
SERANG – Tawa, senyum, dan wajah penuh rasa ingin tahu mewarnai halaman SD Negeri Banjar Sari 2, Kota Serang, pada hari pertama masuk sekolah, Senin (13/7/2026).
Sejak pagi, ratusan orang tua menggandeng tangan putra-putrinya untuk memulai babak baru melalui Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027.
Sebagian anak terlihat berani melangkah masuk ke kelas. Sebagian lainnya masih memeluk orang tua sambil sesekali menoleh ke belakang. Momen itu menjadi gambaran awal perjalanan mereka memasuki dunia sekolah dasar.
Kepala SDN Banjar Sari 2, Tajul Arifin, membuka kegiatan MPLS dengan memasangkan atribut sekolah kepada perwakilan siswa baru.
Pelepasan balon ke udara menjadi simbol dimulainya tahun ajaran baru sekaligus harapan agar para siswa tumbuh dan meraih cita-cita.
Tahun ini, SDN Banjar Sari 2 menampung 466 peserta didik. Sebanyak 74 siswa baru kelas I menempati dua rombongan belajar.
Tajul mengatakan, MPLS bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan proses penting agar anak-anak mengenal lingkungan sekolah, guru, teman, aturan, dan budaya belajar.
“MPLS menjadi langkah awal bagi siswa baru untuk mengenal lingkungan sekolah sehingga mereka merasa nyaman, percaya diri, dan siap mengikuti proses pembelajaran,” ujarnya.
Ia juga mengajak orang tua membangun komunikasi yang erat dengan sekolah. Menurutnya, guru dan keluarga memiliki peran yang sama dalam membentuk karakter anak.
“Kami berharap orang tua dapat bersama-sama mendidik anak-anak dan memberikan kepercayaan kepada guru dalam membimbing serta membentuk karakter mereka selama berada di sekolah,” katanya.
Namun, di balik suasana penuh kegembiraan, tersimpan kegelisahan para orang tua. Perhatian mereka tidak hanya tertuju pada proses belajar, tetapi juga keselamatan anak saat berada di lingkungan sekolah.
Dhika, salah satu orang tua siswa baru, mengaku lega melihat anaknya mulai memasuki jenjang sekolah dasar.
Meski begitu, ia menyimpan kekhawatiran terhadap kondisi sekolah yang berada tepat di tepi jalan raya dengan arus kendaraan yang padat.
Menurutnya, ketiadaan gerbang membuat area sekolah terbuka sehingga anak-anak berpotensi berlari ke arah jalan. Kondisi itu semakin diperparah dengan kendaraan yang kerap parkir sembarangan di sekitar akses masuk sekolah.
“Saya senang anak sudah mulai sekolah SD. Tapi saya khawatir karena sekolah berada di pinggir jalan raya, belum ada gerbang, sehingga anak-anak rawan bermain ke jalan. Apalagi kendaraan yang melintas cukup ramai dan masih banyak mobil yang parkir sembarangan di sekitar jalan masuk sekolah,” ujarnya.
Dhika berharap, pemerintah dan instansi terkait segera membangun gerbang sekolah serta menata lalu lintas di depan SDN Banjar Sari 2. Baginya, semangat menyambut tahun ajaran baru harus berjalan beriringan dengan jaminan keamanan bagi para siswa.
Hari pertama sekolah akhirnya tidak hanya menghadirkan cerita tentang anak-anak yang mulai mengejar mimpi, tetapi juga mengingatkan bahwa lingkungan belajar yang aman menjadi tanggung jawab bersama.
Penulis : Ade Faturohman
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd