Beranda Berita Premiun Di Balik Gagalnya Bantuan Bank Dunia Rp102 Miliar Pembangunan TPST Pemkot Cilegon

Di Balik Gagalnya Bantuan Bank Dunia Rp102 Miliar Pembangunan TPST Pemkot Cilegon

Ilustrasi - (Foto Media Indonesia)

CILEGON – Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon sempat menggantungkan harapan besar pada program bantuan Bank Dunia senilai Rp102 miliar untuk pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST). Namun, surat yang datang pada pertengahan Juli justru menjadi penanda batalnya semua rencana besar itu. Kini, mereka menata ulang harapan dengan sisa semangat dan proposal yang belum usang.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin, tampak tak bisa menyembunyikan nada kecewa dalam suaranya. Rabu pagi, 30 Juli 2025, di ruang kerjanya yang penuh dokumen proyek dan peta perencanaan kota, ia membenarkan kabar yang sempat berembus beberapa hari terakhir: bantuan dana dari Bank Dunia untuk pembangunan (TPST senilai Rp102 miliar resmi dibatalkan.

“Suratnya keluar 15 Juli lalu. Jujur saja, kami kaget,” ujar Sabri, mencoba terdengar tenang.

Bantuan tersebut sejatinya merupakan bagian dari program Improvement of Solid Waste Management to Support Regional and Metropolitan Cities Project (ISWMP) Tahap III, yang digarap Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya. Cilegon termasuk dalam kota-kota yang dijanjikan sokongan anggaran besar untuk memperkuat infrastruktur pengelolaan sampahnya.

Sabri menjelaskan, pihaknya tidak hanya menyambut program ini dengan tangan terbuka, tapi juga dengan kesiapan administratif dan fisik yang menyedot anggaran daerah hingga miliaran rupiah.

“Kita siapkan lahan, sertifikatnya, dokumen lingkungan, dan kelembagaan juga sudah kita bentuk. Totalnya ada sekitar Rp2 miliar yang sudah kami keluarkan dari APBD 2023 dan 2024,” katanya.

Sisa Waktu dan Gagal Lelang

Penyebab pembatalan bantuan tidak hanya satu. Dalam surat dari Ditjen Cipta Karya yang diterima DLH, disebutkan bahwa program ISWMP menghadapi keterbatasan waktu pelaksanaan. Masa berlaku pinjaman Bank Dunia itu berakhir pada November 2025. Hingga saat ini, belum ada sinyal perpanjangan dari pihak Bank Dunia.

Baca Juga :  Pemkab Lebak Akan Kucurkan Rp20 Miliar untuk Insentif Keagamaan

“Steering Committee ISWMP akhirnya memutuskan sisa waktu yang tersedia lebih baik difokuskan untuk optimalisasi TPST tahap I dan II, bukan memulai yang baru seperti Cilegon,” ujar Sabri, membaca ulang keputusan itu.

Kendala lainnya adalah gagal lelang yang terjadi dua kali berturut-turut di tingkat pusat. Proyek Cilegon menjadi bagian dari daftar panjang usulan yang tertunda karena proses tender yang tidak kunjung menemui pemenang.

“Gagal lelang itu salah satu poin evaluasi mereka. Jadi ya, batal total,” katanya, lirih.

Klaim Tak Sepenuhnya Rugi

Kendati demikian, Pemkot Cilegon menolak untuk menganggap langkah mereka sebagai kerugian. Aset dan dokumen yang telah disiapkan tetap bisa digunakan, bahkan Feasibility Study (FS) yang disusun oleh tim ISWMP pun kini telah dihibahkan kepada Cilegon.

“Kami akan manfaatkan FS itu untuk ajukan proposal ke lembaga atau donor lain. Minimal pondasi sudah kuat,” kata Sabri.

Dengan hilangnya anggaran jumbo itu, perhatian kini beralih ke sektor hulu. DLH Kota Cilegon disebut mendapatkan tawaran program pengganti yang fokus pada penguatan kelembagaan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.

“Ada tawaran bantuan 5 cator (gerobak motor) dan 15 mobil pick up,” jelas Sabri. “Tapi ditolak oleh Pak Wali. Beliau minta truk dan alat berat.”

Wali Kota Cilegon disebut ingin upaya pengelolaan sampah tidak berhenti di tingkat RT atau kelurahan, tetapi langsung menyentuh persoalan besar seperti transportasi dan sistem pengolahan terpadu.

Mimpi Besar yang Belum Selesai

Cilegon memang tengah mengincar lompatan besar dalam tata kelola sampah. Kota industri yang tumbuh pesat itu kini menghadapi beban produksi sampah yang terus meningkat dari tahun ke tahun. TPST menjadi jawaban jangka panjang yang dinilai ideal—jika bukan satu-satunya.

Baca Juga :  Soroti Batalnya Bantuan Bank Dunia Rp102 Miliar TPST Cilegon, Dewan: Ini Namanya Ngerjain Pemkot!

“Jangan sampai semuanya hanya berhenti di gerobak dan kampanye memilah sampah,” kata seorang aktivis lingkungan lokal yang enggan disebutkan namanya. “Harus ada sistem yang kuat di hilir. Dan TPST itu kuncinya.”

Meski sempat kandas, Pemkot Cilegon belum menyerah. Surat-surat masih disusun, lahan masih terjaga, dan proposal-proposal baru mulai diketik ulang. Di tengah kepungan persoalan klasik kota berkembang, harapan tak sepenuhnya terkubur.

“Bantuan boleh gagal, tapi niat kami tidak,” tutup Sabri. “Kami tetap cari jalan lain.”

Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin