SERANG — Sabtu siang, Gedung Serbaguna Al Furqon di Perumahan Taman Lopang Indah tak sekadar dipenuhi orang, ia dipenuhi cerita.
Tawa bersahutan, tangan saling menjabat, dan obrolan mengalir tanpa sekat. Warga dari latar belakang berbeda duduk berdampingan, merayakan satu hal yang sama: kebersamaan.
Halal bihalal yang digelar warga RW 07, Kelurahan Lopang, Kecamatan Serang, bukan seremoni biasa. Ia menjadi ruang temu bagi keberagaman yang selama ini hidup berdampingan diam-diam kuat, tapi jarang dirayakan bersama.
Tema yang diusung, “Kebersamaan yang Menguatkan, Perbedaan yang Menyatukan,” tidak berhenti di spanduk. Ia terasa di setiap sudut ruangan.
Ketua panitia, H Yosep Hidayat, berdiri di tengah warga yang datang dengan identitas masing-masing berbeda agama, suku, dan latar belakang. Namun, tidak ada jarak.
“Di sini, perbedaan bukan masalah. Justru itu yang membuat kita kuat,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Yosep tidak sekadar berbicara. Ia menyaksikan sendiri bagaimana lingkungan itu tumbuh dengan nilai saling menghormati.
Warga terbiasa hidup berdampingan tanpa harus menyeragamkan diri.
Di tengah suasana hangat itu, ada kebanggaan lain yang ikut dirayakan selesainya pembangunan Gedung Serbaguna Al Furqon. Bangunan itu bukan sekadar fisik, tapi simbol gotong royong warga.
Dindingnya berdiri dari iuran dan tenaga bersama. Fungsinya pun dikembalikan untuk semua mulai dari kegiatan warga hingga hajatan pribadi, tanpa biaya, kecuali sekadar listrik dan kebersihan.
“Ini milik bersama. Siapa pun bisa pakai,” kata Yosep.
Tokoh masyarakat setempat, H Imam Rana, melihat acara ini lebih dari sekadar silaturahmi. Ia menyebutnya sebagai cara sederhana menjaga harmoni di lingkungan yang majemuk.
“Kalau tidak dirawat, kebersamaan bisa renggang. Kegiatan seperti ini yang mengikat kembali,” ujarnya.
Ia juga menyinggung kondisi lingkungan yang relatif aman dan kondusif sesuatu yang, menurutnya, lahir dari kesadaran kolektif warga, bukan semata aturan.
Menjelang sore, acara ditutup dengan makan bersama. Tidak ada kursi khusus, tidak ada kelompok-kelompok kecil. Semua melebur dalam satu suasana kekeluargaan.
Di tengah riuh sederhana itu, Taman Lopang Indah menunjukkan satu hal kerukunan tidak datang tiba-tiba. Ia dibangun, dijaga, dan sesekali—dirayakan bersama.
Tim Redaksi
