Beranda Hukum Cium Bau Busuk di Sukamiskin, Masyarakat  Minta Wawan Dipindah ke Nusakambangan

Cium Bau Busuk di Sukamiskin, Masyarakat  Minta Wawan Dipindah ke Nusakambangan

117
0
Koalisi Masyarakat Sipil Banten menggelar aksi tutup mulut menyikapi OTT Lapas Sukamiskin.

 

SERANG – Sejumlah  penggiat antikorupsi mencium bau busuk korupsi di Lapas Sukamiskin, Bandung. Indikasi ini diperkuat dengan ditangkapnya Kalapas Sukamiskin Wahid Husein oleh KPK karena diduga menerima suap terkait pemberian fasilitas dan izin kepada napi koruptor.

Menyikapi hal tersebut, masyarakat yang mengatasnamakan Koalisi Masyarakat Sipil Banten meminta Tubagus Chaeri Wardana atau Wawan dipindahkan dari Lapas Sukamiskin ke Nusakambangan. Permintaan ini lantaran Wawan diketahui tak ada di dalam selnya saat OTT berlangsung.

Koalisi masyarakat itu terdiri dari Banten Bersih, Tangerang Public Tranparancy Watch (Truth), Madrasah Anti Korupsi Universitas Muhammadiyah Tangerang, Mata Banten, Koalisi Guru, Nalar Pandeglang, IKA Sakti Tangerang, Tangerang Education Care, HMI Unpam dan Himpunan Mahasiswa Banten.

“Kita mencium bau busuk di Sukamiskin. Dan kita tandai hal itu dengan aksi tutup mulut dengan masker,” ujar Jufri, perwakilan dari Truth, di salah satu kafe di Jl Ahmad Yani, Kota Serang, Selasa (24/7/2018).

Mereka meminta Kemenkum HAM menelusuri lebih lanjut atas dugaan sering keluarnya Wawan dari Lapas Sukamiskin. Kepada KPK, mereka juga meminta mempercepat proses tindak pidana pencucian uang yang dilakukan Wawan dan mantan Gubernr Banten Atut Chosiyah.

“Meminta KPK meningkatkan upaya pemberantasan korupsi di Banten dan mengungkap oknum yang terlibat kongkalikong bersama Wawan untuk proyek-proyek di Banten,” kata Gufroni dari Banten Bersih.

Gufroni mengatakan pihaknya mendesak Menkum HAM Yasonna Laoly segera mencopot pengawas lapas di mana Wawan tinggal, sebab ada dugaan Wawan sering keluar-masuk Sukamiskin. Dia juga menduga Wawan masih memiliki pengaruh politik besar dan dapat intervensi birokrat di Banten.

“TCW diduga masih sering mendapatkan kunjungan dari pejabat. Kunjungan tersebut ada tujuan-tujuan tertentu, yang sudah pasti bertentangan dengan kewajaran dan ketika seperti menentukan pejabat serta pengaturan proyek,” katanya.

Terpisah, Wakil Gubernur Banten Andika Hazrumy membantah tuduhan terkait pamannya tersebut. Dia meminta tuduhan yang menyebut pamannya  sering keluar dan mengatur proyek di Banten harus didukung bukti. “Kan harus ada buktinya. Buktinya saya kalau mau ketemu, saya harus membesuk,” katanya. (ink/red)