Beranda Opini Idul Fitri, Jalan Menuju Harmoni

Idul Fitri, Jalan Menuju Harmoni

81
0
Teguh Fachmi, Dosen UIN SMH Banten

Oleh: Teguh Fachmi, M.Si

Dosen UIN SMH Banten
Founder Banten Institute for Learning Development (BILD)

Raksasa antroposentrisme dan mesin globalisasi seringkali membuat hidup kita dipenuhi sifat keserakahan. Hal ini diawali dari cara pandang kita melihat hubungan interaksi antara manusia dengan lingkungan, atau dari cara hidup kita yang terlalu dimanjakan oleh derasnya arus perkembangan teknologi. Segala-galanya serba instan, mudah dijangkau, dan disertai dengan sikap hidup konsumtif.

Antroposentrisme atau paham yang memandang bahwa manusia adalah pusat dari alam semesta, dan hanya manusia yang memiliki nilai, sementara alam dan segala isinya sekedar alat bagi pemuasan kepentingan dan kebutuhan hidup manusia semata. Manusia dianggap berada di luar, di atas, dan terpisah dari alam. Bahkan manusia dipahami sebagai penguasa atas alam yang boleh melakukan apa saja.

Paham antroposentrisme juga bermakna bahwa seluruh gerak perubahan dan pembangunan hanyalah untuk memuaskan hasrat manusia, dalam hal ini manusia berada pada hirarki tertinggi yang berhak memutuskan untuk berlaku apapun terhadap alam. Pemahaman seperti ini diibaratkan seperti laiknya seorang raksasa, semakin hari wujudnya semakin besar, karena ditopang oleh mesin yang amuk perkembangannya sangatlah liar, ia cenderung serakah, desktruktif, melupakan hak alam, memanjakan manusia, membuat ia terlena. Mesin itu disebut, mesin globalisasi dan modernisasi. Cara pandang inilah juga yang pada akhirnya melahirkan penyakit modernitas yaitu perilaku eksploitatif tanpa kepedulian sama sekali terhadap alam dan segala isinya yang dianggap tidak mempunyai nilai.

Sejak Tahun 1750-1850 manusia mulai mencipatkan alat untuk mempermudah mereka dalam hal produksi, era ini disebut dengan revolusi industri, dimana terjadi perubahan secara besar-besaran dibidang industri pertanian, manufaktur, pertambangan, transportasi, dan teknologi. Hal ini memberikan dampak besar terhadap perubahan kondisi sosial, ekonomi, dan budaya. Proses revolusi ini dimulai dari Britania Raya dan kemudian menyebar keseluruh dunia.

Bermula dari penemuan mesin uap, mesin sederhana ini kemudian diaplikasikan dalam berbagai mesin yang dapat memperbanyak produksi barang di eropa. Perkembangan juga terjadi pada sektor transportasi, komunikasi dan keuangan eropa. Revolusi Industri dimulai pada akhir abad ke-18, dimana terjadinya peralihan dalam penggunaan tenaga kerja di Inggris yang sebelumnya menggunakan tenaga hewan dan manusia, yang kemudian digantikan oleh penggunaan mesin mekanistik yang berbasis menufaktur.

Waktu terus berjalan gelombang perubahan kian tak tertahan, manusia menjadi binatang, memangsa yang lemah, merusak alam secara serakah, perubahan demi perubahan terjadi, industri semakin membabi buta, kelestarian ekosistem alam diabaikan, menghimpit masyarakat adat, menggusur masyarakat kota, kerusakan dan bencana alam mulai bermunculan. Terjadilah ketidak seimbangan lingkungan (disequilibrium), bumi menjadi sakit ia tak dapat menyembuhkan dirinya sendiri, akhirnya kita semua berada di dalam masayrakat yang disebut risk community, masyarakat yang hidup ditengah resiko alam dan berdampingan bersama mara bahaya. Manusia dengan segala koyak perubahan teknologinya yang canggih hanyalah mampu menciptakan teknologi sebatas untuk memenuhi hasrat pemenuhan kebutuhannya saja, penemuan teknologinya tak dapat menyibak mata manusia akan betapa pentingnya harmoni yang kemudian dapat menyelaraskan interaksi antara, produksi, manusia, dan alam.

Seluruh rentetan kejadian ini semata-mata disebabkan karena manusia sebagai Khalifatul fil ardi pemimpin di muka bumi gagap dalam memahami konsep Tawazun atau keseimbangan sebagaimana Islam ajarkan. Tawazun’ bermakna memberi sesuatu akan haknya, tanpa ada penambahan dan pengurangan. Kemampuan seorang individu untuk menyeimbangkan kehidupanya dalam berbagai dimensi, baik dimensi rohani dan jasmani ataupun dimensi sosial dan ekologis sehingga tercipta kondisi yang stabil, sehat, aman dan nyaman. Tawazun sangat urgen dalam kehidupan seorang individu sebagai manusia, dan juga sebagai muslim. Karena manusia cenderung egois ia kerap kali didorong oleh nafsu untuk menguasai, mengeruk seluruh kekayaan bumi, dan melupakan dampak negatif setelahnya, acuh terhadap kerusakan lingkungan, tidak mau tahu dampak buruk dari perilaku konsumtifnya. Perilaku seperti inilah yang menjauhkan kita dari sifat kesalehan ekologis, kita acapkali lupa bahwa kesalehan sosial saja ternyata tidak cukup untuk menjadi seorang khalifatul fil ardi pemimpin di muka bumi, karena manusia dituntut untuk dapat menyeimbangkan antara hubungan vertikal dengan Tuhan ‘kesalehan religius’, hubungan horizontal dengan manusia dan alam atau disebut dengan kesalehan sosial dan kesalehan ekologis.

Sudah seharusnya kita mesti sadar, bahwa saat ini kita hidup dan berada pada sebuah jaman yang memiliki sifat refleksifitas tinggi, artinya tindakan apapun yang kita lakukan hari ini akan dapat dengan cepat dipantulkan kembali kepada kita, maka berhati-hatilah dalam bertingkah laku, apalagi bertingkah laku terhadap alam.

Maka setelah moment Ramadhan ini usai, setelah satu bulan lebih kita dilatih untuk dapat menahan hawa nafsu, semoga bukan hanya hawa nafsu haus, lapar, dan emosi saja yang kita latih, melainkan nafsu keserakahan dan nafsu destruktif terhadap lingkungan juga dapat ikut terlatih. Saatnya kita kembali ke fitrah, waktunya membuka mata, lihatlah betapa rakusnya diri kita. Perubahan besar akan selalu diawali oleh perubahan kecil. Lakukanlah hal-hal kecil yang dapat menjaga harmoni antara manusia dan alam, kurangi penggunaan plastik, matikan lampu bila tidak terpakai, gunakan air secukupnya, pastikan bahwa apapun yang kau lakukan tidaklah memberi dampak negatif untuk alam disekitarmu.

Jadilah pemimpin dimuka bumi yang dapat menjadi kepanjangan tangan Tuhan sebagai Rahmatan lil Alamin penebar rahmat bagi seluruh alam. Sebagaimana Allah menyifati dirinya di dalam kitab suci Al-qur’an sebagai Robbul Alamin Tuhan semesta, bermakna bahwa Allah SWT pada hakekatnya bukan Tuhan untuk manusia saja, melainkan Tuhan bagi seluruh alam, dan Rahmatan Lil Alamin rahmah atau cinta bagi seluruh alam, artinya manusia diberikan amanat untuk mewujudkan segala perilakunya dalam rangka kasih sayang terhadap seluruh alam. Apabila makna rabbul `alamin dan rahmatan lil`alamin dipahami dengan baik, tentu manusia tidak akan tega merusak alam semesta ini. Hal ini dikarenakan sejatinya manusia dan alam adalah makhluk Tuhan yang saling membutuhkan, saling bergantung, dan harus hidup secara harmonis, selaras, dan seimbang. Dua orientasi tersebut melahirkan tiga konsep filosofis yang harus dipahami oleh umat manusia dalam kerangka hidup berdampingan sesama makhluk Tuhan di hamparan alam semesta.

Semoga di hari yang fitri ini, kita bisa menjadi orang yang bertaqwa, Taqwa dalam arti ketaqwaan yang bersifat vertikal “kesalehan religius”, dan ketaqwaan yang horizontal, bermakna kesalehan sosial dan kesalehan ekologis/lingkungana yang mampu merawat dan menjaga kelestarian lingkungan. Sebagaimana pepatah arab Al-Insan Ibn Bi’atihi bahwa manusia itu adalah anak lingkungannya. Pepatah Arab ini mengandung arti bahwasanya kita memiliki hubungan simbiosis-mutualisme dengan lingkungan hidup kita. Wallahu a’lam bishowab. (***)