Beranda Pemerintahan Distan Banten: 2.666 Hektare Sawah Banten Kekeringan

Distan Banten: 2.666 Hektare Sawah Banten Kekeringan

Ilustrasi

SERANG — Musim kemarau mulai memukul sektor pertanian Banten. Kekeringan kini menjalar ke 2.666,25 hektare sawah, sementara 288,25 hektare di antaranya sudah gagal panen atau puso.

Data Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten hingga 14 Agustus 2026 menunjukkan ancaman kekeringan terus membesar. Luas sawah yang puso melonjak tajam dibandingkan akhir Juli 2026 yang masih berada di kisaran 60 hektare.

Kepala Bidang Prasarana Dinas Pertanian Provinsi Banten Saeful Bauri Memun mengatakan kekeringan menyerang sawah dengan tingkat kerusakan berbeda, dari kategori ringan hingga puso.

“Secara kumulatif kekeringan masa tanam 2026 hingga tanggal 14 Agustus 2026, untuk sementara yang terkena dampak 2.666,25 hektare. Intensitas ringan 1.250 hektare, sedang 655 hektare, berat 473 hektare, puso 288,25 hektare,” kata Saeful, Kamis (20/8/2026).

Kabupaten Serang mencatat dampak kekeringan terluas. Sebanyak 976 hektare sawah di 12 kecamatan dan 48 desa terdampak kekurangan air.

Dari luasan itu, 137,5 hektare sudah puso. Sebanyak 234 hektare kembali mendapat pasokan air, 99 hektare telah memasuki masa panen, sementara 279 hektare lainnya masih menghadapi ancaman kekeringan.

Kabupaten Pandeglang menyusul dengan 865 hektare sawah terdampak yang tersebar di 20 kecamatan dan 46 desa. Kekeringan telah menyebabkan 14 hektare puso, sementara 355 hektare masih terancam kekurangan air.

Di Kabupaten Tangerang, kekeringan menyerang 457,75 hektare sawah di 16 kecamatan dan 39 desa. Sebanyak 119,75 hektare mengalami puso, 20 hektare pulih, dan 41 hektare telah panen.

Kabupaten Lebak mencatat 330 hektare sawah terdampak di 11 kecamatan dan 24 desa.

Sementara di Kota Serang, kekeringan melanda 37 hektare sawah di tiga kecamatan dan tujuh kelurahan. Sebanyak 17 hektare sudah puso dan delapan hektare kembali pulih.

Baca Juga :  Terendam Banjir, Seleksi P3K di Lebak Diundur

Meski begitu, sebagian lahan berhasil keluar dari ancaman kekeringan setelah hujan turun dan petani mendapat bantuan pompanisasi.

“ Terdapat 294 hektare lahan yang sudah kembali pulih akibat adanya hujan dan pompanisasi. Sementara, sebanyak 735 hektare lainnya telah pulih karena sudah memasuki masa panen,” jelas Saeful.

Distan Banten kini menyiapkan langkah cepat untuk menekan kerugian petani. Pemerintah mendorong penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering, memetakan wilayah rawan, serta mengoptimalkan pompa dan irigasi perpipaan.

“Untuk penanganan jangka pendek, kami mendorong sejumlah langkah, mulai dari penggunaan varietas padi yang lebih tahan terhadap kondisi kering, pemetaan wilayah terdampak, hingga optimalisasi pompanisasi dan irigasi perpipaan,” ujar Saeful.

Bagi petani yang sawahnya sudah puso, Dinas Pertanian Banten mendorong pemanfaatan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) untuk mengurangi dampak kerugian akibat gagal panen.

Ke depan, pemerintah juga menyiapkan perbaikan infrastruktur irigasi, diversifikasi tanaman, perluasan perlindungan AUTP, dan penguatan brigade alat serta mesin pertanian.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distan Provinsi Banten, Nasir M Daud mengatakan, pemerintah juga membidik sumber mata air di bawah kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3) untuk menjaga suplai air ke lahan pertanian.

“Kita sudah rapatkan persoalan itu beberapa hari lalu, kita akan upayakan agar sumber mata air di bawah kewenangan BWSC3 bisa dimaksimalkan. Supaya ketika musim kemarau, pasokan air untuk sawah tetap ada,” katanya.

Pemerintah menargetkan langkah lintas sektor tersebut mulai berjalan secara bertahap pada 2027. Namun, sebelum skema jangka panjang itu terwujud, ribuan hektare sawah di Banten masih menghadapi ujian kemarau dan risiko gagal panen.

Penulis : Audindra Kusuma
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd