Di balik bentangan rindang Kampung Babakan Mandala, Desa Mandalasari, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, waktu seolah berjalan lebih lambat. Udara khas lereng Banten yang sejuk mengusap lembut deretan pepohonan, membawa ketenangan yang jauh dari hiruk-pikuk megapolitan. Di tempat inilah sebuah bangunan vila berdiri anggun namun bersahaja. Bagi warga yang melintas, bangunan itu mungkin hanya tampak seperti hunian peristirahatan biasa. Namun, bagi keluarga besar jenderal berbintang tiga itu, bangunan tersebut menyimpan denyut nadi yang menghidupkan kenangan masa lalu, Rumah Mamah.
Rumah itu bukan sekadar tumpukan batu bata dan kayu. Di bawah naungannya, hangat ikatan darah dijaga lintas generasi. “Ini vila, tapi beliau selalu bilang ini Rumah Mamah. Karena ini punya orang tuanya, cuma beliau yang bangun. Jadi dipanggilnya Rumah Mamah,” tutur Tubagus Hikmat, salah seorang kerabat keluarga, Sabtu (3/10/2026).
Di Rumah Mamah inilah perjalanan panjang seorang perwira tinggi kepolisian, Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, menemukan akar dan jangkar spiritualnya. Meski kini ia mengemban amanah besar di puncak hierarki Korps Bhayangkara sebagai Kapolri, Pandeglang dan Rumah Mamah tetap menjadi tempat Suyudi melepaskan seragam kebesarannya dan kembali menjadi seorang anak, adik, serta paman.
Akar di Kadupinang, Kenangan Kecil di Tanah Banten
Jejak Suyudi di Banten bukanlah kisah yang dibuat-buat. Garis silsilah keluarganya terikat kuat dengan tanah Pandeglang, khususnya wilayah Kampung Kadupinang dan sekitarnya, yang merujuk pada sosok leluhur keluarga, H. Nuriyah.
Suyudi sendiri merupakan anak kedua dari lima bersaudara, buah hati pasangan Haji Mardi dan ibundanya. Tumbuh bersama empat saudaranya, Dini, Suyudi, Winda, Adit, dan Haji, Suyudi menghabiskan masa kecil hingga pendidikan dasarnya di Jakarta. Namun, garis lintang perkotaan tidak pernah benar-benar memutus hubungannya dengan tanah leluhur.
Enzen Jaenudin Ebby, paman atau ua Suyudi yang menetap di Pandeglang, mengenang sosok keponakannya itu saat masih belia. Tidak ada tanda-tanda mencolok atau perlakuan istimewa yang membedakannya dari anak-anak desa sebayanya ketika bertandang ke Pandeglang.

“Masa kecilnya di Jakarta, tapi kadang-kadang main ke sini. Seperti anak-anak biasa saja, main-main biasa,” kenang Enzen dengan senyum hangat.
Di mata sang paman, Suyudi kecil adalah pribadi yang santun dan memegang teguh nilai kesopanan. Satu hal yang paling berbekas dalam ingatan keluarga adalah rasa bakti Suyudi yang begitu mendalam kepada kedua orang tuanya. Budi pekerti inilah yang diyakini keluarga menjadi pijakan utama dalam membentuk karakter dan kepemimpinannya di kemudian hari.
“Dia sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Sangat bagus, sangat berbakti,” ungkap Enzen.
Tempat Pulang dan Suasana Lebaran di Rumah Mamah
Karier di kepolisian membawa Suyudi melangkah jauh, melintasi berbagai penugasan berat di ibu kota hingga pelosok negeri. Namun, magnet Pandeglang selalu berhasil menariknya kembali. Ketika penat melanda atau saat momen suci seperti Hari Raya Lebaran tiba, Rumah Mamah menjadi saksi bisu berkumpulnya keluarga besar Haji Mardi.
Di rumah yang dibangunnya khusus untuk sang ibu tersebut, batas-batas jabatan luntur. Suyudi menginap dan beristirahat bersama kakak, adik-adik, serta kedua orang tuanya di bawah satu atap. Dalam riuh rendah tawa keluarga, dentang piring saat makan bersama, hingga perbincangan hangat di teras vila, Rumah Mamah menjalankan fungsinya sebagai muara penawar rindu.
“Dulu waktu Lebaran di sini juga. Nginep di sini, dengan adik-adiknya, dengan kakaknya, dengan orang tuanya,” cerita Tubagus Hikmat. Bagi keluarga, tempat itu menjadi ruang penyatu, merekatkan kembali hubungan kerabat yang terpisah oleh ruang dan kesibukan karier di Jakarta.
Doa dan Kebanggaan dari Kampung Halaman
Kehidupan pribadi Suyudi kini diramaikan oleh kehadiran tujuh orang buah hati dari pernikahannya, sebuah keluarga besar yang harmonis. Enzen menyebutkan, dari tujuh anak tersebut, tiga anak pertama adalah laki-laki, anak keempat perempuan, sedangkan anak kelima hingga ketujuh kembali laki-laki. Anak-anak itu tumbuh dalam bimbingan nilai-nilai kekeluargaan yang kuat.
Kini, ketika kabar kepercayaan besar menempatkan Suyudi di pucuk pimpinan Kepolisian Republik Indonesia, kebanggaan membuncah tak hanya di dada keluarga besar, tetapi juga menjalar ke warga di Kaduhejo dan Pandeglang secara luas.
Bagi sang paman dan kerabat di tanah Banten, pencapaian Suyudi adalah bukti bahwa ketulusan, rasa bakti kepada orang tua, dan kerendahan hati mampu membawa seseorang melangkah hingga ke puncak pengabdian bagi negara.
“Bangga sekali. Kalau ada orang Pandeglang menjadi orang terpandang, ya bangga banget,” tutur Enzen penuh haru.
Meski kini menyandang amanah tertinggi di Korps Bhayangkara, bagi Enzen, Hikmat, dan keluarga besar di Pandeglang, Suyudi tetaplah sosok anak dan keponakan yang sama. Sosok yang suatu hari nanti akan kembali melangkah menelusuri jalan kecil di Babakan Mandala, membuka pintu kayu vila, dan kembali bernapas lega di Rumah Mamah.
Penulis: Mg-Madani Prasetia
Editor: Wahyudin
