LEBAK – Balong Ranca Lentah yang menjadi ikon di jantung Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, kini justru dalan kondisi memprihatinkan. Pemandangan tumpukan sampah dan air berwarna hijau pekat mencoreng wajah salah satu ruang publik andalan masyarakat Kabupaten Lebak.
Salah seorang pengunjung, Yusuf, mengeluhkan minimnya perhatian dan pemeliharaan dari Pemerintah Kabupaten Lebak terhadap kawasan tersebut.
“Iya, sering banget ke tempat ini, cuman sayang tidak terawat, airnya menghijau dan banyak sampah,” kata Yusuf kepada awak media, Jumat (3/7/2026).
Menurut Yusuf, Balong Ranca Lentah seharusnya mendapat penataan lebih serius. Sebagai salah satu ikon kota dan pusat aktivitas masyarakat, kawasan ini dinilai memiliki potensi besar menjadi destinasi wisata yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
“Melihat kondisi seperti ini tentu sangat disayangkan, apalagi posisinya di tengah kota. Harusnya ini bisa ditata kembali supaya bisa mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah, sehingga bisa meningkatkan pendapatan daerah melalui parkir dan lain-lain, dan para pedagang pun ekonominya akan meningkat,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga datang dari seorang pedagang di kawasan Balong yang meminta identitasnya dirahasiakan. Ia mengaku para pedagang sudah berupaya menjaga kebersihan dengan menyediakan tempat sampah bagi pengunjung.
“Kalau kita selaku pedagang kita kumpulkan sampahnya, tidak dibuang ke Balong, karena kita sudah menyediakan tempat sampah. Namun, masih ada sejumlah pengunjung yang abai akan kebersihan,” katanya.
Ia juga menuturkan petugas kebersihan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Lebak memang sesekali datang untuk membersihkan area Balong. Namun, kegiatan pembersihan belum berjalan rutin.
“Yang ngebersihin dari dinas suka ada, tapi tidak nentu, saya juga lupa kapan terakhir Balong Ranca Lentah ini dibersihkan,” tandasnya.
Kondisi Balong Ranca Lentah ini menjadi sorotan warga. Mereka berharap Pemerintah Kabupaten Lebak segera turun tangan untuk membenahi kawasan tersebut agar kembali menjadi ikon kebanggaan masyarakat, bukan justru menjadi potret buruk wajah Kota Rangkasbitung.
Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
