Beranda Kampus Bontot Ikan Payus Domas Naik Kelas, Untirta Kenalkan Teknologi Retort dan Zero...

Bontot Ikan Payus Domas Naik Kelas, Untirta Kenalkan Teknologi Retort dan Zero Waste

Tim pengabdian Untirta dan pelaku UMKM Lidah Punya Rasa di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang

SERANG — Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) mendorong UMKM pengolahan hasil perikanan di Desa Domas, Kecamatan Pontang, Kabupaten Serang, untuk meningkatkan kualitas dan daya saing produk. Tim pengabdian kepada masyarakat Untirta menerapkan teknologi retort dan konsep zero waste dalam pengolahan bontot ikan payus yang diproduksi UMKM Lidah Punya Rasa.

Program tersebut berlangsung pada Rabu, 1 Juli 2026, dengan melibatkan Asmawi Idris selaku ketua UMKM bersama 10 anggota. Kegiatan bertajuk “Penerapan Teknologi Retort dan Konsep Zero Waste pada Produksi Bontot Ikan Payus untuk Mewujudkan UMKM Naik Kelas di Desa Domas” ini menjadi bagian dari Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat.

Program tersebut mendapat pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Tim pengabdian diketuai Dr. Sakinah Haryati, S.Pi., M.Si., bersama anggota Enok Nurhayati, S.E., M.Si., dan Ita Apriani, S.Pi., M.Si.

Tim Untirta juga melibatkan mahasiswa dan pelaku UMKM dalam setiap tahapan kegiatan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk membangun kapasitas mitra agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri dan berkelanjutan.

Atasi Produksi yang Masih Konvensional

Desa Domas memiliki potensi perikanan yang cukup besar, terutama budidaya ikan bandeng dan ikan payus. Potensi tersebut mendorong UMKM Lidah Punya Rasa mengembangkan bontot ikan payus sebagai salah satu produk olahan khas daerah.

Namun, pelaku usaha masih menggunakan peralatan sederhana dalam proses produksi. Kondisi itu membuat kapasitas produksi terbatas dan umur simpan bontot relatif pendek sehingga ruang pemasaran produk ikut terbatas.

Tim pengabdian kemudian melakukan sosialisasi dan koordinasi bersama mitra untuk memetakan persoalan produksi, pemasaran, dan pengelolaan usaha. Dari pemetaan tersebut, tim memperkenalkan teknologi retort dan konsep zero waste sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi sekaligus nilai tambah produk.

Baca Juga :  Menteri ATR/BPN Serahkan Sertifikat Wakaf Student Center Untirta

Terapkan Teknologi Retort

Tim Untirta memberikan pelatihan dan pendampingan penerapan teknologi retort dalam produksi bontot ikan payus. Mitra mempelajari penggunaan peralatan, standar proses produksi, teknik pengemasan dengan retort pouch, serta proses sterilisasi.

Teknologi tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi dan menjaga keamanan pangan. Penggunaan retort juga ditujukan untuk memperpanjang umur simpan bontot sehingga produk dapat dipasarkan ke wilayah yang lebih luas.

Manfaatkan Limbah dengan Konsep Zero Waste

Tim juga mendorong mitra menerapkan konsep zero waste dalam pengolahan ikan payus. Bagian ikan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diarahkan untuk diolah menjadi produk turunan bernilai ekonomi.

Daging ikan tetap menjadi bahan utama bontot, sedangkan bagian lainnya dapat dikembangkan menjadi silase, kolagen, dan stik ikan. Pemanfaatan tersebut diharapkan dapat mengurangi limbah sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan Desa Domas.

Perkuat Kemasan dan Pemasaran

Pendampingan Untirta tidak berhenti pada peningkatan teknologi produksi. Tim juga memberikan pelatihan mengenai pengembangan kemasan, branding, pemasaran digital, dan pengelolaan usaha.

Upaya tersebut bertujuan meningkatkan daya tarik produk sekaligus memperluas jangkauan pemasaran. Mitra juga didorong menyusun strategi usaha yang lebih terarah agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

UMKM Apresiasi Pendampingan Untirta

Ketua UMKM Lidah Punya Rasa, Asmawi Idris, mengapresiasi program pendampingan yang diberikan Untirta. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengetahuan baru yang dapat diterapkan untuk mengembangkan usaha bontot ikan payus.

“Melalui program ini, kami mendapatkan banyak pengetahuan dan pengalaman baru, mulai dari teknologi pengolahan, pemanfaatan limbah, pengembangan produk, hingga strategi pemasaran. Ilmu dan teknologi yang diberikan sangat bermanfaat dan dapat kami terapkan untuk memperkuat serta mengembangkan usaha bontot ikan payus di Desa Domas ke depannya,” ujar Asmawi.

Baca Juga :  Cara Mahasiswa Mengatasi Mata Akibat Terlalu Sering Begadang dan Menatap Layar

Ketua tim pengabdian, Dr. Sakinah Haryati, mengatakan program tersebut menjadi bentuk kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal. Penerapan teknologi retort, konsep zero waste, dan penguatan pemasaran menjadi strategi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing UMKM Lidah Punya Rasa.

Menurut Sakinah, pengembangan produk lokal perlu dibarengi dengan penerapan teknologi dan pengelolaan usaha yang lebih baik. Dengan pendekatan tersebut, UMKM diharapkan mampu tumbuh lebih mandiri, produktif, dan berkelanjutan.

“Bersama membangun potensi lokal, menuju UMKM naik kelas,” demikian semangat yang diusung tim pengabdian Untirta.

Program ini sekaligus memperkuat kontribusi Untirta dalam mengembangkan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal. Melalui dukungan DPPM Kemdiktisaintek, kegiatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sektor pengolahan hasil perikanan sekaligus membuka peluang pengembangan UMKM di Desa Domas. ***