Beranda Sosok Dari Cerita Sejarah di Meja Makan Mengantar Enzo Jadi Prajurit TNI

Dari Cerita Sejarah di Meja Makan Mengantar Enzo Jadi Prajurit TNI

4209
0
Siti Hadiati Nahriah

SERANG – Nama Enzo Zenz Allié, taruna Akademi Militer (Akmil) TNI menjadi perbincangan warganet yang ramai beberapa hari ini. Selain memiliki penampilan tampan, darah Prancis yang mengalir dalam tubuh Enzo menjadi keunikan tersendiri karena semangat nasionalisme untuk meniti karir di bidang militer.

Mula-mula alumnus SMA Pesantren Unggul Al Bayan, Anyer, Serang, Banten tersebut sangat terobsesi dengan sejarah. Minat tersebut tumbuh dari Papie Michel atau sang kakek. Meski lahir di Bandung, Jawa Barat pada 27 April 2001, Enzo kecil kemudian mukim di Cherbourg, Prancis bersama kedua orangtuanya yakni Jean Paul François Allié atau Jean Paul François Ibrahim Allié dan Siti Hadiati Nahriah.

BACAEnzo Zenz Allie Calon Siswa Akmil yang Viral Dikenal Tekun dan Ulet

Di sana sang kakek Michel sering bercerita mengenai sejarah peperangan di meja makan. “Kakek Enzo pernah dikirim ke Afrika. Walau dari kalangan sipil beliau sangat paham dengan sejarah. Cerita mengenai Perang Dunia II sangat berkesan buat Enzo. Tradisi kami di Prancis meja makan merupakan tempat bertemu untuk ngobrol dan bercerita tentang apa saja,” kata Siti Hadiati Nahriah saat berbincang dengan BantenNews.co.id di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Cilegon, Rabu (7/8/2019).

Minat terhadap sejarah tersebut kian subur tumbuh dalam diri Enzo kecil. Cerita soal Operasi amfibi atau Operasi Overlord pada Juni 1944 yang dimenangkan sekutu dengan menguasai Normandia dari cengkeraman Nazi sangat berkesan buat Enzo.

“Makanya ketika SMA dia sebenarnya ingin mengambil jurusan IPS karena tertarik sejarah, tapi keluarga menyarankan untuk masuk IPA untuk menunjang karir di tentara,” ujarnya.

Meski sempat gamang dihadapkan dua pilihan yakni atlet dan tentara, Enzo akhirnya menjatuhkan pilihan pada TNI. Di dunia atlet, Enzo memang tidak bisa dianggap remeh. Beberapa gelar pernah ia sabet. Juara 2 renang 50 meter di Popda, Juara 1 lari 400 dan 800 meter di Kejurkab pernah ia raih.

“Dia sangat bertanggung jawab dan komitmen dengan apa yang ia ucapkan. Pilihan terakhir jatuh di TNI. Pembinanya memberi nasihat bahwa karir atlet bisa ditempuh saat menjadi anggota TNI,” tutur sang ibunda.

Meski pernah diberi pandangan bahwa gaji anggota TNI kecil dan risiko menjadi anggota sangat besar, Enzo tak tergoyahkan. “Dia selalu bilang kalau di TNI bukan mau nyari uang atau pangkat. Tapi hanya semata-mata mau mengabdi kepada negara,” ujar sang ibu menirukan jawaban Enzo.

Bahkan ibunya menirukan seloroh Enzo, kalau ia didekati perempuan yang berpikir banyak uang dan jabatan anaknya berkata, “Jangan minta ke aku, aku cuma mau ngabdi ke negara,” ujarnya.

Nasionalisme, diakui oleh Siti Hadiati Nahriah dirasakan di tengah keluarganya. “Bagaimana pun saya tinggal di luar (Prancis) lama. Nasionalisme itu melekat dalam diri dan keluarga saya. Cinta terhadap tanah air melekat dalam diri saya. Saya sempat ditawari kewarganegaraan Prancis. Namun saya dan suami lebih cinta Indonesia. Suami saya pernah bilang setelah pensiun ingin tinggal di Indonesia. Kita jual rumah kita di Prancis,” ujarnya. (You/Red)