Beranda Sosial dan Budaya Derita Sumiati, Tinggal di Rumah Reyot, Setiap Hujan Kebocoran

Derita Sumiati, Tinggal di Rumah Reyot, Setiap Hujan Kebocoran

Kondisi rumah Sumiati (50) warga Kampung Sawargi RT 05/ RW 02, Desa Lebak Parahiang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. (Fotografer - Ali/BantenNews.co.id)

LEBAK – Sumiati (50) warga Kampung Sawargi RT 05/ RW 02, Desa Lebak Parahiang, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten terpaksa tinggal di rumah dengan kondisinya mimprihatinkan dan hampir ambruk.

Sumiati mengungkapkan, bukanya tidak mau memperbaiki rumah, namun karena serba kekurangan semua itu hanya impiannya saja. Sebab untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya dari upah tani dan mencuci baju pun tidak cukup.

“Boro-boro untuk memperbaiki rumah, buat makan dan ongkos anak ke sekolah saja uangnya pas-pasan,” kata Sumiati saat ditemui Bantennews.co.id, di kediamanya, Minggu (4/11/2018).





Sumiati mengaku tidak bisa berbuat banyak lantaran himpitan ekonomi. Rumah yang ia tempati jauh dari kata layak. Dinding bilik dan kayu-kayu penyangga rumah mulai lapuk. Ia bersama empat orang anak beserta kedua cucu dan seorang menantu terpaksa menempati rumah tersebut walaupun sering bocor saat hujan deras.

“Kalau hujan terpaksa ngungsi ke rumah saudara atau tetangga, karena semua atap rumah sudah bocor semua. Di rumah ini, saya tinggal bersama anak cucu. Kalau suami sudah lebih dari sembilan tahun gak ada kabar,” terang Sumiati.

Sumiati sebenarnya mempunyai enam orang anak, akan tetapi karena keterbatasan dan kemiskinan terpaksa dua buah hatinya dititipkan kepada saudaranya

“Sebenarnya ada dua orang anak lagi akan tetapi saya titipkan kepada saudara,” ujarnya lirih.

Tidak ada harapan lain, Sumiati saat ini hanya bisa berharap ada perhatian dari Pemerintah Kabupaten Lebak untuk sekadar membantu memperbaiki rumahnya.

“Dulu rumah ini pernah didata, katanya untuk mendapat bantuan rehab rumah. Tapi sampai sekarang belum ada bantuan yang datang,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Lebak Parahiang, Aat Suangsih mengaku prihatin dengan kondisi yang dialami warganya. Bahkan, pihak desa sudah mengajukan proposal perbaikan rumah tidak layak huni (RTLH) ke Pemkab Lebak dan Provinsi Banten, namun hingga saat ini belum ada realisasi.

“Tahun 2016 kami sudah mendata sebanyak 32 RTLH untuk mengajukan proposal ke Dinsos Lebak, dan tahun 2017 juga diusulkan ke Perkim Provinsi Banten, tapi sampai sekarang belum juga ada tindak lanjut dari Dinas,” kata Aat Suangsih.

Terkait program RTLH, pihaknya meminta kepada Pemkab Lebak untuk tidak pilih kasih. Karena menurutnya, penyaluran program tersebut tidak merata. Pasalnya, banyak warga yang seharusnya mendapat bantuan malah tidak ada dalam daftar penerima.

“Kalau ada, ya dibagi-bagi saja. Jangan hanya desa itu-itu saja yang dapat, karena di desa-desa yang lain juga masih banyak rumah yang kurang layak,” kata Aat.

Ia menambahkan, Pemkab Lebak juga agar memperhatikan kondisi warga yang kurang mampu. “Bagaimana akan tercipta program Lebak sehat, Lebak pintar, dan Lebak sejahtera kalau masih ada masyarakat yang tinggal di tempat yang tidak layak seperti ini,” tukasnya. (Ali/Red)