
KAB. SERANG – Air masih betah menggenangi sejumlah sudut Kabupaten Serang. Sejak awal Januari 2026, hujan yang turun nyaris tanpa jeda menjelma banjir berkepanjangan.
Data mencatat, sedikitnya 39.404 jiwa terdampak. Puluhan desa di 27 kecamatan ikut merasakan dampaknya.
Sebagian air memang mulai surut, namun di beberapa desa lain, genangan masih setia membungkus halaman rumah dan jalan kampung.
Banjir tidak hanya merendam dinding rumah dan memaksa warga mengungsi. Di balik air yang menggenang, ancaman lain ikut muncul persoalan kesehatan.
Bagi mereka yang bertahan di rumah atau pengungsian, kondisi tubuh menjadi taruhan di tengah cuaca lembap dan keterbatasan akses.
Menyadari situasi itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang menginstruksikan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk bergerak. Melalui UPT Puskesmas, layanan kesehatan harus tetap hadir, meski bencana belum usai. Instruksi itu bukan sekadar perintah di atas kertas, melainkan panggilan untuk turun langsung ke lapangan.
Di Kecamatan Binuang, panggilan itu dijawab dengan cara sederhana namun penuh makna. Tim kesehatan Puskesmas Binuang memilih menembus banjir. Jalan yang tak lagi bisa dilalui kendaraan bermotor mereka taklukkan dengan sebuah gerobak.
Gerobak itu didorong pelan di atas air keruh setinggi betis. Di atasnya, kotak obat, tensimeter, serta perlengkapan medis lain terikat rapi. Bagi tim kesehatan, gerobak sederhana itu bukan sekadar alat angkut, melainkan tumpuan untuk memastikan warga tetap mendapat layanan kesehatan.
Satu per satu rumah warga mereka datangi. Ada lansia yang mengeluh pusing sejak banjir datang, ada anak-anak dengan ruam di kulit, ada pula ibu-ibu yang menahan batuk berhari-hari.
Di teras rumah yang tergenang, pemeriksaan dilakukan. Lengan disingsingkan, tekanan darah diukur, keluhan dicatat dengan telaten.
Bagi tim Puskesmas Binuang, banjir tak boleh melumpuhkan pelayanan. Selama air masih menggenang dan warga masih membutuhkan bantuan, mereka akan tetap datang meski harus berjalan, mendorong gerobak, atau basah kuyup diterpa hujan.
Di tengah banjir yang belum sepenuhnya pergi, gerobak itu terus bergerak. Membawa obat, membawa perhatian, dan yang terpenting, membawa harapan bagi warga Kabupaten Serang yang masih bertahan di atas air.
Camat Binuang, M. Abror mengaku, dirinya baru merasakan ketegangan ketika melihat para tenaga kesehatan menerjang banjir dengan menggunakan gerobak ke lokasi yang terisolir.
“Baru merasakan seumur hidup, menegangkan. Demi ingin memastikan kondisi dan situasi pasca banjir melihat secara langsung masyarakat Kampung Pule, (Desa) Gembor, yang terisolasi,” kata Abror saat dihubungi BantenNews.co.id, Sabtu (31/1/2026).
“Saya juga melihat tim kesehatan dari Puskesmas Binuang rela menembus genangan air demi memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan melayani warga,” tambahnya.
Abror mengaku, dirinya terus memantau perkambangan banjir, salah satunya berkoordinasi dengan desa-desa di wilayah Binuang.
“Pantauan terus dilakukan. Koordinasi dengan desa dan RT RW, terutama untuk memastikan distribusi bantuan sampai ke warga terdampak,” ucapnya.
Penulis : Tb Moch. Ibnu Rushd
Editor : Gilang Fattah