KAB. TANGERANG – Warga Desa Cangkudu, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, kembali resah akibat aktivitas industri PT Bintang Orbit Surya Sejahtera (BOSS). Pabrik penghasil High Pressure Laminate (HPL) yang berdampingan dengan permukiman warga itu diduga mencemari udara, menimbulkan kebisingan, dan memperparah banjir di sekitar lokasi.
Meski kebisingan masih bisa ditoleransi, warga mengaku paling tersiksa dengan bau menyengat yang diduga berasal dari pabrik tersebut.
“Yang sangat menyiksa itu baunya,” ujar Mevi, salah satu warga terdampak, saat diwawancarai bantennews.co.id, Rabu (22/10/2025).
Menurut Mevi, bau yang ditimbulkan jauh lebih menyengat dibandingkan dengan aroma lem industri yang biasa ia cium saat bekerja di pabrik sepatu. Akibatnya, warga sering mengalami sesak napas, mual, dan pusing.
“Tiap kali tercium bau itu, dada terasa sesak, lalu mual dan pusing. Masker pun tidak membantu,” tuturnya.
Ditutup Bupati, Tapi Beroperasi Lagi
Kondisi ini, kata Mevi, sudah berlangsung hampir satu tahun. Warga sempat menggelar aksi demonstrasi karena tidak tahan dengan bau tersebut.
Aksi itu digelar sekitar Februari lalu, dan Bupati Tangerang Moch. Maesyal Rasyid menindaklanjuti dengan menutup pabrik pada pertengahan April setelah melakukan peninjauan langsung. Saat itu, warga mengaku lega karena bau hilang dan udara kembali segar.
Namun, penutupan tersebut hanya bertahan sebulan. Tak lama, PT BOSS kembali beroperasi dan bau menyengat kembali muncul.
“Begitu ditutup, kami bisa bernapas lega. Tapi tak lama mereka mulai produksi lagi pelan-pelan. Kami protes, tapi RT bilang pabriknya belum produksi. Padahal bau jelas tercium setiap hari,” ujar Mevi.
Warga Ditekan untuk Minta Maaf
Lebih memprihatinkan, warga yang berusaha memperjuangkan haknya justru mendapat tekanan. Mevi mengaku, suaminya pernah disomasi pihak pabrik setelah merekam aktivitas produksi.
Bahkan, saat warga menggelar aksi menjelang Ramadan 2025, foto-foto mereka terpajang di kantor desa dengan tuduhan sebagai provokator.
Alih-alih membela warga, pihak Pemerintah Desa Cangkudu justru meminta para peserta aksi untuk meminta maaf kepada perusahaan.
“Bingung juga, ini maksudnya apa? Kita yang terdampak, tapi malah disuruh minta maaf. Padahal yang harusnya minta maaf itu pihak perusahaan,” kata Mevi.
Ia menambahkan, dampak kesehatan kini makin terasa. Beberapa warga mengalami sesak napas, dan belakangan sekitar lima orang menderita gatal-gatal yang diduga akibat polusi udara.
Sudah Tiga Kali Ganti Pengelola, PT BOSS Paling Parah
Menurut Mevi, lokasi pabrik tersebut sebelumnya sudah dua kali digunakan oleh perusahaan lain. Namun dampak yang dirasakan tidak separah saat dikelola PT BOSS.
“Ini sudah yang ketiga, tapi yang paling menyiksa ya PT BOSS. Yang sebelumnya enggak separah ini,” tegasnya.
Hal senada diungkapkan warga lain, Fahrurozi. Ia menyebut rumahnya yang berdekatan dengan pabrik sangat terdampak bau menyengat tersebut.
“Beberapa ibu-ibu mengeluh anak balitanya sesak napas dan batuk-batuk. Kami minta Pemkab Tangerang turun tangan, hentikan sementara operasional PT BOSS,” ujarnya.
Camat Balaraja, Willy Patria, mengaku akan melakukan pengecekan ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Tangerang. Ia membenarkan bahwa dirinya turut mendampingi Bupati saat penutupan PT BOSS beberapa waktu lalu.
“Ada izin-izin yang harus diselesaikan, makanya ditutup sementara,” ujar Willy.
Terkait dugaan intimidasi terhadap warga dan permintaan maaf kepada perusahaan, Willy mengaku belum mengetahui dan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.
“Nanti kita kroscek,” singkatnya.
Sementara itu, Kepala DLHK Kabupaten Tangerang, Ujat Sudrajat, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti laporan warga dengan berkoordinasi bersama Pengawas Lingkungan.
“Kami akan cek dan koordinasi dengan Pengawas Lingkungan,” ujarnya.
Hingga berita ini diterbitkan, perwakilan PT BOSS, Deaby Anugrah Utama, belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi melalui pesan singkat.
Penulis: Saepulloh
Editor: Usman Temposo
