Beranda Opini Dampak Gadget pada Perkembangan Skill dan Mental kanak-kanak

Dampak Gadget pada Perkembangan Skill dan Mental kanak-kanak

Ilustrasi - foto istimewa tribunnews.com

Oleh : Ridha WD, Mahasiswi Prodi Sastra Indonesia Universitas Pamulang dan Penulis Buku Kumpulan Cerpen Daun Jatuh pun Tetap Memiliki Makna

Kanak-kanak merupakan masa ketika manusia mampu menerima segala ingatan dengan mudah, selain itu kanak-kanak adalah awal segala pengetahuan yang akan dibawa hingga dewasa. Di masa itu lah seluruh manusia pernah mengalami Golden Age dimana otak akan dengan sangat mudah menerima dan meresapi segala sesuatu yang terlihat dan terdengar, ibarat kertas putih tanpa coretan, kanak-kanak adalah dunia kebenaran, yang polos dan mudah diarahkan.

Saat itu lah peran penting bagi orang tua, seharusnya orang tua menyadari, bahwa di usia lima tahun pertama adalah masa-masa kritis, anak akan sering bertanya, melakukan kenakalan yang wajar sekalipun terkadang membuat ibu dan bapak kerepotan. Tapi di masa ini lah masa yang menjadi basis, landasan, dan fondasi berbagai aspek perkembangan.
Sebetulnya seluruh masa dalam kehidupan manusia merupakan masa yang sama penting.





Tetapi, pengalaman pertama di usia balita merupakan tuntutan yang akan terekam untuk bersikap dikemudian hari. Hal ini disebabkan karena sirkuit emosi terbentuk sejak bayi, di usia lima tahun pertama balita memerlukan macam-macam stimulasi/rangsangan pada otak yang hendaknya diberikan secara kompleks oleh orang tua, mulai dari stimulasi bahasa, hingga gerakan dan sentuhan. Kedekatan antara anak dan orang tua di usia tersebut sangat perlu karena akan memberikan rasa aman pada anak serta tumbuhnya kepercayaan diri pada anak, serta aspek perkembangan lainnya.

Namun di Era digital ini, ketika seluruh pekerjaan, kegiatan, kehidupan kita dimudahkan secara terkoneksi dengan Internet yang bahkan seperti sudah menjadi kebutuhan primer, dan manusia akan dengan senang hati menghabiskan waktu di depan layar smart phone. Disitulah terjadinya kesalahan yang kerap kali dilakukan oleh orang tua, khususnya pasangan muda yang baru memiliki momongan. Merasa kerapotan dengan anak yang terus menangis, terus ingin diajak main, orang tua jaman sekarang yang juga kesehariannya tidak terlepas dengan Gadget kebanyakan memilih cara mudah agar anaknya mau diam, yaitu dengan cara memberikan tontonan atau game dari smart phone dan aplikasi online.

Memang, anak akan terdiam dan merasa senang saat itu, namun sadarkah ayah dan bunda? Bahwa keputusan mu memberikan smart phone di usia dini dapat merusak Skill dan mental si buah hati? Saat itu di masa Golden age nya, bila yang ia lihat dan alami adalah layar gadget yang menayangkan tontonan sekalipun yang di tonton adalah film kartun berpendidikan, ia akan merasa bahwa itu adalah dunia bermainnya, maka anak akan cenderung menyendiri, tidak terbiasa bersosialisasi, dan cenderung emosional.

Hal ini perlu sangat diperhatikan dan jangan sampai gadget merenggut masa golden age si buah hati, karena selain membuat anak menjadi tidak percaya diri dan lemah dalam mental, penggunaan gadget yang berketerusan dapat membuat berkurangnya kreativitas anak, juga akan memperlambat tumbuh kembang otak anak.

Karena Era digital bukan hanya memiliki dampak positif, tapi juga dampak negatif terutama bagi kanak-kanak, peran dan pengawasan orang tua begitu dibutuhkan, jangan rusak masa kanak-kanak yang seharusnya dipenuhi dengan penyampaian ekspresi baik berupa kebahagiaan bermain di luar rumah, ataupun tangis manjanya, itu merupakan momentum yang begitu cepat dan tidak akan terulang hingga ia dewasa nanti. Bersabarlah untuk para ayah dan bunda, jangan biarkan komunikasi dengan si kecil terganggu oleh sebuah benda yang bernama gadget.

Mereka adalah masa depan kita, masa depan negara, masa depan dunia. Ajarkan mereka dengan hal baik, bentuklah selagi mudah, berikan ia perhatian dan kasih sayang serta bimbingan alamiah sesuai dengan dunia kanak-kanak yang mereka butuhkan. Ingatlah ayah dan bunda, “tiada suatu pun pemberian yang paling utama dari orang tua kepada anaknya, selain pendidikan yang baik.”

(***)