Beranda Akademi Cara Efektif Melalui Krisis Identitas Saat Usia Pra Dewasa

Cara Efektif Melalui Krisis Identitas Saat Usia Pra Dewasa

Oleh: Ira Syafitri Hutapea, Mahasiswa Teknik Industri Universitas Pamulang

Oleh : Ira Syafitri Hutapea,                                                  Mahasiswa Teknik Industri Universitas                Pamulang

Quarter Life Crisis (QLC) adalah sebuah istilah baru yang berkaitan dengan tahap perkembangan sosioemosional manusia. Kondisi tersebut membuat seseorang  berada pada puncak pendewasaan diri yang memasuki tahap mempertanyakan hidupnya, ragu akan pilihan, bingung atas apa yang dijalani, mulai meninjau masa lalu, apa saja yang telah dilakukan selama hidup, dan mempertanyakan kehidupan seperti apa yang akan dijalaninya di masa depan (Revitasari, 2018).

Krisis identitas bisa menimpa siapa saja di mana saja. Dalam situasi apa pun, krisis identitas selalu berakibat buruk bagi kehidupan seseorang karena merasa kehilangan jati diri. Oleh karena jati diri berperan sangat penting dalam meraih kebahagiaan, maka krisis identitas yang bisa memicu rasa putus asa ini harus diatasi dengan cara yang tepat, karena bisa menimbulkan masalah.

Dilansir dari website tirto.id umumnya, QLC dialami orang pada umur 20-an, baik awal, tengah, maupun akhir dekade ketiga dalam hidup seseorang. Namun, perasaan cemas, bingung, dan sedih yang terdapat dalam krisis memasuki tahap kedewasaan bisa saja berlanjut sampai usia 30-an. Chesbrough (2011) mengatakan bahwa yang dihadapi ketika mengalami krisis identitas adalah masalah terkait mimpi dan harapan, tantangan kepentingan akademis, agama dan spiritualitasnya, serta kehidupan pekerjaan dan karier.

Sebagian anak muda memandang krisis identitas sebagai hal yang menyebalkan dan ingin cepat-cepat mereka lalui. Namun sebenarnya, ada keuntungan yang bisa mereka dapatkan jika krisis ini pernah menghampiri mereka. Atwood dan Scholtz berargumen bahwa perasaan hilang arah atau tak punya pegangan bahkan tujuan hidup, bisa menjadi titik awal seseorang untuk melakukan pencarian jati diri.

Setelah melakukan evaluasi dari situasi yang ada, ia dapat menentukan dengan jujur apa yang sebenarnya ingin dicari, apa yang bisa membahagiakan dirinya sekalipun hal itu berbeda dengan kemauan orang-orang terdekat.

“Anak-anak muda mungkin beralih dari satu relasi ke relasi lain, pekerjaan demi pekerjaan, bukan karena mereka tak mampu berkomitmen, melainkan komitmen mereka berbeda. Mereka berkomitmen justru kepada diri mereka sendiri untuk mencari makna dan tujuan hidup, mengejar kebahagiaan dan kebebasan masing-masing apa pun bentuknya,” tulis Atwood dan Scholtz.

Terkadang, krisis identitas membuat orang ingin terus berlari atau melawan. Namun, semakin jauh atau cepat orang berlari demi keluar dari krisis tersebut, bisa semakin nihil hasilnya. Alternatif tindakan yang bisa dilakukan saat badai QLC menerpa adalah mencoba menerima hidup pada saat ini walaupun belum benar-benar sesuai kehendak seseorang. Itulah yang seharusnya dilakukan kaum muda terkait situasi finansialnya, kaum muda yang lebih banyak mengalah dan bernegosiasi dengan tujuan mencegah keadaan menjadi semakin rumit.

Secara umum, masih banyak kaum muda yang berada pada tahap dewasa awal mengalami QLC, sehingga terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menghadapi krisis psikososial tersebut diantara dengan melibatkan peranan orangtua (Habibie dkk., 2019), menyibukkan diri dengan pekerjaan (Basis, 2014), meningkatkan resilensi (Balzarie & Nawangsih, 2019), mempelajari keterampilan baru (Stapleton, 2012) dan menyadari bahwa hal ini merupakan proses kehidupan yang akan terlewati.

Namun dari kesemuanya itu, sebagai kaum muda yang terpenting adalah kita harus selalu percaya bahwa setiap masalah pasti akan ada solusinya. Oleh sebab itu selalu sempatkanlah untuk beroda dalam setiap ibadah yang kita jalankan, serta menemukan kegiatan positif sebagai solusi pada saat kita merasa jenuh dan lelah atas apa yang sudah kita kerjakan.

(***)