Beranda Pemerintahan Ironi di Pandeglang, Warga Patungan Aspal Jalan yang Tak Kunjung Diperbaiki Pemerintah

Ironi di Pandeglang, Warga Patungan Aspal Jalan yang Tak Kunjung Diperbaiki Pemerintah

Warga mengaspal jalan secara swadaya di ruas jalan Kabupaten/Madani Prasetia - BantenNews.co.id

PANDEGLANG – Ironi pembangunan terjadi di Kabupaten Pandeglang. Warga Kampung Cengkel, Kelurahan Cilaja, Kecamatan Majasari, harus patungan dan bergotong royong mengaspal jalan kabupaten yang puluhan tahun tak kunjung diperbaiki pemerintah Kabupaten Pandeglang.

Yang membuat kondisi ini semakin miris, jalan yang diperbaiki menggunakan uang warga tersebut hanya berjarak sekitar 1 kilometer dari Kantor Bupati Pandeglang. Di tengah pusat pemerintahan daerah, warga justru mengambil alih peran pemerintah untuk membenahi akses jalan yang setiap hari mereka gunakan.

Koordinator lapangan kegiatan swadaya, Dedi alias Rey, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena masyarakat sudah lelah menunggu perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Pandeglang. Selama puluhan tahun, warga mengaku hanya menerima janji perbaikan tanpa realisasi.

“Kurang lebih sudah 30 tahun tidak ada pembangunan dari Pemkab Pandeglang. Yang kami dapat hanya janji dan janji, jalan diukur dan diukur, tapi tidak ada realisasi,” kata Rey, Selasa (25/8/2026).

Kekecewaan itu akhirnya mendorong warga Kelurahan Cilaja dan Pagerbatu mengumpulkan uang secara swadaya. Mereka memperbaiki jalan secara bertahap, mulai dari pemasangan paving block di Kampung Cicadas hingga pengaspalan sekitar 100 meter di Kampung Cengkel.

Bukan hanya membeli material, warga juga harus menyewa alat berat berupa silinder penggilas aspal menggunakan uang hasil patungan. Dengan kondisi tersebut, warga seolah harus menjadi pemerintah bagi lingkungannya sendiri demi mendapatkan jalan yang layak.

“Semua biaya dari masyarakat. Alat silinder juga kami sewa sendiri,” ujarnya.

Beban biaya yang ditanggung warga pun tidak sedikit. Untuk pekerjaan paving block sebelumnya, masyarakat menghabiskan lebih dari Rp17 juta hanya untuk membeli paving, belum termasuk biaya semen, batu, dan material lainnya.

Sementara untuk pengaspalan, biaya yang dikeluarkan diperkirakan mencapai Rp3,5 juta setiap hari. Total biaya belum dapat dihitung karena pekerjaan masih berlangsung dan ditargetkan rampung dalam waktu sekitar tiga hari.

Baca Juga :  Mahasiswa Pandeglang Minta Pemkab dan DPRD Tiru Mental Pahlawan

Selain mengaspal jalan, warga juga membersihkan saluran air serta tembok penahan tanah di sisi jalan. Langkah tersebut dilakukan agar akses warga lebih aman dan tidak kembali cepat rusak.

Ironisnya, persoalan infrastruktur tersebut ternyata bukan hanya terjadi di satu titik. Warga berencana melanjutkan perbaikan secara swadaya hingga menghubungkan wilayah Cilaja dan Pagerbatu, dengan total ruas jalan yang membutuhkan penanganan diperkirakan mencapai sekitar 20 kilometer.

Aksi patungan tersebut menjadi gambaran kekecewaan warga terhadap lambannya perbaikan infrastruktur. Mereka berharap pemerintah daerah tidak hanya datang untuk mengukur jalan, tetapi benar-benar merealisasikan pembangunan.

“Harapan kami sederhana, Pemkab Pandeglang membuka mata dan segera membangun jalan-jalan yang memang sudah lama rusak di pelosok daerah,” pungkas Rey.

Penulis: Mg-Madani Prasetia

Editor: Usman Temposo