PANDEGLANG — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pandeglang menyiagakan 36 puskesmas selama 24 jam untuk mengantisipasi gangguan kesehatan akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau (GAK).
Kepala Dinkes Pandeglang, Eni Yati mengatakan, seluruh puskesmas di 35 kecamatan meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menghadapi risiko gangguan pernapasan akibat paparan abu vulkanik.
“Kami menyiagakan semua puskesmas di 35 kecamatan. Puskesmas buka 24 jam untuk mengantisipasi dampak abu vulkanik,” kata Eni Yati, Senin (7/9/2026).
Petugas kesehatan juga turun langsung ke lapangan. Mereka membagikan masker kepada warga sekaligus memberikan edukasi tentang bahaya abu vulkanik dan cara melindungi saluran pernapasan.
“Pada Minggu pagi, semua puskesmas membagikan masker kepada masyarakat di wilayah masing-masing. Teman-teman kesehatan juga memberikan edukasi mengenai bahaya abu vulkanik,” ujarnya.
Dinkes Pandeglang memperketat pemantauan kesehatan warga di wilayah selatan dan kawasan pesisir yang terdampak sebaran abu. Hingga Senin, Dinkes belum mencatat kenaikan signifikan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
“Dari hasil monitoring di puskesmas wilayah selatan dan pinggir pantai, belum ada peningkatan kasus ISPA. Kondisinya masih relatif aman,” kata Eni.
Meski belum terjadi lonjakan ISPA, sejumlah warga mengeluhkan sesak napas yang diduga berkaitan dengan paparan abu vulkanik. Puskesmas masih menangani kasus ringan, sementara rumah sakit menyiapkan tim medis untuk pasien yang membutuhkan penanganan lanjutan.
“Kalau ada satu atau dua kasus, masih bisa kami tangani di puskesmas. Kalau memang tidak bisa ditangani, rumah sakit sudah menyiapkan tim untuk penanganan,” ucapnya.
Eni meminta warga tidak menganggap remeh abu vulkanik. Partikel halus yang masuk melalui hidung dapat mencapai paru-paru dan mengganggu sistem pernapasan.
“Abu vulkanik itu berbahaya. Kalau terhirup melalui hidung, partikelnya bisa masuk ke paru-paru dan mengganggu pernapasan,” tegasnya.
Dinkes meminta warga menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama ketika abu vulkanik kembali meningkat. Warga juga perlu mengurangi aktivitas di luar ruangan jika kondisi udara memburuk.
Penulis : Mg-Madani Prasetia
Editor : Tb Moch. Ibnu Rushd
