Beranda Opini Guru yang Merdeka adalah Guru yang Sejahtera

Guru yang Merdeka adalah Guru yang Sejahtera

Ilustrasi upah guru honorer. (Google.com)

Oleh: Lilis Ashliati, S.Pd 

Bagaimana bisa merdeka sementara kesejahteraannya dirampas ? akankah empati mengajar dengan istilah keikhlasan mendidik dapat terinternalisasi dalam diri seorang Guru ? seharusnya yang paling sejahtera adalah guru. Kenapa demikian, karena Guru adalah Manusia merdeka yang selalu menyejahterakan manusia dari kesesatan-kesesatan yang membelenggunya sampai mereka berhasil menemukan hakikat kemanusiaannya yang merdeka dan sejahtera. Jepang ketika hancur sehancur-hancurnya, pemimpinnya pernah bilang “Berapa guru yang tersisa?” karena pemimpinnya paham bahwa Gurulah yang mampu merubah kehancuran ini semua. Nah, seharusnya bangsa kita belajar dari proses Jepang membangun.

Guru yang baik adalah guru yang berkualitas. Artinya mampu memproyeksikan sekreatif mungkin proses mengajarnya sesuai dengan zaman tentunya. Untuk mencapai itu harus pula meningkatkan daya pikirnya melalui literasi. Budaya membaca adalah cermin bagi seorang guru, sehingga saya selalu mengatakan “Guru yang baik adalah pembaca yang baik”.

Kualitas manusia menjadi sentral dalam membangun peradaban. Negara akan baik kalau manusianya baik, begitupun sebaliknya Negara akan buruk kalau manusianya buruk. Berarti pusatnya adalah terletak pada kualitas manusia itu sendiri. Keberhasilan seorang guru terlihat ketika peserta didiknya merdeka secara individual dan mendapatkan kesejahteraan yang hakiki. Sejahtera jasmanisnya dan sejahtera rohaninya. Kelak ia akan berkata “Inilah Jasamu”. Sebuah ungkapan menggembirakan untuk semua guru.

Selanjutnya adalah peran negara sebagai eskalator meningkatkan derajat manusia. Tugas negara menyekolahkan rakyat bukan menindas rakyat. Bagaimana mungkin janji kemerdekaan itu akan terlunasi “mencerdaskan kehidupan bangsa” kalau rakyatnya sengaja dipenjara dalam kebodohan. Jika negara sudah tidak peduli dengan peningkatan kualitas rakyatnya maka tinggal menunggu waktu akan ada otak-otak dari luar yang akan menjajah kembali secara halus tapi lebih menyiksa.

Manusia sebagai makhluk individu yang mengharapkan kemerdekaan dan kesejahteraan butuh bantuan negara untuk mencapai mimpi sejati setiap rakyatnya.

*Penulis Guru SMA Al Mubarok Kota Serang