Beranda Sosial dan Budaya Jejak Pangkalan Militer Jepang di Pulau Sangiang

Jejak Pangkalan Militer Jepang di Pulau Sangiang

Bangunan barak militer tentara Jepang di Pulau Sangiang. (Dok.bpcbbanten)

 

SERANG – Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), Pulau Sangiang menjadi lokasi pangkalan laut militer Jepang. Di pulau dengan luas sekitar 700,35 hektare ini dibuat beberapa bangunan untuk pangkalan militer Jeoang untuk menghalau serangan musuh di Selat Sunda.

Hingga saat ini beberapa peninggalan jejak militer Jepang tersebut masih dapat ditemui di pulau yang secara administratif masuk Desa Cikoneng, Kecamatan Anyer, Kabupaten Serang, Provinsi Banten tersebut.





Pulau Sangiang yang mempunyai luas ± 700,35 Ha terletak di Selat Sunda dan berada diantara gugusan Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.  Secara topografis Pulau Sangiang memiliki kondisi bentang lahan yang meliputi pantai, laguna, bukit landai, dan bukit curam dengan tingkat kemiringan  8 – 40 % dan puncak tertinggi berada ± 155 metar di atas permukaan air laut. Menurut cerita masyarakat setempat, Pulau Sangiang sudah dihuni sekitar abad ke 19. saat itu Raja Lampung menghibahkan Pulau Sangiang kepada warga agar ditempati. Menjelang Perang Dunia kedua, ketika masa pendudukan Jepang, Jepang membangun Pos Pengaman di Pulau Sangiang yang dilengkapi rel besi untuk dilewati kapal perang amfibi mereka.

Berdasarkan data BPCB Banten, peninggalan masa pendudukan Jepang di pulau ini adalah berupa bunker, bangunan dan helipad. Sampai saat ini bunker-bunker masih dapat disaksikan beserta dengan meriam pertahanannya. Pada umumnya bunker dibuat di bawah permukaan tanah dan sesuai dengan fungsinya sebagai perlindungan dan pertahanan, kebanyakan terletak mendekati pantai mengarah ke Selat Sunda. Terdapat delapan buah bunker yang memiliki ukuran luas bangunan ± 12,24 m²; ± 41,75 m²; ± 26,85 m²; ± 63,45 m²; ± 126,68 m²; ± 29,07 m²; ± 39,99 m²; dan ± 74,64 m².

Jika dilihat dari fungsinya, dari delapan buah bungker tersebut terdapat empat bungker yang berfungsi sebagai pertahanan, tiga bungker lebih mirip sebagai bunker perlindungan tentara, dan satu bungker merupakan tempat pengintaian. Selain itu juga terdapat struktur batuan kerakal dengan tangga di sisi timur laut dan memiliki luas ± 33,03 m².

Bunker pertahanan yang dibuat dari beton bertulang dengan campuran kerakal dan semen ini pada umumnya terdiri dari lorong dan ruang tembak serta dibangun pada tebing yang cukup curam. Ruang tembak merupakan ruang berbentuk segi empat dengan dinding dan atap serta bidang terbuka yang berfungsi sebagai tempat meriam dan pengintaian. Di belakang ruang ini dihubungkan dengan lorong sepanjang sekitar 10 meter dan pada ujungnya terdapat pintu yang berfungsi sebagai jalan keluar dan masuk tentara. Saat ini terdapat tiga buah meriam dari empat bungker pertahanan dengan dua buah masih tampak utuh dan satu buah sudah terpotong yang masing-masing tergeletak di ruang tembak mengarah ke laut dengan rata-rata panjang sekitar ± 5 meter sedangkan meriam yang terpotong hanya tersisa sepanjang ± 2 meter, meskipun demikian semua meriam telah lepas dari tumpuannya.

Terdapat pula tiga buah bunker perlindungan tentara berupa bangunan berdinding dan beratap, mempunyai pintu dan lubang angin. Sama halnya dengan bunker pertahanan, bunker perlindungan dibuat di bawah tanah, hanya bahan pembuatnya bukan dari beton melainkan batu bata dengan plesteran dari dinding hingga atapnya. Kemudian terdapat komponen penunjang dari bangunan bunker adalah parit yang difungsikan sebagai jalur/akses antar bunker. Komponen jalur-jalur parit juga masih dapat terlihat, namun kondisinya sebagian besar tertimbun tanah dan ditumbuhi rumput.

Terdapat pula tiga buah bunker perlindungan tentara berupa bangunan berdinding dan beratap, mempunyai pintu dan lubang angin. Sama halnya dengan bunker pertahanan, bunker perlindungan dibuat di bawah tanah, hanya bahan pembuatnya bukan dari beton melainkan batu bata dengan plesteran dari dinding hingga atapnya. Kemudian terdapat komponen penunjang dari bangunan bunker adalah parit yang difungsikan sebagai jalur/akses antar bunker. Komponen jalur-jalur parit juga masih dapat terlihat, namun kondisinya sebagian besar tertimbun tanah dan ditumbuhi rumput.

Tinggalan lain adalah bangunan yang diduga dipakai sebagai barak tentara. Saat ini keseluruhan bangunan-bangunan tersebut dalam kondisi belum terawat dan tidak dimanfaatkan. Disebut barak tentara karena lokasinya berada di dekat bunker dan denah serta komponen bangunan mengarah ke fungsi tersebut. Secara keseluruhan material atap dan daun pintu/jendela pada bangunan ini telah tidak ada (hilang). Kompleks bangunan juga tertutup dan ditumbuhi pepohonan dan rumput liar. Melihat dari sisa-sisa bangunan tersebut terdapat bagian-bagian, seperti ruang terbuka, kamar mandi, bak penampungan kebutuhan air, ruang kerja, dan ruang istirahat.

Tinggalan arkeologis berikutnya adalah bekas helipad. Kondisi saat ini tertutup oleh rumput dan pepohonan. Helipad yang ada berjumlah dua titik, yakni di daratan Pulau Sangiang sisi barat dan utara. (Red)