Beranda Bisnis Bijak Belanja saat Bulan Puasa: Antara Kebutuhan dan Godaan Diskon

Bijak Belanja saat Bulan Puasa: Antara Kebutuhan dan Godaan Diskon

Ilustrasi diskon belanja

RAMADAN selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Selain nuansa spiritual yang kental, bulan suci juga identik dengan meningkatnya aktivitas belanja. Mulai dari kebutuhan sahur dan berbuka, persiapan Lebaran, hingga berburu promo besar-besaran yang membanjiri pusat perbelanjaan dan marketplace. Diskon “Ramadan Sale”, flash sale tengah malam, hingga promo beli satu gratis satu seakan sulit ditolak. Di sinilah tantangannya: bagaimana tetap bijak berbelanja di tengah godaan yang begitu menggoda?

Secara psikologis, Ramadan memang kerap memicu dorongan konsumtif. Ada keinginan menyajikan hidangan terbaik untuk keluarga, tampil maksimal saat Hari Raya, hingga menjaga gengsi sosial. Ditambah lagi, algoritma media sosial dan e-commerce bekerja tanpa henti menampilkan iklan yang relevan dengan pencarian kita. Tanpa disadari, barang yang semula tidak ada dalam daftar kebutuhan tiba-tiba terasa penting.

Padahal, esensi Ramadan justru mengajarkan pengendalian diri. Jika kita mampu menahan lapar dan dahaga selama lebih dari 12 jam, semestinya kita juga mampu menahan dorongan belanja impulsif. Kuncinya ada pada perencanaan. Membuat daftar kebutuhan sejak awal Ramadan dapat membantu memilah mana yang benar-benar diperlukan dan mana yang sekadar keinginan sesaat. Daftar ini juga mencegah pembelian ganda atau barang yang akhirnya tidak terpakai.

Mengatur anggaran khusus Ramadan juga menjadi langkah penting. Pisahkan pos belanja harian, kebutuhan Lebaran, zakat dan sedekah, serta dana darurat. Dengan pembagian yang jelas, kita tidak mudah tergoda menghabiskan dana hanya karena diskon terlihat besar. Perlu diingat, potongan harga 50 persen tetaplah pengeluaran 50 persen jika barang tersebut sebenarnya tidak dibutuhkan.

Selain itu, biasakan membandingkan harga sebelum membeli. Jangan terpancing label “promo terbatas” tanpa mengecek harga normalnya. Banyak toko menaikkan harga sebelum memberi potongan agar terlihat lebih murah. Belanja secara sadar (mindful spending) berarti memberi jeda sebelum menekan tombol checkout. Tanyakan pada diri sendiri: apakah barang ini benar-benar saya butuhkan? Apakah akan digunakan dalam jangka panjang?

Baca Juga :  Tuan Rumah Usul Pembahasan Ekonomi Syariah di Pertemuan Tahunan IMF - WB

Ramadan juga seharusnya menjadi momentum memperkuat empati sosial. Alih-alih menghabiskan anggaran untuk hal konsumtif, sebagian dana bisa dialihkan untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan. Sensasi membeli barang baru mungkin hanya bertahan sesaat, tetapi kebahagiaan berbagi sering kali jauh lebih lama terasa.

Menjelang Idulfitri, intensitas godaan biasanya semakin tinggi. Iklan busana Lebaran, hampers eksklusif, hingga pernak-pernik dekorasi rumah bermunculan di mana-mana. Tidak ada yang salah dengan mempersiapkan Hari Raya sebaik mungkin. Namun, bijak berarti tetap proporsional—tidak berlebihan dan tidak memaksakan diri demi gengsi.

Tim Redaksi