Beranda Opini Jalan Kramatwatu, Jalur Tengkorak yang Terus Meminta ‘Tumbal’

Jalan Kramatwatu, Jalur Tengkorak yang Terus Meminta ‘Tumbal’

789
0
Ilustrasi - foto istimewa liputan6.com

Jalan Kramatwatu, Jalur Tengkorak yang Terus Meminta ‘Tumbal’

Oleh: Usman Temposo

JALAN KRAMATWATU panjangnya sekitar 7 kilometer terbentang mulai dari lampu merah PCI, Kota Cilegon hingga Gerbang Tol Serang Barat. Jalan ini merupakan jalur penghubung di tiga wilayah yakni Kota Cilegon-Kabupaten Serang dan Kota Serang. Jalan ini juga merupakan jalur mudik menuju Pulau Sumatera saat lebaran tiba melalui Pelabuhan Merak.

Jalur Kramatwatu masuk wilayah administratif Kabupaten Serang. Sejak beberapa tahun terakhir jalur ini menjadi jalur mematikan bagi pengendara, terutama kendaraan roda dua.

Bagaimana tidak, kecelakaan kendaraan sering terjadi di jalur ‘tengkorak’ tersebut. Bahkan seakan terus meminta ‘tumbal’.

Menurut catatan penulis, sejak November hingga Desember 2018 saja lebih dari 5 pengendara roda dua tewas kecelakaan di Jalur Kramatwatu. Penyebabnya beraneka ragam, mulai dari kecelakaan tunggal akibat jalan yang rusak hingga tertabrak atau bertabrakan dengan truk.

Ya, Jalan Kramatwatu merupakan jalur yang sangat horor. Bagaimana tidak, jalur yang satu ini kondisinya memang sangat memprihatinkan, mulai dari kondisi jalan yang bergelombang, minim penerangan jalan hingga kondisi jalanan licin akibat banyaknya lumpur tumpahan muatan truk galian C yang acap melintas dan berubah menjadi hujan debu yang mengganggu kesehatan dan jarak pandang tatkala panas terik.

Selain itu jalur Kramatwatu juga sejak beberapa tahun terakhir menjadi lintasan primadona truk besar aktivitas industri di Kawasan Kota Cilegon dan Bojonegara. Padahal sebelumnya truk-truk besar ini melintas melalui Jalan Tol Tangerang-Merak.

Namun setelah ada pemberlakuan larangan truk overload melintas di Tol Tangerang-Merak, truk bobot besar akhirnya melenggang di jalur Kramatwatu. Alhasil, jalan semakin padat, jalan menjadi rusak dan tentunya mengerikan.

Truk-truk kapasitas besar dan banyak di antaranya overload ini seakan tak ada aturan. Bahkan beroperasinya hingga 24 jam tanpa henti seakan tak pernah tidur. Lebih parahnya lagi, jalan Kramatwatu seakan dijadikan lintasan arena balapan para truk bermuatan besar tersebut. Pastinya membahayakan bagi para pengendara lainnya.

Namun disesalkan,  kondisi tersebut seakan tak menggugah hati para pemangku kebijakan untuk mencari solusi. Ya, setidaknya menindak truk overload yang melintas dan yang suka berlaku ugal-ugalan. Langkah penertiban truk berkapasitas besar sangat diperlukan karena memang merugikan masyarakat.

Tujuannya jelas supaya masyarakat nyaman dalam berkendara. (***)

Penulis adalah kuli Tinta di Kota Cilegon.