Beranda Pemerintahan Distanbun: Produksi Palawija di Lebak Capai 41.122 Ton

Distanbun: Produksi Palawija di Lebak Capai 41.122 Ton

Ilustrasi - foto istimewa tagar.id

LEBAK – Data produksi komoditas pertanian palawija di Kabupaten Lebak, Januari sampai Agustus 2019 tercatat mencapai 41.122 ton dengan produktivitas 6,52 ton per hektare dari luas tanam 6.304 hektare.

“Produksi palawija itu meningkat dibandingkan bulan yang sama Agustus 2018 yang mencapai 26.435 ton,” kata Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak, Iman Nurzaman dikutip dari AntaraNews.com, Minggu (22/9/2019).

Produksi palawija itu dapat memenuhi permintaan pasar lokal atas komoditas itu.

Saat ini komoditas pertanian palawija menjadi andalan sumber pendapatan petani daerah itu.

Pemerintah daerah mendorong petani terus memperluas areal tanam guna meningkatkan produksi. Pemerintah setempat juga mendorong peningakatan produktivitas tanamam palawija.

Selama ini, kata dia, prospek usaha budi daya tanaman palawija cukup menjanjikan karena permintaan pasar cenderung meningkat.

“Kami berharap petani terus meningkatkan luas tanam palawija dan produktivitasnya” ujarnya menjelaskan.

Menurut dia, produksi pertanian palawija sebanyak 41.122 ton itu antara lain jagung 15.146 ton, kedelai 21 ton, kacang tanah 229 ton, kacang hijau 13 ton, ubi kayu 22.835 ton, dan ubi jalar 2.877 ton.

Produksi pertanian palawija yang menjadi andalan pendapatan petani itu komoditas jagung dan ubi kayu.

Namun, sebaliknya beberapa komoditas palawija masih didatangkan dari luar daerah, seperti kacang hijau, kedelai dan kacang tanah.

“Kami minta petani dapat mengembangkan perluasan pertanian palawija sehingga ke depan tidak dipasok dari luar daerah,” ujarnya.

Seorang petani jagung di Kecamatan Gungkencana Kabupaten Lebak, Wawan (55) mengakui bahwa dirinya sangat terbantu ekonomi dari usaha budi daya pertanian palawija.

Bahkan, hasil panen Agustus 2019 sebanyak 10 ton menghasilkan pendapatan Rp20 juta dari lahan seluas dua hektare.

“Kami mengembangkan tanaman jagung itu karena pemasarannya mudah dengan ditampung oleh perusahaan pakan,” katanya.

(Red)