Beranda Pendidikan Goethe dan Islam, Persentuhan Penyair dan Ilmuan yang Dalam

Goethe dan Islam, Persentuhan Penyair dan Ilmuan yang Dalam

554
0
Ceramah dan Baca Puisi penyair terbesar Jerman Johan Wolfgang von Goethe oleh ahli sastra Indonesia Berthold Damshäuser di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten, Jumat (20/9/2019) lalu

SERANG – Persentuhan penyair besar Jerman, Johan Wolfgang von Goethe (1749-1832) dengan khazanah Islam bukan hanya persentuhan sekadar. Goethe yang mengenal Islam melalui tradisi sufistik menilai Islam bukan sekadar agama yang kaku oleh dogma, lebih dari itu, Quran sebagai kitab suci menghadirkan keindahan, khazanah pengetahuan dan kedalaman.

Aku memandang, takjub dan girang bulu merak dalam al Qur’an terpasang: Selamat datang di bentangan suci,
Sang khazanah tertinggi di jagat ini!

….
Dengan tawadhu boleh kubanggakan harum-mu,
baru Kau patut bagi Khazanah suci sang ilmu.

(Kitab Parabel dalam Satu dan Segalanya karya Goethe diterjemahkan oleh Berthold Damshäuser dan Agus R Sarjono)

Pandangan Goethe tersebut di tengah masyarakat Eropa saat itu merupakan pandangan yang cukup berani. Namun Goethe yang dikenal sebagai pemikir moderat rupanya mencoba mendobrak batas-batas pagar agama maupun negara untuk terbuka terhadap kebenaran dari mana saja.

Dalam West-Oestlicher Divan atau Diwan Barat-Timur, Goethe yang salah satunya terpengaruh oleh penyair sufi Persia, Hafiz menganggap bahwa dualisme Barat dan Timur tidak lagi relevan dalam arti keduanya bisa bertemu dan menjadi rahmatan lil ‘alamin antara satu dan yang lainnya.

Yang kenal diri juga sang lain
Di sini pun kan menyadari:
Timur dan Barat berpilin
Tak terceraikan lagi.

Arif berayun penuh manfaat
Di antara dua dunia;
Melanglang timur dan barat
Mencapai hikmah mulia!
(Mukadimah Diwan, WOD tarjamah Damshäuser dan Sarjono, 2007)

Hal tersebut terungkap dalam Ceramah dan Baca Puisi penyair terbesar Jerman Johan Wolfgang von Goethe oleh ahli sastra Indonesia Berthold Damshäuser di Auditorium Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Serang, Banten, Jumat (20/9/2019) lalu.

Pak Trum, sapaan akrab Berthold Damshäuser, menyebut Goethe bersentuhan dengan khazanah Islam mula-mula melalui buku-buku puisi sufistik yang terapat di perpustakaan keluarganya. Dari sana pula minat Goethe terhadap Islam kian berkembang.

Di masa remaja, Goethe menulis naskah drama yang berjudul Mahomet yang ia dedikasikan untuk Nabi Muhammad Saw. Konon, naskah tersebut sebagai reaksi Goethe terhadap pertunjukan yang ditulis oleh Voltaire yang menggambarkan Muhammad secara peyoratif sebagai pembohong dan ahli sihir.

Selain naskah drama yang tak kunjung rampung tersebut, Goethe juga menulis sajak berjudul Himne Mahomet Gesang atau Dendang Nabi Muhammad. Puisi tersebut merupakan bentuk penghormatannya kepada sang nabi umat Islam, sekaligus nabi akhir zaman.

Jika ada yang murka karena Tuhan berkenan. Berkati Muhammad kebahagiaan dan lindungan, Sebaiknya dia pasang tambang kasar. Pada tiang rumahnya yang terbesar. Biar ikatkan diri di sana! Tali itu cukup kukuh. Akan ia rasakan murkanya meluruh.” Demikian Pak Trum membacakan salah satu puisi Goethe tentang Muhammad yang terinspirasi dari salah satu ayat dalam surat Al-Hajj.

Selain itu, lanjut penerjemah puisi Jerman ke dalam Bahasa Indonesia itu,
“Goethe mengagumi penyair Persia, Hafiz. Di samping itu pula Goethe terpesona dengan keindahan bahasa Qur’an,” kata pengajar Bahasa dan Sastra Indonesia di Lembaga Kajian Asia di Universitas Bonn, Jerman tersebut.

Kekaguman Goethe terhadap penyair sufi Persia tersebut menurut Berthold tertuang dalam puisi ini:

Wahai, Hafiz nan kudus, mereka
Memanggilmu sang lidah mistis,
Tapi mereka, para ahli kalam,
Tiada memahami nilai kata.

Mereka sebut kau mistis
Karena mereka sangka kau majenun,
Dan anggur mereka yang tak jujur
Mereka tuangkan atas namamu.

Namun dalam mistik kau murni
Karena mereka tak memahamimu,
Meski tak shalih, engkau suci!
Itu tak rela mereka akui.

Kekagumannya terhadap Islam membuat Goethe serius mempelajari bahasa Arab dan Persia. Dari sana pula kemudian ia melakukan perjalanan ke selatan untuk secara langsung mengunjungi tempat-tempat istimewa yang menjadi tempat berkembangnya khazanah sastra Islam.

Dari seluruh cakrawala pemikiran Goethe tersebut kemudian menempatkan Goethe sebagai jembatan bagi Barat dan timur, Islam khususnya. Salah satu puisi yang lain seringkali menyederhanakan bahwa Goethe sebenarnya telah memeluk agama Islam.

Alangkah pandir menganggap diri istimewa
Mengira keyakinan sendiri benar belaka.
Bila makna Islam pada Tuhan berserah diri,
Maka dalam Islam semua kita hidup dan mati.
(Nukilan, West-Oestlicher Divan tarjamah Damshäuser dan Sarjono)

Moderator Wahyu Arya menyebutkan tema mengenai persentuhan Goethe sebagai penyair, budayawan, ilmuan sekaligus negarawan dengan Islam sebelumnya hanya sayup-sayup terdengar di tanah air. Baru pada penerjemahan puisi Jerman edisi keempat yang mengangkat puisi-puisi Goethe berjudul Satu dan Segalanya (2007) tema Goethe dan Islam kian nyata.

“Yang sampai pada publik pembaca sastra di Indonesia sebelumnya dua karya Goethe yakni novel Penderitaan Pemuda Werther dan naskah drama Faust. Adapun tema Goethe dan Islam baru muncul secara gamblang dalam puisi Jerman keempat yang diterbitkan oleh Horison hasil terjemahan Berthold Damshäuser dan Agus R. Sarjono,” kata Wahyu.

Ketua Pelaksana Arip Senjaya menyatakan Ceramah dan Baca Puisi Goethe sebagai Jembatan Barat dan Islam tersebut terselenggara atas kerja sama Kedutaan Besar Republik Federal Jerman Jakarta dan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Acara juga didukung oleh BantenNews.co.id, Teater Kafe Ide Untirta dan Belistra Untirta.

Dalam kesempatan yang sama Arip menyambut baik kedatangan Berthold Damshäuser kali ketiga di Untirta. Sahabat dan dosen dari Jerman itu, menurut Arip sangat berkesan terutama dalam kerjasama di bidang kebudayaan.

“Saya berterima kasih sekali karena Pak Trum dan pihak Kedutaan Besar Republik Federal Jerman menjadikan Untirta sebagai tempat pertama berlangsungnya Ceramah dan Baha Puisi Goethe ini. Pak Trum adalah sahabat saya, bukan hanya dalam kerja-kerja serius, namun sahabat dalam suasana yang penuh keriangan,” kata magister filsafat dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta tersebut. (You/Red)