Beranda Berita Premiun Bisakah Pasar Rau Kota Serang Jadi Rapi dan Nyaman untuk Masyarakat?

Bisakah Pasar Rau Kota Serang Jadi Rapi dan Nyaman untuk Masyarakat?

Ilustrasi- (Foto Dibuat Menggunakan AI)

SERANG — Matahari baru menggeliat dari ufuk timur ketika suara palu dan besi mulai bersahut-sahutan di kawasan Blok M hingga Terminal Cangkring, Pasar Induk Rau, Selasa pagi itu. Di antara debu dan serpihan kayu yang beterbangan, satu demi satu lapak pedagang kaki lima (PKL) dibongkar. Beberapa di antaranya roboh dengan sendirinya, seperti menyerah pada waktu yang memang sudah lama jatuh tempo.

Tak sedikit pemiliknya ikut membongkar sendiri, mungkin untuk menjaga harga diri, mungkin juga sebagai bentuk perpisahan yang hening. Salah satunya, Yadi (42), pedagang ayam yang sudah sepuluh tahun menggelar dagangan di atas saluran drainase.

“Libur dulu, Pak,” ujarnya pelan. Tangannya masih menggenggam palu, sementara keringat membasahi pelipis. “Kalau di luar, saya bisa jual 1,5 kuintal ayam per hari. Di atas katanya sepi, sempit, panas. Tapi ya sudah…”

Lapaknya, yang dulunya berdiri gagah di atas parit, kini tinggal rangka besi dan papan tripleks yang berserakan. Ia tak tahu kapan akan kembali berdagang. Tapi yang pasti, ia belum tertarik pindah ke lantai satu pasar yang disiapkan pemerintah. “Nanti kalau ada modal lagi, dan kalau udah rame, baru saya coba,” katanya.

Pembongkaran lapak di kawasan Pasar Induk Rau bukan sekadar penertiban. Ini bagian dari wajah baru Kota Serang yang ingin lebih bersih, lebih tertib, dan lebih tahan banjir. Pemerintah Kota Serang, di bawah arahan langsung Walikota dan Gubernur Banten, melakukan normalisasi aliran Sungai Cibanten, termasuk membongkar bangunan yang berdiri di atas drainase dan bahu jalan.

Kepala Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan Kota Serang, Wahyu Nurjamil, menyebut ada 300 lapak yang dibongkar di tahap pertama. “Ini bukan hanya soal melanggar Perda, tapi juga membahayakan. Ada yang berdiri di atas pipa gas,” katanya, Rabu (30/7/2025), sehari setelah pembongkaran.

Baca Juga :  Kolaborasi Multi Pihak dari Produksi Ke Konsumsi Menuju Praktik Sawit Berkelanjutan

Tahap kedua akan menyasar 100 lapak lainnya di area Cinanggung dan sekitar pipa gas. Wahyu menyebut relokasi bukan asal tempat. “Kami sudah siapkan lantai satu dan rooftop. Sudah dicek langsung oleh Pak Walikota. Aksesnya lewat Terminal Cangkring. Grosir akan naik ke atas,” tuturnya.

Namun, di balik perencanaan rapi dan dalih legalitas, wajah-wajah lelah para pedagang tetap bicara dengan bahasa yang lebih jujur.

Siti (50), pedagang nasi yang lapaknya ikut diratakan, masih terlihat menahan isak ketika berbicara. “Bingung aja, sedih sih. Dari dulu saya di situ. Kalau dipindah ke dalam, belum tentu ada pembeli,” katanya sambil mengemasi wajan dan termos yang masih hangat.

Siti dan ratusan pedagang lain menerima dua pilihan dari pemerintah: pindah ke dalam atau tidak berjualan sama sekali. Tak ada kompromi. “Kami paham ada penolakan, tapi pendekatan persuasif tetap kami lakukan,” ujar Wahyu. “Namun aturan harus ditegakkan.”

Pemerintah tak ingin area lingkar luar Pasar Rau kembali dipadati pedagang. Penjagaan dilakukan tiap hari oleh gabungan Satpol PP, TNI, Polri, dan Dishub. “Kami pastikan tidak ada yang kembali berjualan di situ,” kata Wahyu.

Meski menyesakkan bagi sebagian, langkah ini disambut riang oleh warga sekitar. Di RW 18 dan RW 21 Rau Timur, pembongkaran kios dan lapak disambut dengan aksi dukungan.

“Kami jadi korban. Tiap hujan, banjir. Karena saluran mampet, dipenuhi sampah dan bangunan liar,” kata Muhamad Yusuf, Ketua RT 01 RW 18. “Kami ingin lingkungan bersih dan bebas banjir. Ini langkah bagus.”

Di lorong-lorong yang baru dibersihkan, aliran air mulai terlihat jernih mengalir ke Sungai Cibanten. Seakan kota ini, perlahan, mulai bernapas kembali.

Baca Juga :  Pasar Rau Bisa Menjadi Motor Penggerak Pertumbuhan Ekonomi di Banten

Namun perubahan, tak pernah datang tanpa luka. Apalagi bagi mereka yang menggantungkan hidup dari kaki lima. Sebagian dari mereka mungkin akan kembali berjualan di tempat baru, sebagian lain mungkin terseret arus perubahan dan tersisih dari pusaran ekonomi.

Yadi dan Siti, seperti puluhan pedagang lain, kini menunggu: apakah relokasi akan menghidupkan kembali roda dagangan mereka atau justru menyisakan kenangan pahit tentang lapak-lapak yang pernah mereka dirikan sendiri.

Mereka adalah wajah-wajah dari sebuah kota yang sedang berbenah—dan seperti biasa, pembenahan selalu lebih rumit dari sekadar membongkar kios. Ia menyisakan pertanyaan: apakah kota bisa berubah tanpa menyisakan korban?

Dan pagi itu, di antara tiang-tiang baja dan palu-palu yang bergema, suara itu tetap menggantung, menunggu jawaban.

Penulis: Usman Temposo
Editor: Wahyudin