Beranda Peristiwa Fakta-fakta Pesawat Lion Air JT 610 yang Jatuh di Laut Karawang

Fakta-fakta Pesawat Lion Air JT 610 yang Jatuh di Laut Karawang

949
0
Ilustrasi - foto istimewa tribunnews.com

SERANG – Pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta menuju Pangkalpinang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Pesawat yang membawa 189 orang itu masih baru dan dinyatakan laik terbang.

Pesawat tersebut take off dari Bandara Soekarno Hatta pada Senin (29/10/2018) pukul 06.20 WIB dan diperkirakan tiba di Pangkal Pinang pada pukul 07.20 WIB.

Pesawat yang dipiloti Captain Bhavye Suneja itu membawa 189 orang. Pilot itu punya lebih dari 6.000 jam terbang.

Sejumlah fakta-fakta diungkap oleh Kementerian Perhubungan, Lion Air dan Basarnas.

Berikut fakta-faktanya seperti dilansir detik.com.

Ketinggian 2.500 Kaki

Pesawat Lion Air JT 610 terbang dan baru mencapai ketinggian 2.500 kaki sebelum mengalami hilang kontak.

“Untuk ketinggiannya masih 2.500 feet,” ujar Kabasarnas Muhammad Syaugi dalam konferensi pers di kantornya, Senin (29/10/2018).

Jarak lokasi jatuh pesawat tersebut dengan Jakarta, lanjut Syaugi, tidak terlalu jauh.

Pilot Ingin Balik ke Bandara

Sebelum hilang kontak dan jatuh, pesawat itu sempat ingin kembali ke Bandara Soekarno-Hatta.

“Pesawat sempat meminta return to base sebelum akhirnya hilang dari radar,” kata Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara, Sindu Rahayu dalam keterangan tertulis, Senin (29/10/2018).

Pada Pukul 06.22 WIB, pilot menghubungi Jakarta Control dan menyampaikan permasalahan flight control saat terbang di ketinggian 1.700 ft dan meminta naik ke ketinggian 5.000 ft. Jakarta Control mengizinkan pesawat naik ke 5.000 ft.

Lembaga pelayanan navigasi penerbangan, AirNav Indonesia, sempat ‘membukakan jalan’ supaya JT 610 bisa balik lagi ke Soekarno-Hatta.

“Dia cuma meminta return to base. Kita lihat, oke, kita berikan prioritas untuk return to base,” kata Manajer Humas AirNav Indonesia, Yohanes Harry Sirait.

Hilang Kontak

Pesawat itu tidak bisa dikontak setelah 13 menit terbang.

Lion Air itu berangkat dari Bandara Soekarno-Hatta pukul 06.20 WIB tujuan Pangkal Pinang. Kemudian mengalami lost contact pukul 06.33 WIB.

“Benar kami mendapatkan informasi tersebut (hilang kontak),” kata Corsec Airnav, Didiet KS Radityo saat dihubungi detikcom, Senin (29/10/2018).

Membawa 189 Penumpang

Pesawat itu membawa 189 orang.

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjono mengatakan pesawat membawa 189 orang. “178 dewasa, 1 anak-anak, 2 bayi, 2 pilot, dan 6 awak kabin,” kata Soerjanto dalam jumpa pers Basarnas dan KNKT, Jakarta, Senin (29/10/2018).

Tim SAR Basarnas masih melakukan pencarian dan evakuasi.

Pesawat Baru

Pesawat Lion Air JT 619 itu beroperasi sejak 15 Agustus 2018.

Corporate Communications Strategic of Lion Air Danang Mandala Prihantoro mengatakan pesawat tersebut jenis Boeing 737 MAX 8 dengan nomor registrasi PK-LQP. Pesawat dinyatakan laik terbang.

“Pesawat ini buatan 2018 dan baru dioperasikan oleh Lion Air sejak 15 Agustus 2018. Pesawat dinyatakan laik operasi,” kata Danang dalam keterangan tertulisnya, Senin (29/10/2018).

Pesawat Sempat Bermasalah

Semalam, pesawat tersebut bertolak dari Denpasar ke Jakarta. Berdasarkan informasi yang didapatkan dari situs flightradar24.com, pesawat ini bertolak 22.21 WITA, padahal dijadwalkan take off pukul 19.30 WITA. Pesawat itu landing di Jakarta pukul 22.56 WIB.

“Pesawat ini terakhir terbang dari Denpasar menuju Cengkareng, dalam posisi dirilis untuk terbang. Memang ada ada laporan mengenai masalah teknis dan masalah teknis ini sudah dikerjakan sesuai dengan prosedur maintenance yang dikeluarkan oleh pabrikan pesawat,” ujar Presider Lion Air Edward Sirait dalam konferensi pers di bandara Soekarno Hatta, Senin (29/10).

Meski demikian, Edward mengatakan kondisi pesawat dari Denpasar ke Jakarta dalam kondisi baik. Apabila ada masalah, lanjutnya, tidak mungkin pesawat itu diizinkan terbang.

ELT Tak Pancarkan Sinyal

Sinyal dari Emergency Local Transmitter (ELT) pesawat Lion Air JT 610 tersebut tak terdeteksi.

ELT merupakan bagian standar dari peralatan darurat pada pesawat. ELT dipasang di dalam kokpit atau bagian ekor pesawat. Alat tersebut memancarkan sinyal radio agar lokasi pesawat bisa diketahui sistem deteksi yang ada.

“Yang pasti, saat jatuh, beacon Emergency Local Transmitter (ELT) pada pesawat tersebut tidak terpancar atau memancarkan sinyal destress. Sehingga, jatuhnya pesawat tersebut tidak terpantau oleh Medium Earth Orbital Local User Terminal (MEO LUT) yang ada di Kantor Pusat Basarnas,” kata Kabasarnas Masdya M Syaugi.

Tidak Ada Kelalaian AirNav

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menilai tak ada kelalaian yang dilakukan lembaga pelayanan navigasi penerbangan, AirNav Indonesia.

“Kalau saya lihat, faktor-faktor kelalaian yang dilakukan oleh pihak-pihak AirNav dan sebagainya itu nyaris tidak ada,” kata Budi Karya Sumadi di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang, Banten, Senin (29/10/2018).

Menhub menyerahkan penyelidikan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). “Tapi apapun itu kami akan serahkan kepada KNKT,” imbuhnya. (Red)