Beranda Peristiwa Industri Kimia Meledak, Warga Cilegon Keracunan

Industri Kimia Meledak, Warga Cilegon Keracunan

Pra Latihan Geladi Posko atau Command Post Exercise (CPX) dan Geladi Lapang atau Field Training Exercise (FTX) ARDEX 2018. (Foto : Gilang)

CILEGON – Kepanikan warga di Kota Cilegon tumpah setelah mengetahui bawah sejumlah pabrik industri kimia di sekitar tempat tinggal mereka meledak. Bukan tanpa sebab, ledakan pabrik terjadi setelah adanya gempa bumi yang mengguncang Provinsi Banten disusul bencana tsunami yang meluluhlantakkan pabrik tersebut.

Adanya cairan kimia, gas beracun dan material berbahaya yang diketahui berasal dari dalam pabrik semakin membuat kepanikan warga yang berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Minimnya peralatan dan jumlah SDM di perusahaan yang sudah berupaya menanggulangi hal itu kandas, sehingga bahan berbaya itu masuk ke pemukiman warga.

Puluhan warga mengalami keracunan yang diduga akibat telah menghirup gas yang telah menyebar hampir di seluruh pelosok pemukiman. Seluruh perangkat penyelamatan daerah yang langsung terjun ke lokasi kejadian pun tak mampu mengatasi kondisi tersebut terlebih mengingat banyaknya korban warga yang berjatuhan.





Demikian terungkap dalam simulasi Pra Latihan Geladi Posko atau Command Post Exercise (CPX) dan Geladi Lapang atau Field Training Exercise (FTX) untuk rangkaian perhelatan Asean Regional Disaster Emergency Respons Simulation Exercise (ARDEX) 2018 oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di kawasan industri KIEC Cilegon, Rabu (31/10/2018).

“Tujuan dalam pra latihan ini untuk mengetahui kesiapan dari personel, yaitu pelaku, pengendali, perencana, pengawas latihan. Juga mengecek kesiapan sarana, komunikasi dan perlengkapan, juga mengecek dinamika latihan tadi,” ungkap Bagus Cahyono, Wakil Direktur Latihan BNPB untuk Latihan CPX dan FTX.

Dalam skenario pra latihan itu dikatakan, kendati sudah berupaya maksimal, namun perangkat unit penyelamatan daerah di tingkat Kota, Provinsi dan tingkat pusat tidak mampu mengatasi bencana kimia tersebut sehingga akhirnya meminta bantuan kepada negara-negara tetangga yang berada di lingkup ASEAN.

“Ini pada kondisi negara kita meminta bantuan dari negara lain. Kita berlatih, karena di negara ASEAN ini ada protokol bagaimana melakukan respon bencana yang ada di kawasan ASEAN, nah itu kita praktikkan di sini. Ini kan bahaya bencana bahan kimia beracun, kan tidak semua negara ASEAN yang siap memiliki kemampuan ini. Nanti kita lihat negara yang siap, negara di samping kita ya, apakah Singapura atau yang lain. Jadi kita tidak melihat negara mana yang jaraknya lebih dekat, tapi negara yang lebih siap membantu bencana kimia seperti ini. Bagi negara yang belum siap, dia juga bisa kirim bantuan medisnya. Tapi tugasnya memperkuat kemampuan kita, bukan menggantikan posisi kita,” jelasnya. (dev/red)