Beranda Sosial dan Budaya Festival Seni Multatuli 2018 Undang Penyair Menulis Puisi

Festival Seni Multatuli 2018 Undang Penyair Menulis Puisi

143
0
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid melihat Patung Multatuli karya Dolorosa Sinaga di Museum Multatuli, Lebak.

LEBAK – Dalam rangka mengenalkan pemikiran dan Museum Multatuli pada masyarakat, Pemerintah Daerah Kabupaten Lebak melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lebak bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan menggelar hajatan akbar bertajuk Festival Seni Multatuli pada 6-9 September 2018.

Kabid Kebudayaan Dindikbud Lebak sekaligus Ketua Panitia Festival Seni Multatuli, Wawan Sukmara mengatakan bahwa Festival Seni Multatuli merupakan sebuah lompatan ide dan pemikiran logis untuk sebuah potensi besar yang dimiliki Kabupaten Lebak.

“Saya harap dengan adanya acara ini dapat berdampak besar baik secara ekonomi, maupun cara pandang masyarakat terhadap perjalanan sejarah dan budaya di Kabupaten Lebak,” ujarnya, Selasa (31/7/2018).

loading...

Banyak konten acara yang menarik dalam acara ini, di antaranya Penerbitan dan Peluncuran Buku Antologi Puisi, Simposium, Pertunjukan Teater, Pertunjukan Seni Tradisi, Opera Saidjah Adinda oleh Ananda Sukarlan, Workshop kreatif bersama Dolorosa Sinaga, Karnaval Kerbau, Penelusuran Jejak Multatuli di Rangkasbitung, dan acara pendukung lainnya seperti panggung musik, tenun Baduy, Kopi dan Ngopi Bersama, Kuliner Lebak, dan lain sebagainya.

Salah satu konten acara yang sedang gencar mengajak masyarakat berpartisipasi yaitu Penerbitan dan Peluncuran Buku. Tujuan dari penerbitan ini, yaitu untuk menghasilkan karya berupa puisi sebagai bagian dari dokumentasi kolektif masyarakat dengan mengambil inspirasi dari pemikiran dan sikap Multatuli.

Dengan menjaring puisi-puisi dari masyarakat, diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan pada teks atau bahasa dalam bentuk puisi dan menjadi salah satu upaya dalam menciptakan ekosistem kebudayaan yang diusung dalam Festival Seni Multatuli, yaitu bahasa.

Menurut Wawan, buku antologi puisi ini menjadi salah satu upaya menginterpretasi ulang pemikiran dan sikap Multatuli yang pernah ada di Lebak. Kelanggengannya akan terpelihara dengan keikutsertaan banyak pihak dari berbagai wilayah. Cara pandang yang beragam akan lebih menyemarakkan konten dalam puisi-puisi tersebut.

“Ini upaya untuk menangkap ide besar dari seorang penyair. Setelah melihat sosok, sikap, dan membaca pemikiran Multatuli,” pungkasnya.

Penanggung Jawab Acara Penerbitan dan Launching Buku, Uthera Kalimaya menyebutkan jika melalui Undangan Menulis Puisi Bertema Multatuli ini panitia mengajak seluruh Warga Negara Indonesia berusia 20-40 tahun terlibat.

“Hanya saja, karena banyaknya peserta yang ingin berpartisipasi tetapi terhalang persyaratan poin pertama ini, kami tim Penanggung Jawab Penerbitan dan Launching Buku Antologi Multatuli sepakat untuk menghapuskannya,” ujar Uthera melalui rilis yang diterima wartawan.

Sebelumnya, perihal pembatasan usia 20-40 tahun itu, ia dan timnya sepakat mengambil rentang perjalanan Eduard Douwes Dekker yang diangkat menjadi Ambtenaar Pamong Praja di Sumatera Barat pada usia awal 20-an hingga ia mengurung diri di salah satu hotel di Brussel untuk menulis novel Max Havelaar dan melahirkan nama Multatuli pada usia akhir 30-an.

Sementara untuk persyaratan lainnya masih dipertahankan, yaitu para peserta diwajibkan mengirimkan minimal 3 dan maksimal 5 judul puisi beserta biodata berbentuk narasi dan scan KTP sebagai kelengkapannya. Pesyaratan tersebut dikirim melalui e-mail puisi.multatulifest@gmail.com. Penerimaan naskah puisi bertema Multatuli ini akan ditutup pada 10 Agustus 2018 pukul 23.59 WIB.

Penyair terpilih akan diumumkan pada 13 Agustus 2018 melalui website www.museummultatuli.id dan seluruh official media sosial Festival Seni Multatuli 2018. Buku Antologi Puisi Multatuli ini akan dilaunching pada 6 September 2018 di Aula Museum Multatuli, Rangkasbitung. (Red)