Beranda Opini Hiburan Malam Dibenci dan Dirindukan

Hiburan Malam Dibenci dan Dirindukan

Ilustrasi - foto istimewa google.com

Oleh Imanuel Setiawan, warga biasa tinggal di Kota Cilegon

Tempat hiburan malam di Banten selalu menjadi perbincangan hangat yang tak pernah usang. Kehadirannya seolah dikutuk namun juga selalu dirindukan.

Dikutuk oleh mereka yang melihat tempat hiburan malam sebagai tempat najis dan cara rendah mencari uang. Di rindukan karena di tengah komunitas masyarakat beragama yang semu, hiburan malam adalah zona pelampiasan nafsu yang ditekan.





Di Kota Cilegon misalnya, banyak yang tak sepakat dengan kehadiran hiburan malam. Tapi coba cek KTP mereka yang datang dan menikmati sajian di dalamnya.
Begitu juga di Tangsel, dan kabupaten dan kota lainnya.

Belum lagi jika bicara hiburan malam dari sisi bisnis dan perputaran uang. Mengapa sampai hari ini tempat hiburan malam selalu buka tutup, tentu urusan uang. Saya tidak mesti menjelaskan dari mana dan ke mana uang dari hasil hiburan malam digunakan. Pembaca tentu paham soal ini. Mulai dari oknum pejabat, oknum aparat hingga penjahat semuanya dapat.

Seorang penyair Binhad Nurohmat pernah bilang: “kota tanpa tempat hiburan malam bagai rumah tanpa kamar mandi”. Pernyataan seperti itu tentu akan ditolak oleh sebagian besar orang yang taat beragama. Tapi ditilik dari sudut pandang sosiologis, hiburan malam bisa jadi penyeimbang kejenuhan warga di daerah urban perkotaan yang menjalani rutinitas memburu materi.

Layaknya, kamar mandi, di dalamnya sudah terdapat kakus dan fasilitas membuang kotoran. Hiburan malam, juga tempat membuang kotoran dan kerak kejenuhan warga kotanya. Jika ini dihilangkan, bisa jadi pelecehan seksual merebak di mana-mana.
Sampai di sini, lokalisasi jadi penting. Supaya yang jorok dan najis tidak merebak ke mana-mana.

Pandangan itu bisa jadi salah. Jika pandangan terhadap hiburan malam menggunakan kacamata agama. Maka dari itu tarik-menarik pandangan semacam itu perlu mencari formula yang tepat dan tidak sebelah mata.

Pola yang dilakukan Risma di Surabaya dengan menutup Gang Dolly bisa menjadi salah satu studi menarik. Bukan cuma ditutup, perut warga yang hidup dari tempat yang konon najis itu juga perlu diperhatikan. Sudahkah Pemda memberikan pelatihan life skill kepada para pemandu lagu? Sudahkah pemda menyediakan lapangan kerja untuk mereka? Jika belum, saya kira perlu tindakan konkret sebelum memaki mereka sundal!