Beranda Pemerintahan Desa Korban Tsunami di Pandeglang Ini Mulai Bangkit

Desa Korban Tsunami di Pandeglang Ini Mulai Bangkit

47
0
Foto istimewa

PANDEGLANG – Pasca terjadinya tsunami pada tahun lalu, menjadikan lingkungan di Desa Teluk menjadi terlihat kumuh. Namun, saat ini tidak lagi lantaran diluncurkannya program Kotaku (Kota Tanpa Kumuh) oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Ujang Suminta Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) Desa Tekuk mengungkapkan jika program Kotaku memberikan perubahan yang signifikan di desanya.

“Awalnya wilayah kami ini kumuh sehingga tidak indah dipandang, sekarang berubah menjadi bersih dan rapi,” kata Ujang Suminta ditemui saat Bupati Pandeglang Irna Narulita meninjau progres pembangunan program Kotaku, Sabtu (9/11/2019).

Dikatakan Ujang jika masyarakat di tiga kampung ini sangat mendukung sekali program Kotaku karena ini merupakan program yang diinginkan oleh masyarakat.

“Dari anggaran yang diberikan dibuat bebrapa kegiatan yaitu Jalan Lingkungan, Drainase, Sarana Air Bersih dan IPAL. Yang dibangun ada tiga kampung yakni Pasir Tanjung, Kampung Perikanan dan Kampung Nelayan, kenapa ditiga kampung itu karena ada survey sehingga terdapat base line,” katanya melalui siaran tertulis.

Ketua fasilitator Kabupaten pandeglang program Kotaku Rifki Rahdiansyah mengatakan anggaran yang diluncurkan program Kotaku tahun ini kurang lebih Rp2 miliar untuk dua Desa di Kecamatan Labuan yaitu Desa Teluk dan Cigondang.

“Alasan menunjuk dua Desa tersebut karena mengacu kepada SK Bupati pada tahun 2015, bahwa ada dua desa yang termasuk kumuh diwilayah Kecamatan Labuan,” kata Rifki

Lebih lanjut Rifki mengatakan program Kotaku tahun ini merupakan skala lingkungan, kata dia lebih dari itu dirinya sedang merancang untuk skala kawasan.

“Sekarang sedang dalam perencanaan, nanti kita ajukan dalan skala kawasan untuk penataan kawasan labuan satu diantaranya penataan pasar, spadan sungai, penataan pantai galau dan pembuatan land mark yanga akan menjadi destinasi wisata baru,” imbuhnya.

Terkait anggaran, dikatakan Rifki, jika skala lingkugan Rp2 miliar, untuk skala kawasan akan lebih besar.

“Kemarin contoh yang sudah dibangun di Aceh tepatnya di Padang kurang lebih 21 Miliar, dan kita mengajukan diatas 30 miliar,” tandasnya.

(Red)