Beranda Pendidikan Berakar Tradisi dalam Membangun Negeri

Berakar Tradisi dalam Membangun Negeri

Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kota Serang melakukan studi banding ke Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung, Provinsi Bali, 19-21 September 2018. Kunjungan ini juga dilanjutkan dengan dialog kebudayaan dengan tema ‘Pelestarian Nilai-nilai Budaya’.

Kepala Dindikbud Kota Serang, Akhmad Zubaidillah mengatakan bahwa kegiatan ini mengajak seniman, budayawan, akademisi, dan praktisi seni yang selama ini telah menjadi mitra dinas dalam pemajuan kebudayaan di Kota Serang.

Kota Badung dipilih lantaran dianggap sebagai daerah yang sangat berhasil dalam mempertahankan tradisi, adat, dan nilai-nilai budaya sehingga memberikan manfaat bagi pembangunan daerah. Kabupaten Badung sebagai salah satu daerah dengan pendapatan tertinggi di bidang pariwisata yang berlandaskan nilai tradisi dan budaya masyarakatnya.





“Kabupaten Badung sudah go international sementara Kota Serang merupakan daerah yang baru terbentuk. Kita tidak salah untuk belajar kebijakan di Kabupaten Badung dalam pemajuan kebudayaan,” ujarnya, Kamis (20/9/2018).

Ida Bagus Anom Bhasma, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung menyatakan bahwa pemajuan kebudayaan di Kabupaten Badung berangkat dari semangat Trisakti Bung Karno yakni berkepribadian secara sosial budaya. “Kebudayaan menjadi pondasi pembangunan di Kabupaten Badung. Selain pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur, kebudayaan merupakan prioritas di Kabupaten Badung,” ujarnya.

Kepala Dindikbud Kota Serang Akhmad Zubaidillah menerima cinderamata dari Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Badung Ida Bagus Anom Bhasma. (qizink/bantennews)

Saat ini APBD Kabupaten Badung sebesar Rp7,8 Triliun. Sebanyak 20 persennya dialokasikan untuk pendidikan. Siswa baru tingkat SD di daerah ini mendapat bantuan perlengkapan sekolah dari pemerintah daerah. Bagi siswa kelas 5-6 SD mendapat laptop.

“SMA/SMK sekarang menjadi kewenangan Pemprov Bali namun Pemkab Badung membangun sekolah SMA/SMK. Bangunan dan lahan selanjutnya dihibahkan ke Pemprov Bali. Kami juga menghibahkan 15 persen pendapatan daerah untuk kabupaten/kota lain di Bali. Ini sebagai upaya kerja sama atau sinergi kami dengan kabupaten/kota lain,” ujarnya seraya menyebutkan sebagian besar pendapatan daerah di Kabupaten Badung adalah pariwisata.

Untuk memotivasi para seniman dan budayawan, Kabupaten Badung menggelontorkan bantuan Rp50 juta untuk sekitar 650 sanggar yang ada. Selain bantuan keuangan juga bantuan peralatan. Para seniman juga diikutsertakan promosi ke luar negeri. Beragam penghargaan juga diberikan kepada para tokoh seni berupa lencana emas 7 gram, sertifikat, dan uang.

Dikatakan, kesenian dan kebudayaan di Badung tetap berjalan karena itu merupakan bagian dari ritual keagamaan. Kebudayaan dan kesenian telah menjadi roh bagi masyarakat.

“Ada atau tidak ada tamu, tarian, ritual ngaben, upacara adat, gong, tetap ada karena itu merupakan bagian dari ritual ibadah masyarakat. Pemkab Badung berkomitmen sangat tinggi dalam pemajuan kebudayaan,” ujarnya.

Evi Sofiyah, Kabid Kebudayaan Dindikbud Kota Serang menyatakan bahwa dari kunjungan ini diharapkan kebudayaan di Kota Serang mengalami kemajuan. Untuk peningkatan kebudayaan ini Dindikbud menggandeng seniman, budayawan, praktisi, akademisi, melalui Forum Kebudayaan Kota Serang.

“Selama ini FKKS sudah banyak memberi masukan dan kerja sama dengan Dindikbud. Ke depan kami juga akan tetap bermitra dengan seniman budaywan untuk pemajuan kebudayaan,” ujarnya.

Rombongan Dialog Kebudayaan Kota Serang di Desa Panglipuran, Kabupaten Bangli. (qizink/bantennews)

Kunjungan ini juga dimanfaatkan rombongan untuk melihat langsung bagaimana masyarakat di Bali mempertahankan adat istiadatnya. Salah satu daerah yang dituju adalah Desa Panglipuran di Kabupaten Bangli. Perkampungan yang telah menjadi salah satu destinasi wisata ini merupakan daerah yang penduduknya masih menjaga ketat aturan adat istiadat. Arsitektur dan tata ruang bangunan rumah di desa ini masih terjaga dengan baik. Warganya pun masih berpegang aturan adat. Di bidang kebersihan, desa ini bukan hanya mendapat Kalpataru tapi juga ditetapkan oleh PBB sebagai salah satu daerah terbersih di dunia.

Selain itu rombongan juga menyempatkan diri untuk melihat pemda setempat dalam mengelola potensi alam dan adat istiadat di Tanah Lot.

Yadi Ahyadi, peneliti Bantenologi dalam dialog kebudayaan menyatakan bahwa Kabupaten Badung merupakan salah satu daerah yang membangun daerahnya dengan berpijak pada akar budaya dan tradisi yang sudah ada di masyarakatnya.

Kota Serang memiliki akar tradisi yang kuat. Sayangnya saat ini akar budaya itu sudah banyak yang ditinggalkan masyarakat. Menurutnya, akar budaya ini semestinya menjadi landasan bagi pembangunan daerah agar visi misi pembangunan menjadi terarah. Dikatakan, dalam Babad Banten disebutkan ‘Gawe Kuta Baluwarti Bata Kalawan Kawis’ yang secara tekstual artinya membangun kota dan benteng dengan bata dan karang.

“Namun makna mendalamnya adalah bahwa karang sebagai pondasi merupakan sesuatu yang alamiah yakni budaya lokal sementara batu merupakan teknologi hasil cipta manusia,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dr Helmy Faizi Bahrul Ulumi, Direktur Bantenologi. Namun ia menambahkan, bahwa pemajuan kebudayaan harus dilakukan secara bersama-sama. “Pemajuan kebudayaan harus dilakukan oleh seluruh pemangku kepentingan,” ujarnya. (ink/red)