
LEBAK – Sore itu, air Bendungan Karian menyusut pelan. Permukaan waduk yang selama bertahun-tahun menelan Kampung Somang perlahan membuka rahasianya.
Dinding rumah tanpa atap, pondasi yang retak, hingga bekas jalan kampung kembali muncul dari dasar genangan.
Bagi sebagian orang, pemandangan itu menjadi fenomena kemarau. Namun bagi warga Desa Sukajaya dan Desa Sukarame, Kecamatan Sajira, kemunculan Kampung Somang menghidupkan kembali kenangan yang selama ini mereka kubur bersama air waduk.
Lima tahun lalu mereka meninggalkan kampung yang membesarkan mereka. Kini, saat air surut, kampung itu seolah mengajak mereka pulang, meski hanya sebentar.
Di atas sebuah perahu kecil, Husen (40) menunjuk ke arah bangunan yang mulai terlihat dari balik permukaan air.
“Itu bekas rumah saya. Di sana sawah kami dulu,” katanya lirih sambil mengarahkan perahu melintasi bekas kampungnya, Senin (27/7/2026).
Di hadapannya, sisa tembok berdiri tanpa atap. Pepohonan mati menjulang dari dasar waduk. Tidak ada lagi suara anak-anak bermain ataupun petani yang pulang membawa hasil panen. Kampung itu kini hanya menyisakan puing dan kenangan.
Sebelum Bendungan Karian berdiri, sedikitnya 300 kepala keluarga (KK) menggantungkan hidup di Kampung Somang. Hamparan sawah menjadi sumber penghidupan sekaligus warisan yang mereka jaga turun-temurun.
Ketika pemerintah menetapkan Bendungan Karian sebagai Proyek Strategi Nasional (PSN), warga memilih bertahan. Mereka menolak relokasi karena tidak ingin kehilangan tanah, rumah, dan lahan pertanian.
Namun, keadaan berubah setelah banjir bandang melanda Kabupaten Lebak pada 2021. Perlahan, satu per satu keluarga meninggalkan kampung dan pindah ke lokasi relokasi seperti Somang Baru dan Cipagar.
“Tadinya kami menolak pindah karena rumah dan mata pencaharian kami ada di sini,” ujar Husen.
Sawah Hilang, Hidup Berubah
Perubahan terbesar tidak hanya terjadi pada bentang alam, tetapi juga pada kehidupan warga.
Dulu mereka mengolah sawah. Setiap musim panen menghasilkan cukup beras untuk memenuhi kebutuhan keluarga tanpa harus membeli. Kini, sawah itu berubah menjadi dasar waduk.
Husen mengaku kehilangan profesi yang telah ia jalani sejak kecil. Relokasi memaksanya belajar pekerjaan baru yang sama sekali asing.
“Kami dulu petani. Sawah kami luas. Sekarang semuanya terendam. Dulu kami tidak pernah membeli beras, sekarang harus membeli. Kami juga baru belajar menggunakan jaring dan pancing setelah ada waduk,” tuturnya.
Bendungan memang menghadirkan hamparan air yang luas. Namun bagi warga Somang, waduk itu juga menghapus ruang hidup yang selama puluhan tahun mereka bangun.
Sebagian warga kini menggantungkan harapan dari ikan yang mereka tangkap setiap hari. Hasilnya jauh berbeda dibandingkan ketika mereka masih menggarap sawah.
Kampung yang Hanya Muncul Saat Kemarau
Menjelang senja, cahaya matahari memantul di permukaan Bendungan Karian. Bekas Kampung Somang terlihat seperti kota mati yang bangkit sesaat dari dasar air.
Sejumlah warga datang hanya untuk melihat kembali rumah yang pernah mereka tinggali. Ada yang memotret, ada yang berdiri lama tanpa kata, seolah mengingat kembali setiap sudut kampung yang kini tinggal puing.
Mereka sadar, pemandangan itu tidak akan bertahan lama. Saat hujan datang dan permukaan waduk kembali naik, Kampung Somang akan tenggelam lagi. Bersama air, kenangan itu kembali menghilang.
Husen tidak lagi berharap kampungnya kembali berdiri. Ia hanya menyimpan satu harapan sederhana.
“Kami tidak meminta kampung ini hidup lagi. Kami hanya ingin bisa hidup seperti dulu, bertani, dan mencukupi kebutuhan keluarga,” ucapnya.
Kemarau memang mengangkat kembali sisa-sisa Kampung Somang ke permukaan. Namun, air yang surut tak pernah benar-benar mengembalikan kehidupan yang pernah tumbuh di sana.
Penulis : Mg-Aldo Marantika
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd