Beranda Olahraga Dukung CUFC, Walikota Cilegon Minta Manajemen Klub Transparan ke Pemkot

Dukung CUFC, Walikota Cilegon Minta Manajemen Klub Transparan ke Pemkot

181
0
Walikota Cilegon, Edi Ariadi saat menyampaikan sambutan. (Foto : Gilang)

CILEGON – Tenda besar di halaman kantor Walikota Cilegon digelar untuk perhelatan Launching Tim dan Jersey Cilegon United Football Club (CUFC) pada Selasa (18/6/2019), ini adalah sebuah klub sepak bola daerah yang akan berlaga pada kompetisi Liga 2 musim ini.

Walikota Cilegon, Edi Ariadi yang hadir dalam kesempatan itu meminta manajemen CUFC untuk transparan terkait dengan sponsorship dan keuangan klub kepada Pemkot Cilegon. “Dia (CUFC) harus transparan ya, ada pertanggungjawaban, pendapatan, pengeluaran, dia harus laporan ke kita. Karena saya ingin ada pola yang baru,” ujar Edi.

Edi menambahkan, transparansi akan dilakukan oleh PT Cilegon Putra Mandala (CPM), selaku badan usaha yang menaungi CUFC. Ia mengisyaratkan bahwa hal itu perlu dilakukan mengingat adanya kevakuman euforia masyarakat setelah klub sepak bola itu terseret dengan persoalan hukum di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada 2017 silam.

“Saya melihatnya, (adanya persoalan hukum di KPK-red) yang kemarin itu karena soal manajemennya. Managerial knowledge, skill, ngga diikutin gitu loh. Bagaimana mengelola uang, tiket, fans dan sebagainya,” paparnya.

Pantauan di lokasi, kendati turut dihadiri unsur Forkopimda dan Walikota, namun acara itu tampak tak banyak dihadiri oleh pejabat eselon Pemkot Cilegon. Meski demikian, untuk keberlangsungan CUFC Edi mengajak masyarakat, industri dan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat proaktif. Dirinya bahkan membeli 1.000 tiket pertandingan untuk memotivasi seluruh pihak.

“Saya kira bukan soal (intervensi-red) anggarannya (CUFC) ya. Tapi lebih ke merekomendasi, mensupport dari belakang. Dan kita menjadi fasilitator (ke calon sponsor) tidak masalah, karena tidak ada hal-hal yang saya ikut campur mengelola. Jadi karena ini kebanggaan masyarakat, maka otomatis pemerintah daerah harus ikut juga, justru saya ingin lebih bagus bagaimana CU itu lebih terbuka mengelolanya. Karena dia sebagai badan usaha, ya dia harus juga berusaha untuk menghidupi CU-nya,” tandasnya.

Sementara itu CEO CUFC, Yudhi Apriyanto memandang transparansi keuangan klub itu perlu dilakukan. Pihaknya bahkan mengaku sudah melakukan audit keuangan klub dengan melibatkan sebuah kantor akuntan publik.

“Transparansi itu, kalau sudah masuk uang dari sponsor nih, laporannya buat apa itu kita sampaikan. Tapi selama ini kita kesulitan juga lah, paling sponsorship dapat 20 persen dari kebutuhan misalnya Rp10 miliar. Sekarang ini saja kebutuhan kita saja antara Rp8 miliar sampai Rp10 miliar per musim, tapi sampai sekarang belum ada sepeserpun yang saya terima,” katanya.

Di dunia persepakbolaan, kata Yudhi, untuk mendapatkan dukungan sponsorship guna memenuhi kebutuhan klub tersebut selama ini belum dapat diprediksi. Terlebih menurutnya persoalan hukum pada 2017 lalu sudah mempengaruhi kepercayaan publik dan dunia usaha pada klub.

“Kalau pada 2017 lalu itu kan sebenarnya (keungan CUFC) sudah baik, cuma karena ada musibah itu kan. Makanya saya juga tidak optimis target kebutuhan klub itu bisa terpenuhi, 2018 malah saya sendiri yang ngehidupin tim ini, tanpa campur tangan siapapun, saya jalani. Sepak bola itu bukan buat cari duit men, sepak bola itu buat keluarkan duit. Jadi kalau bicara transparansi, harus dilihat dulu, income-nya mana?. Saya yakin belum ada klub-klub di Indonesia itu yang bisa hidup sendiri, karena peran pemerintah daerah itu sangat kental,” tutupnya bersemangat. (dev/red)