luar Banten.

Di arah selatan Istana Surosowan, tepat 100 meter dari terminal Banten yang baru, terdapat gapura kecil dari bambu dan papan cat hijau bertulis “Mushala Darussalam Lingkungan Kebalen”. Gang kecil selebar 1,5 meter mengarahkan pada ibu-ibu yang sedang sibuk memasak air di atas wajan. Lainnya tengah asyik bercengkrama bersama tetangga.

Kampung itu disebut Kampung Kebalen, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Kata “Kebalen” sendiri konon berasal dari kata “Kebalian” atau tempat bagi komunitas orang Bali pada masa Kesultanan Banten di abad ke-17. Salah satu kampung tua di Banten Lama selain Dermayon (komunitas orang Indramayu), kampung Bugis, kampung Pecinan atau Pabean (etnis Tionghoa) dan Kampung Pakojan (komunitas orang-orang Arab, India, Gujarat dan Turki).

Sutihat, 65 tahun mengaku lahir dan besar di Kebalen. Namun ia baru mengetahui jika di perkampungan tersebut pernah dihuni oleh komunitas orang-orang Bali. “Saya lahir di sini. Nggak tahu kalau di sini pernah ada orang Bali,” ujar Sutihat berbincang dengan BantenNews.co.id pertengahan Mei 2022 lalu.

Sutihat.

Dari orangtua, Sutihat mengaku tidak pernah mendapat informasi tersebut. Ia hanya tahu bahwa sang ayah berasal dari Kasemen dan sang ibu berasal dari Cikeusal, Kabupaten Serang.

“Ibu juga nggak tahu kayaknya kalau cerita (Kebalen) soal itu,” ujar Sutihat.

Warga Kebalen sendiri menggunakan bebasan atau bahasa Jawa dialek Banten untuk berkomunikasi sehari-hari. “Cuma kalau dengan anak-anak sekarang sudah pakai Bahasa Indonesia,” ujarnya.

Dari bentuk arsitektur rumah dan bangunan nyaris tidak tersisa jejak orang Bali di Kebalen. Proyek revitalisasi Banten Lama dan pembangunan Terminal Banten tidak saja menggusur perkampungan dan gapura, namun merusak peninggalan cagar budaya seperti nisan dan sebagainya.

Meski dari bahasa dan bentuk arsitektur nyaris tak tersisa, warisan tradisi kuliner pada masyarakat Kebalen bisa jadi salah satu sisa kehadiran orang Bali di Banten. Masyarakat Kebalen lebih memilih daging kerbau dibanding daging sapi untuk masakan hari-hari besar umat Islam. “Kalau ada haulan (peringatan kematian), lebaran kami memilih daging kerbau. Termasuk kurban (Idul Adha) di sini mah kerbau bukan sapi,” ujar Sutihat.

Catatan Claude Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII (2008: 101) menyebutkan orang Bali dan Bugis Makassar memasuki Banten sekira tahun 1678. Dalam catatan yang sama kedua komunitas ini datang setelah orang-orang Melayu dari Sumatera dan orang Jawa dari Mataram.

“Kedua kelompok terakhir ini (Bali dan Bugis) mendaftarkan diri kepada pihak penguasa Banten. Tidak ada keterangan mengenai status, hak dan kewajiban mereka di kota dan kerajaan ini (Banten),” tulis Guillot dalam bukunya.

Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief menyebutkan tradisi menyembelih kerbau bukan sapi tersebut sebantuk penghormatan terhadap komunitas orang Bali di masa Kesultanan Banten. Hal itu sebagai penghormatan kepada penganut Hindu yang menganggap sapi sebagai hewan suci.

“Sampai saat ini diabadikan oleh (sebagian besar) masyarakat Banten (Lama) tidak memotong sapi,” kata Embay.

Embay sendiri menyayangkan hilangnya peninggalan arsitektur dan budaya komunitas masyarakat Bali di Banten Lama. “Tidak mempertimbangkan itu (gapura) rupanya, mereka main gusur aja. Padahal kalau kita ke Banten Lama dulu ada gapura Kampung Kebalen, itu dulu tempat tinggal orang-orang Bali,” kata Embay.

Yadi Ahyadi.

Peneliti Bantenologi Yadi Ahyadi menyebutkan, dari berbagai dokumen sejarah orang-orang Bali di Banten menempati posisi yang cukup istimewa. Hal itu bisa terlihat dari dekatnya pemukiman mereka dengan Istana Surosowan.

“Masyarakat Bali ini terkenal ulet dan rajin. Mereka berperan sebagian sebagai peramu saji dan tentara bayaran di lingkungan Kesultanan,” ujar Yadi.

Lokasi perkampungan yang tak jauh dari Istana Surosowan menurut pria yang akrab disapa Abah Yadi tersebut menandakan eksistensi masyarakat Bali pada saat itu.

Kesultanan Banten sendiri menurut Yadi sangat terbuka dengan para pendatang. Para pendatang dari seluruh Nusantara, Asia dan Eropa mendapat keleluasaan datang berdagang dan bekerja sesuai dengan keahlian masing-masing.

Tidak hanya itu, para pendatang ke Banten juga bisa mengisi posisi penting dalam pemerintahan. Sebut saja dua penasihat Kesultanan dan perancang tata kota yang andal berdarah Tiongkok yakni Kyai Ngabehi Kaytsu dan Kiai Ngabehi Cakra Wardana atau Cakradana.

“Dari sana kemudian ada yang menetap di sini dan beranak-pinak ada juga yang kembali ke daerah asal ketika Banten dihancurkan kolonial,” ujarnya.

 

Dermayon Tempat Petani dari Indramayu

Hamparan sawah luas terbentang. Para petani tengah membalik tanah sawah dengan traktor. Terpisah oleh pematang sawah lain, ibu-ibu tengah nandur atau menanam tangkai padi muda dengan gerakan mundur. Tangan-tangan mereka sangat cekatan sehingga tanaman padi muda yang hijau seperti garis yang rapi.

Sekilas hanya pemandangan biasa di pedesaan Banten. Namun begitu terdengar percakapan antara petani, ada yang khas dari bahasa yang digunakan. Bukan bahasa Jawa dialek Banten, tapi bahasa jawa dialek Indramayu. Mereka berasal dari kampung Dermayon, Desa Pamengkang, Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang.

Bantennews.co.id memasuki kawasan Dermayon. Sebuah gapura kaibon bertulis RT 09 RW 02 Dermayon. Jalan gang ukuran dua meter diapit perumahan penduduk di sisi kanan dan kiri. Melihat letaknya saat ini, Kampung Dermayon berada di bagian barat Surosowan tak jauh dari Masjid Pecinan Tinggi dan Vihara Avalokitesvara di sebelah utara.

Beberapa remaja dan bapak-bapak duduk di gardu tengah asyik menikmati kopi sambil mendengar irama dangdut tarling khas warung-warung pantura. Mereka tengah beristirahat di sela membanguan rumah warga.

Agus Arifin (40) Ketua Rukun Tetangga setempat baru tiba dari Tempat Pembungan Sampah (TPS) tak jauh dari kantor desa. Selain mengabdi sebagai RT, ia tak segan-segan menjadi petugas kebersihan yang mengangkut sampah dari lingkungan warga.

Agus Arifin.

Bagi Agus, kebersihan lingkungan merupakan tanggung jawab yang tidak semua orang mampu menjalankan. Dengan mengesampingkan gengsi, ia angkut semua sampah dari pekarangan rumah warga untuk dipilah dan sisanya dibakar di TPS milik pemerintah desa setempat.

Pria yang sudah sempat mukim ke luar Jawa itu mengaku sudah merasa menjadi orang Banten. Orangtuanya sempat bekerja di Kalimantan dan Riau sebagai buruh pertambangan. Tahun 1992 ia kembali ke Banten bersama keluarganya.

“Keluarga kami dari Indramayu. Sudah turun temurun di sini. Bahasa yang kami gunakan sehari-hari juga bahasa Indramayu,” kata Agus Arifin berbincang dengan BantenNews.co.id.

Agus menyebutkan bahwa di Dermayon mayoritas penduduk berasal dari Indramayu. Rata-rata warga bekerja sebagai buruh tani di sawah dan bekerja di pabrik kayu. “Saya tahunya Dermayon itu dari kata Dermayu, cuma itu ya saya hanya dengar-dengar saja, secara pastinya saya juga kurang paham,” ujar Agus.

Menurut Agus, warga Dermayon yang kini sudah menetap di Banten antara lain berasal dari Desa Bugel, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu, Provinsi Jawa Barat.

Jika di kampung Kebalen hampir tidak tersisa keberadaan orang Bali, sebaliknya di kampung Dermayon justru komunitas orang Indramayu masih eksis hingga hari ini. Eksistensi mereka terlihat antara lain dari pekerjaan, kuliner dan bahasa yang mereka gunakan.

Bahasa Jawa dialek Indramayu dan profesi buruh tani masih merupakan kegiatan sehari-hari mayoritas masyarakat Dermayon. Sedangkan kuliner yang lekat menjadi ciri khas masyarakat Indramayu di Dermayon adalah nasi Bogana.

“Ini salah satu makanan khas masyarakat Indramayu, biasanya muncul di saat-saat tertentu khususnya hari-hari besar,” kata Agus.

Nasi Bogana sendiri merupakan makanan khas di lingkungan Kesultanan Cirebon dan di Kabupaten Indramayu. “Nasi kuning biasanya dengan potongan atau irisan ayam. Ada yang dibuat bentuk tumpeng ada yang dihidangkan biasa,” ujarnya.

Agus hanya salah satu bukti migrasi orang-orang Indramayu ke Banten. Konon kehadiran orang Indramayu sudah sejak masa Kesultanan Banten. Namun tidak ditemukan catatan pasti mengenai tahun kedatangan penduduk Indramayu ke Banten. Guillot hanya mencatat kota Banten terbagi kota dalam benteng dan pemukiman pendatang.

Penduduk Banten tinggal di dalam benteng atau kawasan inti. Sementara para pendatang menempati perkampungan-perkampungan di luar benteng. Penduduk Dermayon hanya salah satu komunitas masyarakat di perkampungan Banten yang masih eksis hingga hari ini di samping komunitas masyarakat Bugis di Pelabuhan Karangantu.

“Banten dibagi menjadi beberapa kampung yang masing-masing dijaga dan ditutup dengan palang pembatas. Kota itu dibagi menjadi beberapa kampung yang setiap malam ditutup palang dan dijaga untuk mencegah terjadinya musibah,” tulis Guillot mengutip Bogaert.

Asmara Hingga Akulturasi Etnis Tionghoa

Langit biru cerah. Mega putih. Sepasang naga bercorak hijau merah terlihat gagah di atas gerbang Vihara Avalokitesvara.

Pintu gerbang dari stainless steel setinggi 2 meter tertutup. Hanya samar aroma dupa di kejauhan dari tempat pembakaran terbawa angin. Gambar sosok Dewi Kwan Im bergaun putih memegang kendi kecil tersenyum teduh pada gerbang vihara.

Pandemi Covid-19 memaksa pengelola menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Para umat Budha yang melaksanakan ibadah harus tetap memakai masker dan menjaga jarak dengan yang lain. Vihara sementara ditutup untuk pengunjung yang tidak melaksanakan ibadah.

Vihara Avalokitesvara.

Diaspora masyarakat etnis Tionghoa di Banten sangat bertalian dengan kisah asmara Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati kepada Putri Ong Tien Nio. Cerita mengenai siapa sebenarnya putri berkulit gading itu, salah satu versi menyebutkan sebagai Putri Kaisar Hong Gie dari era Dinasti Ming.

Cerita versi lain yang berkembang di Banten, Putri Ong Tien Nio merupakan pedagang dari Tiongkok. Humas Vihara Avalokitesvara, Asaji Manggala Putra menuturkan kisah perjalanan Putri Ong menuju Surabaya. Saat memasuki Banten, putri bertubuh manekin itu melihat mercusuar yang letaknya di depan kali Kemiri.

Putri Ong bersama para Anak Buah Kapal (ABK) bertolak kembali pulang menunggu arah angin barat daya. Sambil menunggu arah angin barat daya, Putri Ong Tien turun dan meminta pas jalan atau surat atau tanda izin untuk berlayar lagi.

Banten yang saat itu sebuah kesultanan besar dengan Pelabuhan Karangantu yang mendunia, membuat sang putri bersama ABK memutuskan bermalam di Pamarican. Pamarican dalam satu riwayat merupakan gudang rempah, khususnya lada yang akan diekspor ke luar negeri.

Putri Ong merasa betah tinggal di Banten dan mendirikan vihara yang awalnya berada di bekas kantor bea (douane) atau kini disebut Pabean. Namun kehadirannya oleh masyarakat sekitar dianggap dapat merusak akidah dan kebudayaan mereka.

Gesekan sosial dengan masyarakat Banten itu kemudian membuat Sultan Syarif Hidayatullah turun tangan untuk mediasi kedua belah pihak. Dalam pertemuan itu, Sunan Gunung Jati menekankan kepada hadirin bahwa tidak ada paksaan untuk memeluk agama dalam Islam.

Setelah masalah dapat diselesaikan, Sunan Gunung Jati menawarkan kepada sang putri dan pengikutnya memeluk Islam tanpa adanya paksaan. Dari sanalah Putri Ong Tien Nio bersama ABK menjadi mualaf. Setelah menikah, Putri Ong diboyong ke Cirebon, sementara 3.500 anak buah sang putri membentuk komunitas Tionghoa di dekat Karangantu yakni Kampung Baru.

Tokoh masyarakat Banten Embay Mulya Syarief menyebutkan toleransi beragama di Banten sudah bukan hal yang baru. Dari sejarah Kesultanan Banten, latar belakang agama dan budaya tidak menjadi penghambat roda bisnis dan pemerintahan. “Kelenteng itu kan mustahil dibangun kalau tanpa izin Sultan (Syarif Hidayatullah),” ujarnya.

Selain itu, Embay menyebut bentuk arsitektur bangunan Masjid Agung Banten sangat bernuansa heterogen dengan berbagai macam warna budaya. Arsitektur Masjid Agung Banten Banten bernama Cek Ban Cut berasal dari Mongolia memasukkan keberagaman corak budaya pada arsitektur masjid. Menara Banten misalnya, Embay menyebut sangat mirip dengan abu kelenteng atau pagoda.

Embay Mulya Syarief.

Cek Ban Cut sendiri kemudian memeluk agama Islam dan diberi gelar Pangerang Aria Wiraguna yang kemudian dimakamkan di Ragunan. Dua jabatan strategis di Kesultanan Banten era Sultan Ageng Tirtayasa dijabat oleh dua orang Tionghoa yakni Syahbandar Kaytsu atau Syahbandar Kyai Ngabehi Kaytsu dan Kiai Ngabehi Cakra Wardana atau Cakradana alias Tantseko.

“Menara Banten yang sekarang digunakan sebagai simbol provinsi, seperti tempat abu kelenteng yang ditinggikan. Tapaknya itu segi delapan dari delapan penjuru mata angin dari filosofi Budha, lalu di atasnya ada momolo dari Cirebon. Masjid Agungnya sendiri tumpang lima dikelilingi kanal, itu kan Mahameru,” ujar Embay.

Masjid Pecinan Tinggi.

Kemudian Masjid Pecinan Tinggi menjadi salah satu bukti keberagaman dan akulturasi kehadiran etnis Tionghoa di Banten. Bangunan ini terletak kurang lebih 500 meter ke arah barat dari masjid Agung Banten, atau 400 meter ke arah selatan dari Benteng Speelwijk.

Jejak Pacinan, menurut Embay Mulya Syarief masih terlihat dari rumah yang berada di belakang Koramil Kasemen, Serang. Sayangnya saat ini rumah tersebut sudah tidak berpenghuni. Para warga keturunan Tionghoa memilih ke Kota Serang, khususnya di kawasan Pasar Lama.

Karaeng dan Darah Pejuang Makassar

Derat kapal nelayan sandar. Bergoyang halus terkena gelombang. Aroma amis terbawa angin. Dua bocah berlarian berebut kelereng di atas jalan beton.

Siang begitu terik. Kering dan berisik. Suara mesin tongkang menuju Pelabuhan Karangantu.

Tampak rumah-rumah warga. Beberapa deret rumah panggung kayu coklat tua. Inilah kampung Bugis yang terletak di Jalan Pelelangan Nusantara Karangantu, Kampung Bugis, Kecamatan Kasemen, Kota Serang.

Di Kampung Bugis inilah diaspora masyarakat Bugis di Banten. Riwayat mengenai kedatangan orang Bugis ke Banten memiliki beberapa versi. Salah satu versi menyebutkan kedatangan orang Bugis dari Makassar ke Banten dipimpin oleh Karaeng Galesong yang memiliki nama lengkap I Maninrori I Kare Tojeng Karaeng Galesong (1655-1679).

Laksamana laut Kesultanan Gowa itu bersama para pengikutnya ia menolak tunduk terhadap Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) dan terus melakukan perlawanan laut hingga Laut Jawa. Dalam pertempuran laut itu ia membantu perlawanan Trunojoyo dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Di dalam rombongan Karaeng Galesong juga turut serta Syekh Yusuf al-Makassari yang kemudian menjadi mufti di Kesultanan Banten. “Ada Syeh Yusuf di rombongan itu. Para prajurit dari Bugis ini satupun tidak ada yang pulang. Mereka menikah dan menjadi orang Banten,” kata Embay Mulya Syarief, salah satu penggagas Provinsi Banten.

Dalam catatan Guillot, masyarakat Bugis-Makassar diterima dengan baik di Banten karena kesamaan visi dalam perlawanan terhadap Belanda. Ribuan dari mereka tinggal di Banten setelah Gowa jatuh oleh Batavia.

Namun dalam catatan yang sama, sifat yang tidak bisa kompromi dan enggan patuh selain kepada pimpinan dari kalangan Bugis-Makassar itu sendiri menyebabkan gesekan sosial dengan penduduk Banten. “Mereka tidak lagi mempunyai hak menetap di dalam kota berbenteng. Mereka berdiam di batas kota seperti halnya orang-orang asing di daerah yang terletak di sebelah timur Pelabuhan Karangantu,” tulis Guillot dalam Banten, Sejarah dan Peradaban Abad X – XVII.

Keberadaan masyarakat Bugis di Karangantu saat ini masih dapat disaksikan salah satunya dengan kehadiran rumah adat Bugis. Rumah panggung setinggi 2 meter dari permukaan tanah dengan material kayu. Rumah yang berada di sisi jalan arah Jalan Pelelangan Nusantara Karangantu itu merupakan bantuan dari pemerintah Provinsi Banten.

Andi Amir (68), tokoh masyarakat Bugis di Karangantu menyebutkan dua rumah adat Bugis tersebut berfungsi sebagai rumah singgah maupun lokasi shooting mahasiswa yang tengah menggarap tugas akhir. Selain lima unit rumah panggung Bugis di Karangantu itu, 200-an rumah warga Bugis sudah menggunakan rumah permanen berdinding batu.

Saat ini, pria dari Bone Sulawesi Selatan itu menyebutkan terdapat 300 kepala keluarga dari Bugis-Makassar. “Mereka dibagi menjadi 3 rukun tetangga,” kata pria yang juga Ketua RW 06 tersebut.

Cerita Andi Amir, tahun 1960 datang enam orang perantau dari Bugis ke Banten. Mula-mula mereka menempati sepetak tanah di Kroya Baru, Kasemen dekat keraton Kaibon. Berselang 10 tahun kemudian mereka pindah ke Karangantu yang kini dinamai Kampung Bugis.

“Saya tahun 1971 datang ke sini. Masih hutan dulu di sini. Masih jalan setapak. Ini namanya Karangantu banyak hantunya dulu. Jadi kalau magrib tidak ada buka pintu,” kata Andi bernada seloroh.

Saat itu, Andi mengenang masih sering terjadi perkelahian antara orang Bugis dan orang Banten. Tahun 1985 perkelahian berbau suku mulai reda. Sering ia menengahi ketika terjadi keributan antara orang Bugis dan orang Banten.

“Orang ribut selalu saya damaikan. Maklum jiwa keras semua baik Bugis maupun Banten. Tapi alhamdulillah situasi semakin aman,” ujarnya.

Jika melihat peristiwa dan tokoh sejarah Bugis ke Banten, lanjut Andi, baik orang Bugis maupun Banten punya kesamaan perjuangan dalam menghadapi kolonial. “Jadi ada titik temunya. Makanya kalau saya menghadapi orang yang ribut pasti damai,” ujarnya.

(you/red)