Beranda Pilkada Serentak 2020 Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi Bersaing Ketat di Banten

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandi Bersaing Ketat di Banten

Lembaga survei Saeful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei elektabilitas Capres-Cawapres, Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersaing ketat di Banten.

SERANG – Tiga puluh hari menjelang Pilpres 2019, Lembaga survei Saeful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil survei elektabilitas Capres-Cawapres, Joko Widodo-Ma’ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno bersaing ketat di Banten.

Survei yang dilakukan sejak 27 Februari hingga 8 Maret 2019 melibatkan 1.630 responden di Banten dengan metode multistage random sampling dan memiliki toleransi kesalahan atau margin of error sebesar 2,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Seandainya Pilpres dilaksanakan hari ini pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf Amin unggul tipis dengan perolehan suara 43 persen. Sedangkan pasangan Prabowo-Sandi memperoleh 41 persen dengan swing voter sebesar 15 persen.





“Elektabilitas kedua belah calon hasilnya ketat. Selisihnya satu persen lebih besar margin error sehingga belum bisa dipastikan siapa yang unggul,” kata Deny Irvani Direktur Riset SMRC saat merilis hasil survei elektabilitas Capres dan Cawapres 2019 di salah satu hotel di Kota Serang, Senin (18/3/2019).

Bahkan menurut Deny, dari sebesar 12 persen masing-masing loyalis pendukung memiliki potensi besar untuk berubah pilihan.

“Perubahan dukungan dari loyalis calon yang didukung 12 persen masih besar kemungkinan untuk berubah pilihan,” katanya.

Akademisi Adi Prayetno menjelaskan potensi perubahan pilihan ini terjadi karena mayoritas di Banten pemilih sosiologis.

“Visi misi yang tebal di KPU itu tidak dibaca sama orang pemilih sosiologis yang penting adalah dia dekat dengan umat Islam atau tidak, dia dekat dengan ulama atau tidak,” terangnya.

Lanjut Adi, ada isu diluar rasionalitas yang dijadikan pilihan politik misalnya isu agama. Isu ini yang menjadi konsumsi umum bagi pemilih di Banten.

“Jadi yang terpenting adalah bagi pemilih sosiologis adalah emosional keagamaan yang lain tidak penting,” ucapnya.

Karena petahana membalikkan kondisi yang menunggu, antara memilih yang baru dan memilih golput.

“Isu akan berpengaruh besar. Di Indonesia memilih juga bukan karena rasional, tapi yang bisa membawa emosional keagamaan, kesatrian dan seterusnya. Sisi emosional menonjol,” imbuhnya. (You/Red)