Beranda Opini Cermat Memanfaatkan Peluang di Tengah Pandemi

Cermat Memanfaatkan Peluang di Tengah Pandemi

798
0
Ilustrasi - foto istimewa detik.com

Oleh : Intan Sari Budhiarjo S.E., M.M, Dosen Prodi Manajemen Universitas Pamulang

Penularan virus corona atau COVID-19 yang berawal dari Kota Wuhan, Povinsi Hubei, Republik Rakyat China ini sangat cepat. Per 2 Juni 2020, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat jumlah pasien positif corona di seluruh dunia mencapai 6.194.533 orang. Bertambah 113.198 orang dibandingkan posisi hari sebelumnya. Kemarin, jumlah pasien positif corona di seluruh dunia naik 2,26% dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 24-29 Mei, persentase kenaikan kasus corona sudah di bawah 2% per hari. Namun pada 30 Mei-2 Juni, persentasenya naik lagi di atas 2% per hari (cnbcindonesia.com, 2020).

Sedangkan di Indonesia, data yang diperoleh per 3 juni 2020 menunjukan pasien positif 28.233, sembuh 8.406, dan meninggal 1.698 (covid19.go.id).
Hal ini memaksa pemerintah di berbagai negara menempuh kebijakan yang cukup ekstrem. Tidak lama berselang setelah ditemukan masuk ke Indonesia, pemerintah pun mencoba melakukan upaya untuk meminimalkan penularan Virus COVID-19 ini dengan menerapkan kebijakan pembatasan fisik (physical distancing) dan juga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Tidak hanya kantor dan sekolah yang diliburkan, restoran, pusat perbelanjaan, sampai tempat wisata pun ditutup sementara. Pemerintah juga mengimbau agar masyarakat bekerja dari rumah atau Work From Home (WFH) yang mana hal tersebut sudah lebih dahulu diterapkan oleh sejumlah perusahaan dan kantor di berbagai wilayah. Masyarakat diminta untuk bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.

Merebaknya virus corona atau Covid-19 memukul berbagai sektor terutama ekonomi. Penerapan kebijakan kebijakan physical distancing dan juga PSBB mengakibatkan berkurangnya kegiatan ekonomi karena pedagang banyak yang memutuskan menutup usaha sementara atau bisnisnya sebab masyarakat yang lebih banyak melakukan aktivitasnya di dalam rumah.

Ambruknya ketahanan ekonomi akibat pandemi ditandai oleh melemahnya sejumlah indikator-indikator ekonomi baik secara makro maupun mikro. Secara makro, data BPS menunjukan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun ini menukik tajam sampai pada level 2,79 persen (yoy). Ini merupakan pertumbuhan ekonomi terendah sejak krisis keuangan Asia.

Sektor investasi hanya tumbuh 1,70 persen di kuartal pertama 2020 (Detiknews, 2020)
Baik pertumbuhan ekonomi maupun investasi di Indonesia sama-sama tengah lesu. Saat ini, inflasi di Indonesia tercatat dengan presentase yang rendah yakni 2,9 persen. Rendahnya inflasi menunjukan rendahnya daya beli masyarakat (Detiknews, 2020).

Penyusutan ekonomi juga bisa terlihat dari jumlah iklan lowongan kerja. BPS mencatat iklan lowongan kerja di berbagai sektor selama Januari-April konsisten mengalami penurunan. Aktivitas ekonomi sedang lesu sehingga dunia usaha sebisa mungkin berhemat apa yang bisa dihemat. Salah satunya adalah biaya gaji pegawai, sehingga rekrutmen karyawan baru menjadi berkurang drastis.

Tidak hanya itu, BPS juga mengungkapkan bahwa pencarian kata ‘kartu prakerja’ mengalami peningkatan. Artinya semakin banyak orang yang tertarik dengan program tersebut karena sudah tidak lagi memiliki penghasilan (cnbcindonesia.com, 2020)
Sejalan dengan data tersebut, sebagian besar perusahaan di Indonesia pun banyak yang telah melakukan pemutusan hubungan kerja terhadap karyawannya. Sektor formal hingga saat ini telah melakukan PHK lebih dari 1,4 juta karyawannya. Sedangkan pada sektor informal merumahkan 314.833 pekerjanya (Detiknews, 2020). Meningkatnya pemutusan hubungan kerja akan menambah pengangguran dan meningkatkan angka kemiskinan di Indonesia.

Lemahnya kemampuan finansial perusahaan berdampak pada turunnya permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja. Menyikapi hal ini, jalan yang tepat adalah merintis usaha pribadi. Beberapa ide usaha yang dapat dilakukan untuk membantu pengusaha atau pedagang agar tetap memiliki penghasilan :

1. Bisnis Makanan

Bisnis yang satu ini cukup menjanjikan untuk dilakukan. Misalnya dengan membuat katering harian, frozen food, makanan ringan atau kopi bisa menjadi solusi untuk mereka yang enggan untuk memasak sendiri di rumah.

2. Layanan jasa kirim paket

Jasa yang satu ini juga tidak kalah menguntungkan. Di tengah imbauan untuk tinggal di rumah, jasa ini akan sangat diperlukan untuk membantu memperoleh kebutuhan anda atau bahkan memperlancar kegiatan bisnis yang dilakukan.

3. Bisnis alat kesehatan.

Sejak virus corona menyerang, permintaan terhadap perlengkapan pelindung kesehatan seperti masker, hand sanitizer, dan disinfektan semakin meningkat. Peluang ini bisa anda manfaatkan untuk menambah sumber penghasilan.

4. Bisnis pembuatan baju santai atau rumah.

Sejak pemerintah mengimbau untuk melakukan WFH, tentunya para pegawai perlu membuat penyesuaian agar tetap dapat bekerja dengan efektif di rumah. Upaya untuk membuat lingkungan kerja yang senyaman mungkin pun dilakukan untuk menunjang kinerja. Tidak jarang bagi mereka menggunakan tshirt atau pakaian santai. Hal ini juga bisa menjadi salah satu peluang yang bisa anda manfaatkan.

(**)