Beranda Opini Fenomena Aktivitas Dunia Virtual

Fenomena Aktivitas Dunia Virtual

237
0
Deni Darmawan Dosen Agama Islam Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang

Oleh : Deni Darmawan, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Pamulang dan Pengurus Lembaga Kajian Keagamaan Universitas Pamulang

Selalu ada hikmah dalam setiap musibah dan ujian, termasuk ujian mewabahnya Covid-19. Ujian atau musibah memang identik dengan kesulitan dan penderitaan, namun dibalik itu ada hal positif yang bisa kita dapatkan. Hikmah ketika kita berada di rumah saja, maka kedekatan dengan keluarga semakin erat dan banyak hal produktif yang dapat kita lakukan, mulai dari menanam, memasak, belajar, menulis bahkan mengikuti kajian, seminar serta workshop virtual yang ‘membludak’ yang mudah kita ikuti.

Dengan diam di rumah, ternyata tidak menghilang aktivitas kita, meskipun mewabahnya Covid-19 ini sangat berdampak pada ekonomi dan sosial kita. Apalagi saudara-saudara kita yang kerja harian atau ‘pejuang jalanan’ untuk mencari nafkah, rakyat kecil dan UMKM berdampak sangat serius. Hingga beberapa provinsi melonggarkan hingga menuju transisi PSBB, bahkan mencabut PSBB menyambut ‘New Normal’
Selama di rumah, segala aktivitas-aktivitas virtual masih bisa kita lakukan, selama peralatan teknologi mendukung. Aktivitas seperti workshop, seminar, kajian keagamaan, temu warga, halal bi halal, sidang, wisuda, bahkan cuma sekedar ‘kangen-kangenan’ dan aktivitas lainnya semua digelar melalui dunia virtual. Walaupun di rumah saja, dengan mengikuti aktivitas dunia virtual kita akan diajak ke belahan dunia, sekedar tour virtual atau jalan santai, sebuah aktivitas dunia virtual tanpa batas.

Biasanya, dalam ‘dunia nyata’ setiap seminar, workshop, dan kegiatan lainnya harus disiapkan berbulan-bulan, bahkan setahun. Itupun bisa batal karena satu dan lain hal. Namun, dimasa pandemi ini, seminar dan workshop seperti bukan lagi ‘barang mewah’ dalam dunia virtual. Tinggal daftar atau klik link, semua bisa masuk dan menikmati kegiatan virtual yang disajikan. Hampir semua kegiatan virtual tersebut gratis atau dikasih ‘diskon’agar partisipan membludak dan mengantri.

Munculnya fenomena aktivitas dunia virtual, semua kegiatan mudah dilaksanakan. Tidak sulit mencari dan mengatur nasumber, sebab mereka bisa atur di rumah untuk memberikan materi. Dalam dunia nyata, biasanya panitia harus mengikuti jadwal narasumber yang super padat.
Hebatnya, aktivitas dunia virtual seperti seminar dan workshop bisa digelar secara ‘dadakan’ tanpa persiapan yang ‘njelimet’. Semua info mengenai kegiatan virtual tersebut ‘seliweran’ di chat group. Berbagai sertifikat akan mudah di kita dapatkan. Sertifikat bukan lagi barang ‘mewah’. Dalam dunia virtual, sertifikat mudah kita dapatkan.

Bahkan sertifikat kosong, bisa kita ketik dengan nama sendiri, bahkan di share atau dijual bagi siapa saja yang membutuhkan.
Bagi yang haus dan suka berburu ilmu, adanya seminar dan workshop seperti ‘surga virtual’ baginya. Namun ada sebagian dari peserta ‘virtualiyah’, yang hanya ingin berburu sertifikat saja, tanpa memprioritaskan ilmu yang didapat, apalagi diaplikasikan. Bertumpuknya sertifikat yang didapat untuk menambah koleksi hingga usang tanpa makna.

Seorang mahasiswa, akademisi atau orang umum, jika hanya mengikuti seminar, workshop atau kegiatan virtual yang mengiming-iming sertifikat hingga peserta berbondong-bondong ingin ikut, maka proses pendidikan akan gagal karena ia tidak akan mendapat esensi dari kegiatan tersebut.

Sertifikat juga penting, sebagai bentuk penghargaan dan bukti kita mengikuti kegiatan tersebut. Namun, fungsi sertifikat akan bergeser ketika hanya sebagai pemantik massa dan mudah didapatkan cuma-cuma. Apalagi jika diberikan sertifikat kosong tanpa nama, maka akan mudah di share bagi siapa saja yang membutuhkan bahkan diperjualbelikan. Semudah itu sertifikat bisa dimanupulasi dengan teknologi.

Kejujuran kita diuji dalam hal ini.
Jika mengikuti seminar atau workshop virtual hanya sebatas sertifikat, tanpa lagi memprioritaskan ilmu yang didapat, tanpa mempedulikan pengalaman dan kompetensi narasumber, maka bisa jadi ini proses kegagalan dari pendidikan. Ilmu yang didapat terbatas karena ikut kegiatan tersebut hanya ingin mendapat sertifikat. Jika tidak ada, maka ia tidak akan tertarik.

Fenomena aktivitas dunia virtual, layaknya menu makanan yang bisa pilih sesuai selera. Tidak hanya ratusan, bahkan ribuan partisipan akan berebut antri ke dalam aktivitas dunia virtual agar bisa mengantri masuk layaknya dalam dunia nyata.
Disisi lain, aktivitas dunia virtual memang memudahkan kita mengadakan dan mengikuti kegiatan. Tapi disisi lain, kita akan sulit merasakan suasana hangat, suasana menegangkan, suasana heboh, suasana gemuruh dan sorakkan peserta, suasana haru-biru, suasana yang menyentuh hati dan suasana seru lainnya.

Aktivitas dunia virtual selama new normal akan terus dilakukan, bahkan ketika covid-19 hilang pun akan terus berlanjut, karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang semakin canggih. Ketika ilmu dan informasi mudah didapat dalam aktivitas dunia virtual, maka manfaatkan sebaik mungkin untuk meningkatkan kualitas diri dan tidak sebatas mendapatkan sertifikat. Selamat berselancar dalam aktivitas dunia virtual.

(***)