Beranda Kesehatan “Hotel Bintang 5” Pegawai RSUD Banten Ternyata Tidur di Lantai Beralas Kasur...

“Hotel Bintang 5” Pegawai RSUD Banten Ternyata Tidur di Lantai Beralas Kasur Busa

7904
0
Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fitron Nur Ikhsan meninjau fasilitas tenaga kesehatan RSUD Banten di rumah dinas Gubernur Banten, Jalan Brigjen Syam'un, Kota Serang. (Ist)

SERANG – Kondisi fasilitas isolasi tenaga kesehatan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Banten di Rumah Dinas Gubernur Banten, kawasan Pendopo Lama, Jalan Brigjen Syam’un, Nomor 5, Kota Serang tak sebagaimana yang diklaim Pemprov Banten sebagai hotel berbintang lima.

Selain masih minim fasilitas juga tidak mengindahkan prinsip kesehatan yakni jarak personal terutama pada tempat tidur tenaga medis yang hanya beralas kasur busa dengan jarak berdempetan.

Petugas kesehatan tengah bersantai setelah tugas di RSUD Banten.

Hal tersebut terungkap saat Sekretaris Komisi V DPRD Banten Fotron Nur Ikhsan meninjau lokasi. “Mereka tidur di lantai. Dalam satu bangsal ada yang 24 orang. Saya sarankan itu apa enggak rentan, misalkan satu orang terpapar mereka kan dalam satu kerumunan begitu. Apa enggak kena (tertular Covis-19),” kata Fitron kepada BantenNews.co.id, Rabu (1/4/2020) malam.



Jika tidak ada jaminan akan terpapar karena posisi tidur yang berdekatan tersebut, Fitron sudah menyarankan kepada Direktur Utama Rumash Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Banten Danang Hamsah Nugroho untuk membagi dalam jumlah yang lebih kecil dengan mencari ruang lain. “Jangan ditempatkan di Pendopo semua, supaya tidurnya ada jarak,” kata Fitron.

Hal itu menurut politisi Golkar tersebut sangat mungkin mengingat anggaran untuk penanganan Covid-19 di Banten cukup memadai untuk menyediakan fasilitas bagi petugas kesehatan yang sudah merelakan terjun langsung menangani pasien Covid-19.

“Pemprov di situ tanggung jawabnya. Kalau hanya nyemprot-nyemprot (disinfektan) itu kan sudah dilakukan kabupaten/kota buat apa,” kata Fitron. Selama ini menurutnya kebijakan Pemprov Banten dalam penanganan Corona masih tumpang tindih dengan kebijakan kabupaten/kota. “Pemprov harus berpikir yang lebih besar, soal rumah sakit fasilitasnya diperbaiki karena garda terdepan ada di dokter dan perawat,” kata dia.

Sudah semestinya, dokter dan perawat menurut dia, mendapat perlindungan dan fasilitas yang memadai. “Kalau makan minum sudah oke, tapi mereka minta vitamin C tambahan. Buah-buahan lah sekali-kali. Minum dari galon, karena mereka ini di kamar ambil minum akhirnya bercampur lagi. Harusnya yang kemasan botol saja supaya tidak campur. Juga handuk karena handuk yang disediakan kecil padahal mereka mandi berkali-kali,” katanya.

Hal lain yang membuat tenaga kesehatan di RSUD Banten gelisah juga soal isu pemotongan insentif. “Saya sudah konfirmasi ke Direktur (RSUD Banten) beliau belum mendengar (kabar pemotongan tersebut, tapi itu sudah viral menjadi kegelisahan di internal mereka. Kalau bisa jangan lah. Mereka kan prediksi sampai 3 bulan di situ, berikan jaminan keamanan. Kalau perlu yang honorer itu diusulkan ke pusat untuk jadi PNS. Mereka kan pahlawan (kemanusiaan). Mereka bukan hanya mempertaruhkan waktu, tapi nyawa,” kata dia.

Selain itu, petugas medis juga mengeluhkan masih langkanya Alat Pelindung Diri (APD). Ia berharap, anggaran yang besar yang bersumber dari Belanja Tak Terduga BTT sebesar Rp10,065 milyar. “Belanjakan lah dengan skala prioritas, supaya tidak tumpang tindih dengan kabupaten/kota,” kata Fitron.

Sebelumnya, Pemprov Banten mengklaim memberikan fasilitas isolasi kepada 127 Pegawai RSUD Banten, khususnya para Perawat ICU layaknya hotel bintang 5 (lima). Ratusan tenaga medis itu terdiri dari 121 petugas kesehatan dan 6 dokter spesialis yang bertugas dalam penanganan pasien Covid-19 di Provinsi Banten sejak Kamis  (26/3/2020).

Rencananya, Kamis (2/4/2020) besok, Fitron akan menemui Juru Bicara Penanganan Covid-19 yang juga Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Banten Ati Pramuji Hastuti untuk memberikan masukan atas hasil temuannya malam ini.

(You/red)